Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENJAWAB PANDEMIK, BERZIARAH MAKAM (WALI) DAN TIRAKAT MASYARAKAT DESA

oleh : Imam Sarozi

 

Social Distancing atau mengambil jarak saat berada di satu tempat dengan orang lain terutama di ruang publik. Akibat ulah Covid-19 membawa angin segar untuk kaum Jomblowers se-alam semesta. Di untungkan dengan kondisi tersebut tidak akan meratapi kesediriannya seorang diri.

Mereka tak perlu lagi membuat status-status “Ngenes” ketika malam minggu. Tak perlu lagi berdoa hingga berdarah-darah meminta hujan untuk mengusik teman-teman seangkatan yang sedang asyik pacaran.

Social Distancing mengurangi tingkat kemesraan para Abege yang beranjak puber memadu kasih. Dan yang paling di untungkan adalah para jomblo yang sudah terlanjur tak punya teman chattingan. Seharusnya itu bisa mengurangi tingkat kekerasan terhadap perempuan di dalam keluarga. Di kutip dari Satuharapan.com meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan menjadi tren global selama krisis pandemi virus corona baru. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah memperingatkan tentang “lonjakan global yang mengerikan” ini dan mendesak pemerintah untuk meningkatkan upaya untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. Nah, loh. Permasalahan baru timbul tanpa terasa.

Tagar #dirumahaja menjadi viral. Dengan dukungan berjuta-juta jomblo yang terhimpun dalam satu tekad sependeritaan. Karena baru ini kebijakan pemerintah senada dengan nasib mereka. Semakin Hotnya tagar ini di dukung oleh para pengangguran yang senantiasa berselancar di dunia maya.

But, Tujuan Social Distancing memberi batasan agar tidak terjadi penyebar virus corona di ruang publik secara besar. Dengan di berlakukannya sekolah online, bimbingan skripsi online, apapun serba online. Bahkan sidang kasus korupsi, pelecehan, dll. Bahkan di tengah beribadah di bulan Ramadhan semuanya serba protokoler. Berdampak sepinya masjid, mushola, serta majlis ilmu di hampir seluruh bumi pertiwi ini.

Dalam babad tanah Jawi (edisi Meinsma), hal. 176. Tentang aksi-aksi ngraman (pemberontakan). Di katakan: “Seorang tokoh yang memberontak (ngraman) terhadap kraton dimulai dari ziarah makam dan tirakat yang di sebut ndedagan.”

Di tengah pandemik, aktifitas sosial menjadi terbatas. Namun solusi yang di tawarkan di babad tanah Jawi   mungkin saja bisa menjadi refleksi sekaligus solusi yang bisa kita tempuh di tengah kondisi saat ini. Memberontak dari kondisi pelik yang mencekik ini.

Berziarah ke makam selain dari bentuk rutinitas amaliyah kaum Nahdliyin di Indonesia. Juga seharusnya hakikat dari ziarah makam senantiasa mengingatkan kita dalam berbagai hal. Di antaranya: Bersikap positif thingking dan selalu optimis. Semua yang hidup akan menemui kematian karena semua udah di takdirkan Tuhan. Hal itu menjadi daya spirit memandang wabah virus ini sebagai bentuk ujian yang harus di lewati tanpa harus takut dan menakuti diri sendiri serta sekitar. Bentuk usaha penerapan protokoler yang di tetapkan pemerintah menjadi bentuk ikhtyar. 

Selanjutnya adalah tirakat. Ada banyak media untuk kita bertirakat. Dulu kita mengenal istilah topo, suluk, uzlah, kholwat, meditasi dsb. Atau bisa juga dengan dzikir (Hizb, sholawat dll), tawajuh, riyadhoh, berpuasa, zakat, dan hal ibadah lainnya yang cara faidah bisa menolak, atau meredam wabah ini.

“Salah satu hal paling melelahkan di dunia ini. saat kita ingin melepaskan sesuatu. Namun, ia tetap saja mengejar kita” (Boy Candra).

Berat banget, mungkin itu yang kita rasakan bersama. Dengan kondisi yang serba menyulitkan ini. Ekonomi terjadi huru-hara. Pendidikan gonjang-ganjing. Kebijakan pemerintah masih saja mengalami pembaruan dengan kondisi yang ada. Di tambah parahnya kondisi jagat per-medso-an yang ada kita dituntut secara pribadi sadar betul bagaimana dan apa yang harus kita lakukan.