Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

STRATEGI MEMBANGUN PEMUDA UNTUK INDONESIA EMAS 2025

Oleh

SITI FATKHIYATUL JANNAH

Alumnus Pascasarjana UI, Pegiat Muslimat Millennial

Pengantar

Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum.

Sebagai sebuah kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggungjawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan kemudahan akses informasi.

Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

Bangkitnya Pemuda Indonesia

Peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, pergerakan pemuda, pelajar, dan mahasiswa tahun 1966, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi. Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa pemuda selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa.

Peristiwa Sumpah Pemuda dapat dijadikan sebagai awal dari lahirnya sikap nasionalis para pemuda di masa itu. Padahal seperti yang kita ketahui Republik Indonesia sendiri belum lahir, akan tetapi para pemuda di masa itu telah mampu membangunkan kesadaran dalam dirinya akan adanya rasa persaudaraan dengan sesama rakyat di daerah lain, terutama rakyat yang tertindas oleh kekejaman penjajah.

Kita sering mendengar ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Itulah yang diungkapkan oleh Ir. Soekarno untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan karena perjuangan mereka yang tanpa pamrih dan selalu berpijak pada kepentingan bangsa dan negara Indonesia demi mencapai satu kata “kemerdekaan”.

Untuk itu, dalam upaya mewujudkan cita-cita para pendahulu dan mempertahankan kedaulatan bangsa kini tentu faktor utama yang dijadikan landasan adalah rasa nasionalis setiap generasi muda Indonesia. Tanpa hal tersebut mustahil bangsa yang besar ini dapat menuju kearah cita-cita yang telah dimimpikan dan sangat diharapkan para pemuda pencetus kesatuan dan persatuan.

2025; Pemuda menjadi Kunci Kemajuan

Indonesia pada tahun 2025 yang akan datang disebut sebagai tahun emasnya, dengan ditandai jumlah penduduk mudanya tinggi. Dari data BPS yang ada saat ini dapat diprediksi tahun 2025 jumlah penduduk usia muda dalam masa produktif akan mencapai jumlah tertinggi. Saat itu seharusnya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih produktif sehingga Indonesia Emas bukan sekedar jargon belaka.

Pemuda sebagai faktor penggerak dalam pembangunan disebut juga sebagai aset dalam melaksanakannya.Potensi pemuda sebagai aset tidak begitu saja muncul dengan sendirinya. Diperlukan usaha untuk mengubah potensi pemuda ini menjadi aset dalam pembangunan.

Usaha mengubah potensi pemuda menjadi aset tentu merupakan tugas bersama semua komponen bangsa, utamanya adalah pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Salah mengelola potensi anak-anak muda ini akan menjadi hal yang negatif. Kesalahan dalam pengelolaan potensi pemuda akan menjadi sebuah beban dan masalah dalam pembangunan.

Pemuda yang menjadi aset pembangunan adalah mereka yang selalu mengerjakan hal-hal positif dalam kehidupan mereka. Pemuda yang akan menjadi beban, terlibat kegiatan-kegiatan negatif seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, sex bebas dan hal negatif lainnya (Irawanto, 2006:2).

Pemuda merupakan dua sisi mata uang dalam konteks sebagai asset sekaligus beban pembangunan. Jika pemerintah lalai dalam memikirkan pengelolaan potensi pemuda yang dimilikinya saat ini, niscaya ‘Indonesia Emas 2025’ akan tetap menjadi jargon (Sumodiningrat dan Nugroho, 2005:181). Potensi yang besar itu berbanding sejajar dengan dampak yang akan ditimbulkanya. Pemerintah telah sejak lama mencoba mengelola potensi pemuda ini dengan banyak kebijakan.

Dalam kajian ketahanan nasional, ketahanan wilayah merupakan turunan yang lebih mikro, yakni kajian ketahanan dalam skala daerah bukan nasional. Ketahanan nasional sendiri merupakan sebuah keadaan makro kekuatan Indonesia untuk menangkal ancaman yang datang baik dalam maupun luar. Maka ketahanan wilayah mereduksi nasional menjadi wilayah, atau nasional menjadi daerah (Sunardi, 2004: 12).

Strategi Membangun Pemuda

Ketahanan wilayah mencakup cakupan kecil sebuah daerah menangkal ancaman baik dari dalam maupun luar. Menangkal dalam artian menghadapi dan mengatasi segala hambatan dan tantangan, baik yang terberi seperti sumber daya alam, letak geografi, demografi dan segala hal yang merupakan pemberian dari Tuhan.

Selain itu juga hal-hal yang tercipta semisal kondisi politik, sosial, serta budaya. Kedua faktor tersebut harus diharmoniskan agar bisa menjadi sebuah potensi sehingga mampu mencapai angka kuat dalam kategorisasi nilai ketahanan wilayah suatu daerah.

Ada beberapa Strategi pembangunan pemuda Indonesia dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan dewasa ini yang sedang berkembang sekaligus menyiapkan pemuda di Indonesia Emas 2025. Jika hal ini tidak dipersiapkan maka akan menjadi beban negara yang sangat merugikan bangsa ini sendiri.

Beberapa strategi itu yang bisa dilakukan adalah dengan cara:

Pertama, Membangun moral dan budi pekerti luhur dan suci, terutama meningkatkan kemampuan dan pemahaman pada akhlak dan wawasan keagamaan sesuai dengan kepercayaannya.

Kedua, Membangun sarana prasarana fisik dan non-fisik dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Dengan melakukan pemerataan kepentingan maka tidak ada yang akan dirugikan dalam proses pertumbuhan dan pembangunan.

Ketiga, Membangun sumber daya manusia dengan keteladanan, solidaritas, gotong royong, sopan santun, ramah tamah, saling menghormati, dan saling menghargai, dan memelihara kepekaan sosial. Semua tradisi dan perilaku yang mencerminkan budaya bangsa Indonesia ini harus senantiasa diajarkan dan dibudayakan. Sehingga generasi muda akan menjadi lebih mampu dalam menunjukkan identitasnya sebagai Indonesia.

Keempat, Membangun semangat juang dan cinta tanah air, yang bisa dibentuk dengan banyak cara. Termasuk mengajarkan kebesaran Indonesia dan sejarah pembangunan Indonesia.

Kelima, Membangun future mapping sebagai blue print for nation character building. Wujud dari pada pembangunan generasi muda Indonesia dalam konteks ini adalah: (a) pemberdayaan pemuda untuk membangkitkan potensi pemuda untuk berperan serta dalam pembangunan. (2) Pengembangan pemuda untuk menumbuhkembangkan potensi manajerial, kewirausahaan dan kepeloporan pemuda, dan (3) perlindungan pemuda menolong pemuda dalam menghadapi demoralisasi, degradasi nasionalisme, tindakan destruktif, regenerasi dan perlindungan hak dan kewajiban pemuda.

Penutup

Akhirnya, diharapkan di masa depan akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa dari generasi muda yang berwawasan kebangsaan dan cinta tanah air yaitu pemuda yang memiliki sikap, intelektualitas dan perilaku yang luhur yang tetap akan bangga sebagai warga negara Indonesia dan bisa berkontribusi positif dengan pembangunan Indonesia.

Jika strategi ini dilakukan maka tidak menutup kemungkinan Indonesia Emas 2025 tidak saja menjadi jargon omong kosong, namun menjadi impian yang bergerak maju disertai kenyataan yang siap untuk dihadapinya.