Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TEMPAT IMAJINASI

Oleh :

Tutiyani Tasman

Cerpenis Muda Kitasama Tuban

 

Aku adalah petualang yang tangguh. Aku adalah penggembara yang tidak kenal mengeluh. Lautan, gunung, bahkan dunia lain yang masih menjadi teka-teki sudah aku kunjungi. Menyenangkan sekali pergi ke tempat-tempat itu. Tempat yang belum pernah dijamah oleh manusia lain selain diriku. Tempat yang tidak pernah menyisakan kesedihan atau kepayahan. Mereka, tempat-tempat itu selalu menjadi tujuan yang tidak pernah memberikan bekas luka. Mereka adalah tempat-tempat dalam imajinasiku.

Aku begitu menikmati petualanganku. Aku bertemu dengan banyak orang yang selalu baik padaku. Aku mengunjungi tempat-tempat yang damai. Danau yang luas, dengan sampan kecil aku membuat suara gemercik air.

Imajinasi ini terus mengantarkanku pada mimpi yang semakin jauh. Semakin tak tersentuh. Aku berjalan berpetualang semakin jauh pada dunia mimpi. Dunia mimpi yang hanya aku seorang ketahui. Saking jauhnya melangkah, aku lupa jalan untuk kembali.

Aku terus bermimpi. Memacu imajinasi yang tidak boleh berhenti. Lagipula matahari belum menampakan diri. Dunia masih dalam rengkuhan gelapnya malam. Ah, mimpiku masih panjang bukan?

Aku abai. Aku terlalu menuruti mimpi yang belum bisa berhenti. Aku lupa bahwa semua perjalanan menyenangkan itu hanyalah gambaran ilusi. Tempat-tempat indah itu, orang-orang yang selalu berpihak padaku. Dan kau. Mereka semua semu.

Aku tertidur terlalu lama. Hingga membiarkan imajinasiku membara kemana-mana. Berkelana di alam mimpi yang menawarkan sejuta warna. Aku lupa bahwa malam hanya berlalu tidak kurang dari dua belas jam. Sedangkan aku tertidur hampir seperempat abad. Aku selalu berprasangka bahwa matahari masih lupa menunjukan muka. Ah ternyata bahkan musim sudah berganti untuk kesekian kalinya. Matahari, ternyata ia selalu memunculkan diri, menyapa dunia.

Aku tidak tahu seberapa lama lagi umur ini akan melekat. Yang pasti selama ini sudah banyak yang terbengkalai. Aku terlalu asik pada imajinasi di dunia mimpiku. Sampai aku lupa, dalam dunia nyata hidup begitu perlu ditata dengan seksama.

Sedikit sekali ternyata yang baru aku lakukan pada duniaku yang sebenarnya. Masih banyak yang belum terlaksana. Aku sampai bertanya-tanya pada apa yang sudah aku lakukan. Apa yang sudah aku berikan untuk Tuhanku, untuk agamaku, untuk negeriku, untuk keluargaku, untuk teman-temanku, untuk lingkunganku, untuk diriku. Aku bahkan tidak punya sedikitpun kebanggan untuk diriku sendiri nikmati.

Begtiu banyak yang berantakan. Sampai aku bingung mana yang harus aku tata lebih dulu. Yang ini itu, semuanya berserakan. Lalu aku harus bagaimana sekarang? Semuanya sudah kadung hancur tak tertata.

Ah ya, aku tahu mana yang harus kumulai terlebih dahulu. Aku harus bangun dulu dari tidur panjangku. Aku harus menghentikan sejenak perjalanan imajinasi pada dunia mimpiku.

Sabtu ini, aku akhirnya terbangun dari tidur panjang itu. Sabtu pagi ini akhirnya aku bisa menyaksikan matahari. Hangat. Ternyata dunia nyata tidak sebegitu indah seperti pada mimpiku. Tapi inilah yang seharusnya dijalani, realita kehidupan. Ada yang pahit ada yang manis. Tidak masalah. Biar kukombinasikan keduanya, menjadi secangkir kopi yang pas. Kopi hangat di Hari Sabtu pagi. Aromanya membantu membuka kembali pikiranku. Perbaduan pahit dan manisnya mampu menembus hati yang sempat membeku. Kini aku siap menata kehidupan yang sesungguhnya.