Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

5 (LIMA) PERISTIWA PENYULUT AWAL RENAISANS EROPA

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Peneliti Sejarah Eropa-Arab, Alumnus Pascasarjana Filsafat Agama UINSA Surabaya

Renaisans Eropa tidak bergerak dalam ruang kosong, hal itu jelas. Banyak hal yang mempengaruhinya, lalu memberikan dorongan, dan membangkitkan semangat, sehingga menghasilkan renungan dan kesadaran bersama bangsa Eropa. Dorongan tersebut banyak ditimbulkan oleh faktor luar, bukan dari diri bangsa Eropa sendiri. Terutama interaksinya dengan peradaban Islam dan beberapa peristiwa, peperangan yang sempat meruntuhkan mental bangsa Eropa dengan kerajaan Islam. Alih-alih mengalami traumatis yang membuat mental lemah, interaksi tersebut membangkitkan minat yang dalam atas upaya pengejaran ketertinggalan bangsa Eropa atas Peradaban Islam.

Setidaknya ada lima peristiwa penting, menurut hemat penulis, interaksi bangsa Eropa dengan budaya Islam yang menjadi cambuk awal bangsa Eropa mampu melakukan Renaisans. Dan karena interaksi inilah di kemudian hari bangsa Eropa telah siap untuk mengadakan pencerahan dan reformasi dalam segala bidang pengetahuan, terutama filsafat. Tanpa adanya interaksi ini, tentu saja Eropa tidak akan pernah mengenal renaisans, dan tentunya akan terus tenggelam dalam kegelapan.

  1. Pengaruh Andalusia dan Adeelard dari Bath 1109 M.

Perang Salib pertama dan kemenangan bangsa Frank atas pasukan Turki Seljuk menjadi jalan yang mulus bagi orang Eropa untuk berdatangan secara berbondong-bondong ke Timur. Terlepasnya Jerussalem pada 1099 M. dan terbentuknya kerajaan Latin timur (outremer) semakin memperkuat hegemoni Kristen Barat atas pesisir Mediterania wilayah Muslim. Hal ini tidak saja mendatangkan kemakmuran bagi bangsawan miskin dan terbuang di tanah Eropa, namun juga memberikan kesempatan bagi para pendeta dan pelajar religius untuk belajar dan menikmati berbagai pengetahuan berbahasa Arab. Tidak hanya itu, para peziarah perang salib yang menetap pada gilirannya menjadi masyarakat “pribumi” yang tercerabut dari agar budaya barbar bangsa Eropa. Mereka memiliki budaya beradab khas Arab, menggunakan bahasa campuran yang lebih banyak didominasi dengan bahasa Arab, dan mulai memakai pakaian dan cara hidup orang-orang Arab. Sebagaimana yang diceritakan oleh Fulcher dari Chartres dengan antusias,

Kami telah menjadi orang Timur. Orang-orang Italia dan Perancis di hari kemarin telah mengalami transpalasi budaya dan menjadi manusia Galilea dan Palestina. Orang-orang di Rheims atau Chartres berubah menjadi penduduk Tirus dan penduduk Antiokhia. Kami telah melupakan negeri kelahiran kami. Siapa yang kini mengingatnya? Orang-orang tidak membicarakannya lagi. Di sini, seorang lelaki memiliki rumah dan pelayan sendiri dengan kepastian seakan itu hak abadi dari warisan negeri ini. yang telah telah beristri bukan dengan penduduk desanya sendiri, tetapi dengan seorang perepuan Suriah atau Armenia, kadang dengan seorang Saracen yang telah dibaptis, dan kemudian hidup bersama dalam satu keluarga baru. Kami menggunakan bahasa yang beragam dari negeri ini. Para pribumi maupun para penduduk baru menjadi pandai menggunakan beragam bahasa dan rasa saling percaya menyatukan ras-ras yang amat terpisah ini ….  Para penduduk baru itu kini nyaris menjadi pribumi dan kaum imigran menjadi satu dengan penduduk asli.[1]

Adalah Adeelard dari Bath, Inggris, pelajar pertema Eropa yang memiliki minat kuat atas khazanah intelektual Islam. Berbeda dengan para pelajar kristen di zamannya yang lebih terjebak dengan dogmatisme dan kejumudan atas doktrin-doktrin katolik serta fantasi City of God. Sebagai calon pendeta, Adeelard menunjukkan minat kuat atas ilmu pengetahuan, dan ini disadari hanya bisa diperoleh di negeri Timur. Oleh karena itulah, pada tahun 1100 M. pertama-tama Adeelard meninggalkan Bath untuk mengikuti sekolah katedral di Tours, Perancis. Lalu tahun 1109 M. Adeelard pergi ke Timur untuk belajar bahasa Arab. Selama mempelajari bahasa Arab ini Adeelard tidak hanya mendapatkan sastra dan humaniora, namun kebudayaan dan tradisi intelektual yang berkembng di tanah Arab. Termasuk di dalamnya adalah geometri, astronomi, astrologi, kimia dan bidang lainnya. Selama petualangannya di Timur, dan tentunya perjalanannya selama di wilayah Outremer, Adeelard banyak melihat bagaimana kemegahan kota-kota Islam. Apa yang dilihatnya menjadi bahan cerita yang menarik di tanah Eropa pertengahan yang gelap dan menjijikkan.[2]

Pada puncaknya di tahun 1150 M. Adeelard merampungkan On the Use of The Astrolable. Beberapa ahli memberikan tarikh awal 1142 M. Disinilah, di Eropa Adeelard mampu memperkenalkan geometri Euklidean untuk pertama kalinya sejak awal 1126. Langkah ini menjadi gerakan jelas akan peranan Adeelard yang mentrasfer pengetahuan Arab-Muslim ke tanah Eropa. Tentu saja langkah ini membuat kebanggaan bagi para sarjana-sarjana kristen lainnya untuk semakin gemar akan cahaya dari Timur-Islam. Kegemaran akan bahasa Arab sebagai bahasa pengetahuan membuat para pendeta semakin ketakutan akan peradaban Barat itu sendiri.

Melihat gebrakan intelektual yang dilakukan oleh Adeelard. Stephen dari Pisa, dan para perintis lain studia Arabum, serta para kaum cendekiawan-petualang Barat segera mengikuti jejak pendahulunya itu untuk pergi ke daerah bekas jajahan pemerintahan Muslim di Spanyol, Sicilia dan bahkan ke Outremer. Mereka tidak hanya belajar, tapi juga berburu naskah karya-karya ilmuwan Arab tentang sains, seni dan filsafat dengan disertai kegairahan intelektual yang meluap-luap, setara dengan demam emas. Dan setelah mendapatkannya, mereka segera akan menyalin ke bahasa Latin dan menjadikan sebagai bahan pembelajaran masyarakat Eropa yang masih dirundung kegelapan.[3]

Menjelang akhir abad kedua belas Masehi hampir semua karya-karya penting Yunani yang masih ada saat itu sudah diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, berikut ulasan-ulasan dan karya-karya otentik dari ilmuwan-ilmuwan Muslim. Asimilasi sains dan filsafat Yunani-Arab di sekolah-sekolah pertama Eropa memercikkan kebangkitan budaya yang dimulai di abad ketiga belas dan bertahan sampai pertengahan abad berikutnya.[4]

Jauh sebelum itu, pada abad kesembilan Masehi, di semenanjung Iberia, peradaban Islam Spanyol telah membuat anak-anak Eropa lupa akan identitasnya sendiri dan lebih menyukai bahasa Arab klasik sebagai bahasa intelektual. Dan perasaan ini, geliat yang meledak-ledak akan belajar, tentu saja menjalar secara bertahap ke utara menuju ke sekolah-sekolah Gereja di Perancis atau Jerman. Golongan muda Spanyol, yang mungkin saja disertai dengan pelajar dari Barat lainnya, telah berlomba-lomba seolah mengungguli kemampuan berbahasa Arab orang Arab sendiri. Sebagaimana yang disampaikan oleh Alvaro dalam Indiculus Limunosus (Surat Pendek nan Indah)-nya,

Kawan-kawan saya yang Kristen menyenangi puisi dan kisah percintaan Arab; mereka mengkaji karya-karya para teolog dan filsuf Islam, bukan untuk menentangnya, tetapi untuk menguasai gaya bahasa Arab yang benar dan elok. Di manakah sekarang ditemukan seorang awam yang membaca tafsir-tafsir atas Kitab Suci dalam bahasa Latin? Adakah di antara mereka yang mempelajari injil, Kitab para Nabi dan Surat para Rasul? Amboi! Kaum muda Kristen yang memiliki bakat menonjol dan kecerdasan tidak memiliki pengetahuan tentang sastra atau bahasa sedikit pun kecuali bahasa dan sastra Arab; mereka membaca dan mengkaji buku-buku berbahasa Arab dengan minat yang besar; Mereka menghabiskan dana yang sangat besar untuk berbagai perpustakaan, dan dimana-mana mereka menyanyikan puji-pujian berbahasa Arab. Disisi lain, ketika menyebutkan buku-buku Kristen, mereka menyebutnya dengan ungkapan yang sinis, mengatakan bahwa karyakarya semacam itu tidak layak mereka perhatikan. Celakanya! Orang-orang Kristen telah melupakan bahasa mereka sendiri hanya satu diantara seribu orang yang sanggup menulis surat kepada temannya dengan bahasa Latin yang baik! Sebaliknya, betapa banyak orang yang dapat mengekspresikan dirinya dalam bahasa Arab dengan keelokkan yang paling tinggi, bahkan mereka mampu menggubah bait-bait syair yang mengungguli orang Arab sendiri dari sisi ketepatan tata bahasanya![5]

  1. Penjelajahan Laksamana Cheng Ho 1434 M.

Warisan intelektual Islam yang banyak diperoleh oleh bangsa Latin-Eropa pada abad-abad perang Salib membuka mata hati bagi para pemikir Eropa. Mereka mulai sadar bahwa dirinya jauh tertinggal dengan bangsa Muslim di Timur. Jika orang Muslim menjadikan Masjid sebagai pusat pembelajaran, maka Gereja adalah pilihan tepat yang digunakan oleh para pendeta untuk membina dan mendidik orang Eropa. Sehingga pada abad-abad pasca perang salib inilah dalam sejarah Barat menyebutnya sebagai zaman skolastik. Karena pada zaman ini pendidikan hanya diperoleh melalui lembaga-lembaga pendidikan di sekolah gereja.

Menariknya, kemajuan semangat belajar Eropa atas warisan intelektual disertai dengan sebuah berkah yang tak terpikirkan sebelumnya. Bukan dari bangsa Eropa berkah itu muncul, tapi dari Timur jauh yang telah singgah di daratan Eropa, Italia khususnya. Disatu sisi, bangsa Eropa mendapatkan kekayaan intelektual dari perjalanannya ke Timur wilayah Islam. Dan disis lain, ekspedisi raksasa China yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho mendarat di Italia dengan membawa banyak karya filsafat dan sains.

Pelayaran Laksaman Cheng Ho adalah sebuah sebuah perjalanan ke seluruh dunia atas perintah kaisar Zhu Dhi. Tujuannya adalah memperkenalkan kepada dunia bahwa kekuasaan besar ada di tanah Jauh, yang berada di daratan luas di Asia. Program raksasa ini melibatkan sekitar 2.700 buah kapal dengan awak kapal yang sangat berkualitas. Selain dilengkapi dengan navigator-navigator handal dan para laksamana muda, kapal-kapal Cheng Ho lebih mirip sebuah universitas berjalan dan mengeliling dunia. Para awak kapalnya adalah orang-orang berpendidikan tinggi yang memiliki kualitas keilmuan yang sangat luas. Mereka ahli dalam berbagai bahasa dan pengetahuan. Tidak hanya dari China, tapi juga dari Arab, Persia, Hindi, Tamil, dan Swahili. Gavin Menzies menjelaskan,

Cheng Ho bernasib sangat baik bisa berlayar bersama pengetahuan intelektual yang tak ternilai harganya dalam segala bidang kehidupan manusia. ia memimpin sebuah armada laut luar biasa—bukan saja dalam hal kemampuan militer dan jargonya tapi juga kargonya—muatan intelektual yang sangat canggih dan bernilai tinggi. Armada tersebut merupakan gudang penyimpanan setengah ilmu pengetahuan dunia.

Ia juga memiliki para petugas berpendidikan tinggi yang melalui penerjemah dapat berbicara pada para pemimpin negara asing dalam tujuh belas bahasa berbeda, termasuk Arab, Persia, Hindi, Tamil, Swahili, dan Latin. Armada Cheng Ho menyerupai sebuah universitas terapung dan mungkin menyimpan lebih banyak pengetahuan intelektual di perpustakaannya di banding universitas mana pun di dunia pada masa itu.[6]

Cheng Ho adalah Muslim China, tentunya banyak pula kelasinya yang beragama Islam. Mereka bukanya orang “biasa” yang bekerja sebagai pekerja kasar, tapi para intelektual yang memiliki banyak pengetahuan tentang sains, sastra, tehnologi, dan tentunya filsafat. Naskah-naskah tehnologi Arab Islam dan China banyak dimuat dalam kapal Cheng Ho dan dirawat oleh para ahlinya, peta, kompas klasik, teropong, dan senjata modern di zamannya. Armada Cheng Ho secara resmin meninggalkan Nanjing, China pada 19 Januari 1431. Tujuan pertamanya adalah Laut Merah di Timur Tengah. Dalam hal ini Cheng Ho banyak memanfaatkan kalender Arab-Islam dan peta yang dibuat oleh ilmuwan-ilmuwan Islam sebagai penunjuk arah, yang tentunya dikendalikan oleh para navigator Muslim.[7]

Pada 18 November 1432, Armada telah mencapai di sebelah selatan Srilangka.[8] Dan pada awal 1433 Armada telah mencapai Kairo, pusat perdagangan dan kebudayaan Islam, dimana saat itu telah dikuasai oleh dinasti Mamluk. Disinilah Armada bersinggah untuk sementara dan melakukan pendaratan yang spektakuler; dengan mengambil-membeli barang-barang yang berharga serta menjual barang-barang yang dibawa. Tidak hanya itu, mereka juga saling bertukar informasi, pengetahuan, dan naskah-naskah intelektual. Sehingga saat keberangkat kembali dimulai, armada telah penuh dengan barang berharga dan naskah-naskah yang kaya pengetahuan.[9]

Akhirnya pada akhir 1433 atau awal 1434, skuadron Cheng Ho tiba di Mediterania, satu atau lebih kapalnya telah berlabuh di Hvar, dan selebihnya meneruskan perjalanan ke Venesia. Para perwiranya kemudian melanjutkan perjalanan ke Florensia melwati hutan Tuscany. Saat tiba di Venesia dan perjalanan menuju Florensia inilah para perwira bertemu dengan Paus. Pembicaraan ilmiah pun dimulai, antara awak kapal Cheng Ho dengan para pendeta dan peminat pengetahuan di tempat itu. Disinilah benih-benih renaisans mulai tumbuh, para pendeta Italia Utara, yang didukung oleh kekayaan penguasa negara-kota setempat, mendapatkan banyak naskah berharga, selain barang yang mewah, dari para laksamana mudanya Cheng Ho. Pengetahuan dari China, yang dilengkapi dengan pengetahuan Arab-Islam membuat para intelektual Italia hanya bisa berdecak kagum dan terpesona. Astronomi, geografi, arsitektur, filsafat, dan matematika bak emas yang melimpah datang ke Italia. “Mereka melihatnya bak surga yang sedang turun dari langit”. Berkah inilah yang kemudian melecut kegairahan yang semakin mendalam bagi bangsa Italia untuk segera menyalakan api renaisans.[10]

  1. Takluknya Konstantinopel 1453 M.

Jika kedatangan Cheng Ho dan transformasi pengetahuan pasca perang Salib merupakan berkah bagi bangsa Eropa-Latin, karena mereka mendapatkan warisan intelektual yang berharga dari peradaban Islam, maka kelahiran Dinasti Ustmani yang semakin membesar dan kuat di abad ke 15 M. menjadi berkah, namun berbeda. Terutama ketika Konstantinopel jatuh pada tahun 1453.

Awal mendapatkan pencerahan dan mulai terbuka wawasannya untuk belajar, pengetahuan bangsa Eropa hanya dimiliki dan dikuasi oleh kaum pendeta. Pusat pembelajaran berada di gereja dan filsafatnya cenderung doktrinal; diselaraskan dengan ajaran-ajaran Trinitas dan Alkitab, sehingga dikenal dengan zaman Skolastik. Ajaran Katolik mampu menghegemoni imajinasi bangsa Eropa agar sesuai dengan imajinasi gereja. Walaupun proyek perang Suci, sebagai jalan menempuh kedekatan dengan Tuhan yang disponsori oleh Paus tidak lagi menarik bagi pemuda Eropa, Paus dan gereja katoliknya masih tetap menjadi simbol panutan utama dalam kehidupan. Tidak hanya dalam ketaatan beragama dan religiusitas saja, akan tetapi persoalan sains dan sosial-politik semua dalam kendali gereja. Dengan kata lain, pemikiran dan landasan berfikir masyarakat Eropa di zaman itu terkunci dalam doktrin kristen Katolik. Sumber utama pemikiran adalah sabda Paus dan teks Alkitab. Kasus Galileo yang dianggap bidah saat mengatakan “bumi mengelilingi matahari” adalah kasus yang terkenal pada masa itu. galileo dianggap sesat karena berbeda dengan wawasan sains gereja yang mengatakan bahwa “bumi dikelilingi matahari”.

Apa-apa (baca: filsafat) yang dibangun di Kristen-Barat; Britania, Perancis, Germania dan Italia sangat berbeda dengan apa yang dibangun di Kristen Timur; Byzantium dan di Semenanjung Balkan. Kristen-Timur lebih taat dan lebih suka pengembangkan religiusitas dengan cara melanjutkan gairah intelektual zaman Yunani Kuno. Filsafatnya bukan berpijak pada Alkitab, tapi warisan pemikiran filsuf Yunani kuno yang diselaraskan dengan doktrin-doktrin Kristus. Apa yang diwariskan oleh Plato, Aristoteles, Anaximenes, serta filsuf Yunani lainnya menjadi tonggak intelektual Kristen Timur, atau aliran Ortodoks. Jadilah sintesa antara ajaran filsafat Yunani yang rasional dengan ajaran Kristen yang monotheistik, yang lebih dikenal dengan Helenisasi agama Kristen.[11]

Kristen Ortodoks Byzantium sangat menentang dengan doktrin Trinitas Gereja Barat. Pertentangan mereka memuncak hingga ke ranah politik dan sosial. Apa yang dinyakini oleh gereja di Barat tidak akan pernah menjadi hal yang menarik bagi kawannya di Timur. Segala upaya untuk mempertemukan tidak pernah terjadi dan justru lebih mengarah pada permusuhan dan pertentangan yang semakin tajam. Perdebatan teologis antara pendeta Ortodoks dengan Pendeta Katolik sering kali berujung pada debat kusir dan tidak pernah menemukan kesepahaman yang sama. Aqidah keduanya sangat jauh berbeda dan melenceng satu sama lain.

Sehingga pada April 1453, saat Sultan Muhammad Al-Fatih melancarkan pengepungan terhadap Byzantium (yang mulai sekarat) dengan pasukan yang besar, tidak memberikan tanggapan apa-apa, bahkan seolah membiarkan saudaranya itu tenggelam dalam kehancuran. Permohonan Kaisar Konstantin XI untuk mengirim bala bantuan tidak mendapatkan tanggapan yang semestinya, yang membuat sang kaisar hanya bisa pasrah dan mempertahankan kota sekuat tenaga. Beruntung masih ada sumbangan tentara dan teknisi perang dari Duke Venesia yang armada dagangnya dihancurkan dan diganggu oleh tentara Ustmani, namun bantuan tersebut hanya bersifat memperlambat kehancuran, tidak menghentikan.[12]

Kekuatan pasukan Ustmani dengan tehnologi perangnya mencapai 70.000 orang, sedangkan Byzantium hanya dipertahankan oleh 7.000 orang, termasuk relawan dan penduduk yang berusia muda. Praktis secara logika kota akan segera runtuh hanya tinggal hitungan waktu saja. Tepat pada 29 Mei 1453, setelah melalui sebuah upaya pertempuran yang berdarah-darah dan dasyat, pasukan Ustmani mampu meruntuhkan tembok kota dan membanjiri kota dengan senjata dan bendera kesultanan.[13]

Selama tiga hari Sultan membiarkan para pasukannya untuk menjarah, namun setelah itu sultan membangunnya jauh lebih baik dan lebih rapi. Bukan hanya arsitektur yang dikembangkan, tapi tatanan masyarakatnya didinamiskan hingga terwujudlah kota yang indah dan elok di dunia.

Jatuhnya Konstantinopel dianggap sebagai pemutus rantai abad pertengahan. Karena pada masa inilah Sultan Ustmani menggunakan senjata cangging dan mulai memperkenalkan tehnologi yang jauh lebih maju pada tentaranya, yang belum ada sebelumnya. Namun selain itu, hilangnya Byzantium juga mulai memunculkan kesadaran pada bangsa Kristen di Barat akan kelemahan mereka, yang diakibatkan oleh pertentangan doktrin gereja, filsafat skolastik, dan sabda Paus. Oleh karena itulah, munculnya gerakan renaisans tidak lain merupakan bentuk perlawanan terhadap filsafat skolastik yang disinyalir hanya menimbulkan perpecahan bagi agama Kristen, bukan membangun peradaban yang lebih maju layaknya Muslim di Timur. Lebih tegasnya, Barat mulai sadar dan siap untuk belajar dari kekalahan yang menyakitkan itu.

Filsafat Renaisans, yang dicirikan dengan kembali menghidupkan tradisi Yunani Kuno dan Romawi tidak lain merupakan bentuk refleksi dari jatuhnya Konstantinopel. Hilangnya Byzantium membentuk sebuah ketakutan akan hilangnya tradisi lama Eropa yang telah membentuk bangsanya, karena tidak ada lagi penjaga tradisi Helenisme. Oleh sebab itu, upaya untuk mempertahankannya hanya bisa dilakukan dengan cara meruntuhkan filsafat skolastik dan hegemoni gereja. Sebagaimana Roger Crowley menulis:

Kejatuhan Konstantinopel terjadi di puncak sebuah revolusi—masa saat laju “kereta api” penemuan ilmiah di Barat siap-siap meluncur dengan kecepatan penuh dan harga semua ini harus dibayar oleh agama. Di antara kekuatan pendoronya sudah terlibat dalam pengepungan ini sendiri: pengaruh bubuk mesiu, keunggulan kapal-kapal layar, akhir pengepungan ala Abad Pertengahan; Tujuh Puluh Tahun kemudian Eropa mengenal gigi palsu dari emas, jam saku dan astrolabe, manual navigasi, sifilis, terjemahan Perjanjian Baru, Copernicus dan Leonardo Da Vinci, Colombus dan Luther—serta “mesin cetak” yang bisa dipindah-pindah.[14]

  1. Runtuhnya Andalusia 1492 M.

Di pertengahan abad kelima belas keamiran Al-Andalus, wilayah Muslim di Iberia, menghadapi berbagai intrik perpecahan yang sangat tragis. Masing-masing keamiran berperang satu sama lain, dan kerajaan Kristen bahkan membantu keamiran yang dianggap lebih kuat. Hingga akhirnya keamiran Granada adalah keamiran terakhir yang mampu bertahan melawan keamiran lainnya dengan bantuan Aragon dan Castila. Alih-alih keamiran yang kalah takluk di tangan keamiran yang lain (kekuasaan Muslim lain), mereka jatuh ke pangkuan kekuasaan kerajaan Kristen Spanyol yang mulai tumbuh, Castila dan Aragon. Satu-satunya yang masih bertahan hanyalah keamiran Granada, yang terletak di pesisir tenggara Spanyol. Dan tempat itu praktis menjadi satu-satunya kantong pelarian orang Muslim yang wilayahnya dikuasai Spanyol.[15]

Seolah ingin seluruh Spanyol menjadi Kristen, nampaknya penguasa Aragon-Castila masih belum puas dengan hasil kekuasaannya yang dimiliki di seluruh Iberia. Keinginan untuk menjatuhkan Granada dari keamiran Muslim pun segera diwujudkan. Untuk melancarkan harapannya itu, Ferdinad II meminta restu Paus, menyiapkan angkatan militer yang kuat, dan menyediakan artileri berat yang terstruktur. Hasilnya, tepat pada Januari 1492 keamiran Granada jatuh dan Abu Abdullah diusir ke Afrika Selatan. Kota itu diserahkan kepada Ferdinad II dengan beberapa kesepakatan, diantaranya adalah membiarkan Muslim dan Yahudi bisa hidup berdampingan dengan penguasa Kristen. Namun saat kota sudah diserahkan, kesepakatan itu dilanggar. Muncullah gerakan pemaksaan, Inkuisisi, bagi para Muslim dan Yahudi untuk berpindah agama. Pilihannya hanya dua, pindah agama atau melarikan diri ke negara lain.[16]

Orang Yahudi dan Muslim, semasa keamiran Muslim memegang kekuasaan di Spanyol bisa hidup rukun dan berkerjasama membangun kota-kota metropolis berperadaban tinggi. Kedua komunitas ini menjadi elit karena pengetahuan mereka dan keahlian yang dimiliki. filsafat, sains, astronomi, dan semua bidang yang dikembangkan pada renaisans Eropa, tumbuh subur di Al-Andalus. Akan tetapi, keharmonisan ini telah dihancurkan oleh Aragon-Castila. Semua Muslim dan Yahudi harus berpindah ke Kristen atau mati di institusi inkuisisi yang memiliki bentuk penyiksaannya beragam, cara-cara mati yang asyik dipandang oleh para Bapa gereja (sang inkuisisator).[17]

Oleh karena itulah, pilihan yang paling rasional bagi para penganut agama yang taat adalah pergi ke negeri lain yang menghormati agama Yahudi dan Muslim. Orang Muslim tentu saja menjatuhkan pilihannya ke wilayah kesultanan Ustmani yang semakin tumbuh pesat atau ke Afrika Selatan, sedangkan orang Yahudi mengungsi ke Barat, dan sebagian besar pula menjadi warga negara Ustmani di Istanbul. Menariknya, para pengungsi ini bukanlah orang awam atau petani biasa yang tidak memiliki pengetahuan apapun, mereka justru para ilmuwan yang menyimpan berbagai pengetahuan dan filsafat. Diantaranya adalah seorang ahli keuangan, ahli kedokteran, dan tentunya guru, yang dikemudian hari membuat orang Spanyol merasa menyesal mengusir mereka.[18] Sehingga tidak heran jika para pengungsi ini dikemudian hari akan menjelma menjadi sosok ilmuwan yang menyumbangkan filsafat bagi renaisans Eropa. Seperti halnya Baruch Spinoza.

  1. Jatuhnya Otoritas Kepausan (Katolik) abad 14 M.

Menjelang berkobarnya renaisans, hal yang paling memicunya adalah agama Kristen itu sendiri, alih-alih sebagai panutan bangsa dan masyarakatnya, institusi gereja semakin bobrok dan jatuh dalam kegelapannya. Kebobrokan ini merupakan sebuah fenomena yang bersifat kebetulan; yang bukan semata-mata merupakan penyalagunaan wewenang dan kekuasaan. Secara intitutif, gereja adalah lembaga yang terhormat dan sangat suci, bagi umat Kristiani. Namun hawa nafsu para pemegang kebijakan, pendeta yang nakal, dan hanya mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri.[19]

Sebagai otoritas tertinggi dalam negara-agama di Eropa-Barat, Gereja melakukan banyak kesalahan serius; terutama dalam penjualan pengampunan dosa kepada masyarakat. Agama tidak ditempatkan sebagaimana mestinya agama, memberikan pencerahan dan kenyamanan bagi manusia, kesejukan hati, dan ketenangan pikiran, tapi direduksi menjadi bentuk Paganisme baru dari berhala ke para Bapa. Tragisnya, para pendeta menarik pajak kepada para jemaat dengan nilai yang sangat tinggi guna menyelesaikan proyek mewahnya, dan menciptakan tradisi kemewahan yang berlebih-lebihan.

Kesalehan rohani pada zaman tersebut pada hakekatnya menunjukkan takhayul—pikiran terbelenggu dengan objek inderawi, Benda semata-mata—dalam berbagai bentuk:–rasa hormat budak otoritas; karena Roh telah menyatakan hakikatnya yang sebenarnya di dalam kualitasnya yang paling hakiki (pengorbanan kebebasannya yang khas demi objek inderawi semata-mata)…akhirnya, nafsu untuk berkuasa, pesta pora liar yang berlebih-lebihan, segala macam kebobrokan barbar dan kasar, kemunafikan dan penipuan—semua mewujudkan dirinya di dalam gereja. ….—Gereja yang kedudukannya adalah untuk menyelamatkan jiwa dari kehancuran, membuat penyelamatan dirinya semata-mata sebagai alat lahiriah, dan kini mengalami kemerosotan sejauh melaksanakan tugas ini hanya secara lahir semata-mata…. –Pengampunan dosa ditawarkan kepada manusia dengan cara yang sangat dangkal—dibeli dengan uang semata-mata….. Salah satu tujuan penjualan sebenarnya untuk pembangunan St. Petrus, chef doeuver struktur Kristen yang besar yang ditegakkan dalam metropolis agama.[20]

Kebobrokan Gereja, sebagai lambang institusi abad pertengahan Eropa diperkuat dengan konspirasi mereka dengan kerajaan yang feodalistik, konspirasi ksatria Templar dan proyek inkuisisi yang kejam. Dalam kasus Templar misalnya, bertemulah kepentingan finansial Paus dan raja. Tetapi dalam sebagian besar kajadian di kebanyakan wilayah kristendom, kepentingan tersebut seringkali berbenturan. Pada masa Paus Boniface VIII, raja Perancis Philip IV yang mendapatkan dukungan dari para tuan tanah, termasuk tuan tanah gereja, dalam perselisihan dengan Paus mengenahi pajak. Akibatnya, Paus pun akan mendapatkan pertentangan dari para raja yang memusuhi Perancis jika sedang dekat dengan raja Perancis. Begitu juga sebaliknya.[21]

Aliran-aliran Kristen juga saling mengalami pertentangan yang lumayan tajam. Sebagian aliran masih tunduk dengan Paus, dan sebagian yang lain menentangnya. Pemberontakan penentangan Paus pun berkembang sesuai dengan bentuknya di tempat lain. Ada kalanya berupa pemberontakan nasionalisme monarki, kadang-kadang dengan horor Puritan akan korupsi dan keduniawian istana Paus. Di Roma sendiri pemberontakan itu terkait dengan demokrasi kuno. Paus juga mengalami perpecahan; Paus di Avignon dan di Vatikan. Pemberontakan petani tahun 1381 menentang upeti yang ditarik gereja menambah daftar gelap institusi gereja. Inggris juga menentang upeti tersebut yang konon terlalu banyak diambil oleh Paus. Dan penyiksaan secara keji terhadap orang-orang Lollard, di Inggris, lalu mereka dimusnahkan semakin menguatkan kejatuhan kepausan.[22]

Tragisnya, kejatuhan lembaga kepausan didukung pula oleh perilaku menyimpan dan latar belakang para paus yang sangat mengerikan. Diantaranya, menjadi paus karena dukungan militer, melakukan pernikahan di luar nikah yang tetap dirahasikan, menyimpan budak untuk melampiaskan libido sex-nya, menyuap para pendeta dengan menggoda pelacur-pelacur yang diperintah, pesta porak, mabuk-mabukan, memanggil iblis dalam pesta perjudian agar menang, dan melakukan pengembangan cerita yang bersifat pornografi. Misalnya, Yohanes XXIII naik kepausan berkat kekuatan tentara, atau Martinus V yang memperkerjakan penulis mesum Poggio Bracciolini sebagai sekretaris kepalanya, bahkan Paulus II (1464-1471) yang suka melihat lelaki telanjang; tentunya ia seorang gay.[23]

Akibat kebobrokan tersebut muncullah keterputusan intelektual antara zaman pertengahan dengan zaman Renaisans yang akan digagas oleh para filsuf humanisme dalam gerakan pencerahan. Zaman pertengahan di bentuk oleh feodalisme, Agama sebagai pemersatu, eksistensi Tuhan yang ditafsirkan hanya oleh gereja, nalar kaum skolastik yang teliti dan cermat, dan penggolongan yang khas; kaum pendeta, bangsawan, dan orang awam, segera digantikan oleh zaman pencerahan yang dibentuk oleh sekulerisme, otonomi akal budi, alam dan pikiran manusia adalah suatu yang mandiri, dan persamaan kesempatan dan perlakuan yang sama.[24]

Memang ada beberapa hal di zaman pertengahan (skolastik) yang masih dianggap memiliki keterkaitan dengan Renaisans, misalnya gerakan intelektual penerjemahan naskah Yunani-Arab, institusi gereja sendiri sebagai pendidikan, serta kastil-kastil bangsawan feodal. Namun semua itu lebih cenderung sebagai lembaga yang justru membuat renaisans itu muncul, bukan berarti mendukung adanya Renaisans, namun lebih pada menentang dan membuat renaisans lahir dan berupaya menggantikan filsafat di zaman skolastik. Hanya yang pertama mungkin hal yang paling berpengaruh mendatangkan Renaisans. Sehingga keterkaitan antara apa yang dibangun di abad pertengahan sangat tidak ada sama sekali dengan abad pencerahan dan gerakan Renaisans.

[1] Sebagaimana yang dikutip oleh Karen Armstrong dalam Perang Suci: Kisah detail perang salib, akar pemicunya dan dampaknya terhadap zaman sekarang. (Bandung: Serambi. 2011) halaman 302.

[2] Tak seorang pun tahun dimana dan kepada siapa Adeelard belajar bahasa Arab, kemungkinan di Syracuse, yang penduduknya mayoritas beragama Islam, di kepulauan Sicilia. Sebelum melakukan perjalanan ke Timur ia menegaskan tradisi intelektual abab pertengahan, bahwa yang menguasai bahasa kelak akan mampu menguasai pengetahuan dari bahasa apapun. Selengkapnya baca Jonathan Lyon dalam The Great Bait Al-Hikmah: Kontribusi Islam dalam Peradaban Barat. (Jogjakarta: Nouro Books. 2013) halaman 153.

[3] Ibid, halaman 209.

[4] John Freely, Cahaya Dari Timur: Peran ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat. (Elek Modia (Jakarta: Komputindo. 2011) halaman 328.

[5] Sebaimana dikutip oleh George A. Makdisi dalam Cita Humanisme Islam: Panorama Kebangkitan Intelektual dan Budaya Islam dan Pengaruhnya terhadap Renaisans Barat. (Jakarta: Serambi. 2005) halaman 521.

[6] Gavin Menzies, 1434: Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans. (Jakarta: Alvabeta. 2009) halaman 17.

[7] Di zaman Cheng Ho perdagangan dikuasai oleh bangsa Arab dan bangsa China. Orang China sukses diakui sebagai minoritas di Kairo dan bekerja sebagai pedagang yang makmur, begitu pula dengan orang Arab yang banyak membangun permukiman Muslim di pelabuahan Quanzhou diakui sebagai intelektual yang mumpuni. Saat pengumuman proyek besar pelayaran ini dipublikasikan, banyak Muslim Arab-China yang bergabung dan membantu pelayan Cheng Ho mengarungi dunia. Ibid, halaman 44.

[8] Ibid, halaman 47.

[9] Ibid, halaman 54.

[10] Ibid, halaman 74.

[11] Marvin Perry, Peradaban Barat: Dari zaman Kuno hingga zaman Pencerahan. (Jogjakarta: Kreasi wacana. 2012) Halaman 178.

[12] Dalam upaya mempertahankan Konstantinopel, Kaisar Kosntantin XI mengirim surat ke Paus di Barat, saudaranya di Morea; Thomas dan Demetrios, Raja Hunyadi di Hungaria, Alfonso penguasa Aragon na Naples, orang Genoa yang ada di Chios, orang Dubrovnik, dan tentunya Duke Venesia. Namun tidak ada tanggapan yang nyata. Hal yang jelas disadari oleh orang Kristen Barat adalah Konstantinopel dalam bayangan kegelapan dan siap untuk jatuh di pangkuan Muslim, sehingga berat untuk dipertahankan. Alasan ini disadari karena wilayahnya hanya dikelilingi oleh wilayah Ustmani yang sudah merambah ke seluruh bekas wilayah Byzantium lama. Ahli-ahli memberikan bantuan, para pedagang Kristen di Galata membuat kesepakatan terbaik dengan Sultan Ustmani terkait dengan koloni dagangnya. Selengkapnya lihat Roger Crowley dalam 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim. (Jakarta: Alvabeta. 2011) halaman 78.

[13] Ibid, halaman 284.

[14] Ibid, halaman 317.

[15] Lihat selengkapnya David Nicolle dalam Runtuhnya Islam Spanyol: Granada 1492. (Jakarta: KPG. 2009) halaman 6.

[16] Ibid, halaman 86.

[17] Tentang bentuk penyiksaan yang khas dijalankan oleh inkuisator diceritakan oleh Brenda Ralph Lewis dalamSejarah Gelap Para Raja dan Ratu Eropa. (Elek Media Komputindo. 2013) halaman 19.

[18] Henry Kamen, Para Algoco Tuhan: Kisah Perburuan Terhadap Orang-Orang Kristen Palsu di Spanyol. (Jogjakarta: e-Nusantara. 2008) halaman 34.

[19] George Wilhem Friedrich Hegel, Fisafat Sejarah. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2012) halaman 565.

[20] Ibid, halaman 566-567.

[21] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat: kaitannya dengan kondisi sosio-politik zaman kuno hingga sekarang. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007) halaman 633.

[22] Ibid, 634-640.

[23] Banyak cerita tersembunyi mengenahi kehidupan yang menyimpang dari para Paus Katolik di zaman kegelapan (bahkan hingga menjelang abad modern), mulai dari hiperseksualitas sampai pada menyukai sesama jenis. Selengkapnya lihat Nigel Cawthorne, dalam Rahasia Kehidupan Seks Para Paus. (Jogjakarta: Alas. 2007).

[24] Marvin Perry, Peradaban Barat: dari zaman kuno hingga zaman Pencerahan. (Jogjakarta: Kreasi wacana. 2012) halaman 285.