Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

EKONOMI TURKI SEMAKIN TERPURUK, INILAH LIMA PENYEBABNYA

Berak Albayrak, Menteri Keuangan Turki yang mengundurkan diri buntut dari krisis finansial yang dihadapinya

oleh : Mohammad Syihabuddin

Nilai matang uang Turki semakin terpuruk dan mengganggu perekonomian negara Republik-Muslim itu. Nilai tukar mata uang Turki jatuh pada kisaran 8,45 lira per 1 US dolar, dan sudah bisa menyebabkan ketidakstabilan negara itu dalam mengatur perekonomiannya.

Akibatnya (dalam jangka waktu ini), masyarakat semakin menurunkan kepercayaannya terhadap kredibilitas kepemimpinan presiden Erdogan dan AKP-nya untuk ‘melanjutkan’ kepemimpinan di Turki.

Ada lima hal yang menyebabkan perekonomian Turki semakin terpuruk yang menyebabkan negara di persimpangan Eropa dan Asia itu mengalami kegoncangan internal dalam negeri.

  1. Peranan Turki dalam perang Nagorno-Karabkh

Perang di Nagorno-Karabakh yang melibatkan militer Azerbaijan dan Armenia telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Perjanjian genjatan senjata sudah ditandatangani sebagai wujud kemenangan Azerbaijan atas Armenia.

Kemenangan Azerbaijan melawan militer Armenia tidak lepas dari peranan presiden Erdogan yang ‘terang-terangan’ berada di belakangnya. Turki memberikan bantuan alutista, tentara bayaran, dan juga pasukan militer yang menjadikan Azerbaijan berada di atas angin ketika menghancurkan dan menghadapi mesin-mesin perang Armenia.

Sepak terjang Erdogan dalam perang Nagorno-karabak inilah yang menyebabkan para petinggi uni eropa dan juga Amerika merasa rishi dan semakin kurang simpati dengan AKP dan Erdogan. Sehingga dalam bursa perekonomian global Turki semakin dilematis menghadapi negara-negara kuat.

Hasilnya, posisi perekonomian Turki secara global selalu dirongrong dan dilemahkan oleh ‘musuh-musuhnya’ sehingga menyebabkan nilai mata uangnya jatuh menukik menuju jurang krisis keuangan.

  • Posisi Turki di Laut Mediterania

Bulan Oktober (2020) lalu kapal penelitian Turki dengan di kawal oleh kapal militernya melakukan penelitian di laut mediterania timur untuk ekplorasi gas alam. Kegiatan itu memicu ketegangan dengan Yunani yang merupakan musuh bebuyutannya, yang juga mengklaim laut tersebut sebagai kawasannya.

Di belakang Yunani ada Perancis dan negara-negara sekutu lainnya yang siap berperang menghadapi Turki tatkalah terjadi bentrok dengan Yunani.

Aktivitas Turki di mediterania timur inilah yang menyebabkan ketakutan para negara-negara uni eropa dan Amerika akan kebangkitan Turku sebagai negara yang kuat di kawasan dan memicu runtuhnya ‘kekuatan’ negara-negara uni eropa di kawasan timur yang lebih lemah.

Oleh sebab itulah, untuk mencegah kebangkitan Turki menjadi negara kuat maka berbagai cara dilakukan oleh negara-negara pesaingnya dengan cara melemahkan nilai mata uangnya dan posisinya di perekonomian global. 

  • Ketidakharmonisan hubungan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.

Ada ketidakharmonisan hubungan antara Berat Albayrak dan Naci Agbal dalam menjalankan kebijakan keuangan negara.

Albayrak selaku menteri keuangan dan juga menantu Erdogan mengundurkan diri pada 8/11/2020 lalu, karena tidak sepakat dengan pengangkatan Naci Agbal sebagai Gubernur Bank Sentral.

Dalam beberapa kesempatan Albayrak sering berdebat keras dengan Agbal karena kebijakan yang kurang cocok dan tidak ditemukannya solusi yang relevan untuk membangkitkan perekonomian Turki.

Hasilnya, langkah-langkah strategis untuk memulihkan perekonomian negara terganggu dan tidak tepat pada sasaran. Sehingga dari waktu ke waktu perekonomian Turki tidak kunjung pulih dari keterpurukannya.

  • Isu “Neo-Utsmani” dalam manuver politik AKP

Bagaimana pun bayang-bayang kesultanan Utsmani di masa lalu masih menjadi ‘momok’ yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Eropa, khususnya bangsa-bangsa Slavia. Hal ini pula yang menyebabkan uni eropa enggan menerima Turki sebagai anggota klub Kristen-nya (Uni Eropa).

Isu-isu kebangkitan kekuatan Turki di tangan Erdogan dan AKP-nya sebagai neo-Utsmani sudah didengar oleh banyak kalangan di Eropa maupun di Arab.

Mesir, Arab Saudi, dan Iran yang berada di dunia Arab sudah mengendus isu ‘kebangkitan ustmani baru’. Mereka merasa terancam dan merasa tersaingi jika Turki benar-benar bangkit dan mengalahkan posisi kuat mereka di kawasan.

Apalagi negera-negara uni eropa, terutama Perancis, Belanda dan Yunani sudah sangat curiga dengan kebangkitan Turki menjadi neo-utsmani yang (kemungkinan) akan mengancam dominasi kekuatan uni eropa di kawasan mediterania. Bahkan jika Turki sangat kuat bisa jadi akan menggerogoti kekuatan negara-negara Eropa.

Aktivitas Turki yang mengarah pada neo-utsmani ini sudah diwujudkan dengan perannya di perang Suriah, perang Libya, perang Nagorno-Karabakh, dan juga kemandirian alutista modern Turki yang semakin canggih dan menggandeng banyak negara berkembang lainnya.

Tentu saja hal ini memicu kecemburuan dan ketakutan tersendiri bagi negara-negara kuat Eropa, sehingga mendorong upaya untuk melemahkan kekuatan ekonomi Turki.

  • Meningkatnya Posisi Turki di Kawasan

Di tangan Erdogan dan AKP posisi Turki berbeda jauh dengan sebelumnya 2002. Langkah-langkah politik intrenasional Erdogan menyebabkan Turki semakin memiliki posisi kuat di kawasan mediterania.

Turki menjadi mitra Rusia dan Iran, sekaligus juga menjalin ikatan dengan pakta NATO. Turki juga menjalin hubungan dengan Arab Saudi yang meningkatkan nilai ekspornya, menyebabkan Turki memiliki nilai ekspor yang tinggi.

Dan yang paling penting, militer Turki sudah tidak bisa diremehkan lagi oleh negara-negara Barat. Turki semakin mandiri dan semakin memiliki nilai tawar dengan negara-negara kuat, baik dengan Barat maupun dengan Rusia.

Posisi ini jelas menakutkan bagi negara-negara Barat, sehingga Turki harus dilumpuhkan secara finansial dan posisinya dilemahkan dengan cara menurunkan nilai mata uangnya dengan nilai tukar US dolar. Dengan cara ini para pesaing Turki berharap Turki menjadi lemah dan tidak memiliki posisi kuat di kawasan mediterania yang kaya.

EKONOMI TURKI SEMAKIN TERPURUK, INILAH LIMA PENYEBABNYA

Nilai matang uang Turki semakin terpuruk dan mengganggu perekonomian negara Republik-Muslim itu. Nilai tukar mata uang Turki jatuh pada kisaran 8,45 lira per 1 US dolar, dan sudah bisa menyebabkan ketidakstabilan negara itu dalam mengatur perekonomiannya.

Akibatnya (dalam jangka waktu ini), masyarakat semakin menurunkan kepercayaannya terhadap kredibilitas kepemimpinan presiden Erdogan dan AKP-nya untuk ‘melanjutkan’ kepemimpinan di Turki.

Ada lima hal yang menyebabkan perekonomian Turki semakin terpuruk yang menyebabkan negara di persimpangan Eropa dan Asia itu mengalami kegoncangan internal dalam negeri.

  1. Peranan Turki dalam perang Nagorno-Karabkh

Perang di Nagorno-Karabakh yang melibatkan militer Azerbaijan dan Armenia telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Perjanjian genjatan senjata sudah ditandatangani sebagai wujud kemenangan Azerbaijan atas Armenia.

Kemenangan Azerbaijan melawan militer Armenia tidak lepas dari peranan presiden Erdogan yang ‘terang-terangan’ berada di belakangnya. Turki memberikan bantuan alutista, tentara bayaran, dan juga pasukan militer yang menjadikan Azerbaijan berada di atas angin ketika menghancurkan dan menghadapi mesin-mesin perang Armenia.

Sepak terjang Erdogan dalam perang Nagorno-karabak inilah yang menyebabkan para petinggi uni eropa dan juga Amerika merasa rishi dan semakin kurang simpati dengan AKP dan Erdogan. Sehingga dalam bursa perekonomian global Turki semakin dilematis menghadapi negara-negara kuat.

Hasilnya, posisi perekonomian Turki secara global selalu dirongrong dan dilemahkan oleh ‘musuh-musuhnya’ sehingga menyebabkan nilai mata uangnya jatuh menukik menuju jurang krisis keuangan.

2. Posisi Turki di Laut Mediterania

Bulan Oktober (2020) lalu kapal penelitian Turki dengan di kawal oleh kapal militernya melakukan penelitian di laut mediterania timur untuk ekplorasi gas alam. Kegiatan itu memicu ketegangan dengan Yunani yang merupakan musuh bebuyutannya, yang juga mengklaim laut tersebut sebagai kawasannya.

Di belakang Yunani ada Perancis dan negara-negara sekutu lainnya yang siap berperang menghadapi Turki tatkalah terjadi bentrok dengan Yunani.

Aktivitas Turki di mediterania timur inilah yang menyebabkan ketakutan para negara-negara uni eropa dan Amerika akan kebangkitan Turku sebagai negara yang kuat di kawasan dan memicu runtuhnya ‘kekuatan’ negara-negara uni eropa di kawasan timur yang lebih lemah.

Oleh sebab itulah, untuk mencegah kebangkitan Turki menjadi negara kuat maka berbagai cara dilakukan oleh negara-negara pesaingnya dengan cara melemahkan nilai mata uangnya dan posisinya di perekonomian global. 

3. Ketidakharmonisan hubungan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.

Ada ketidakharmonisan hubungan antara Berat Albayrak dan Naci Agbal dalam menjalankan kebijakan keuangan negara.

Albayrak selaku menteri keuangan dan juga menantu Erdogan mengundurkan diri pada 8/11/2020 lalu, karena tidak sepakat dengan pengangkatan Naci Agbal sebagai Gubernur Bank Sentral.

Dalam beberapa kesempatan Albayrak sering berdebat keras dengan Agbal karena kebijakan yang kurang cocok dan tidak ditemukannya solusi yang relevan untuk membangkitkan perekonomian Turki.

Hasilnya, langkah-langkah strategis untuk memulihkan perekonomian negara terganggu dan tidak tepat pada sasaran. Sehingga dari waktu ke waktu perekonomian Turki tidak kunjung pulih dari keterpurukannya.

4. Isu “Neo-Utsmani” dalam manuver politik AKP

Bagaimana pun bayang-bayang kesultanan Utsmani di masa lalu masih menjadi ‘momok’ yang menakutkan bagi bangsa-bangsa Eropa, khususnya bangsa-bangsa Slavia. Hal ini pula yang menyebabkan uni eropa enggan menerima Turki sebagai anggota klub Kristen-nya (Uni Eropa).

Isu-isu kebangkitan kekuatan Turki di tangan Erdogan dan AKP-nya sebagai neo-Utsmani sudah didengar oleh banyak kalangan di Eropa maupun di Arab.

Mesir, Arab Saudi, dan Iran yang berada di dunia Arab sudah mengendus isu ‘kebangkitan ustmani baru’. Mereka merasa terancam dan merasa tersaingi jika Turki benar-benar bangkit dan mengalahkan posisi kuat mereka di kawasan.

Apalagi negera-negara uni eropa, terutama Perancis, Belanda dan Yunani sudah sangat curiga dengan kebangkitan Turki menjadi neo-utsmani yang (kemungkinan) akan mengancam dominasi kekuatan uni eropa di kawasan mediterania. Bahkan jika Turki sangat kuat bisa jadi akan menggerogoti kekuatan negara-negara Eropa.

Aktivitas Turki yang mengarah pada neo-utsmani ini sudah diwujudkan dengan perannya di perang Suriah, perang Libya, perang Nagorno-Karabakh, dan juga kemandirian alutista modern Turki yang semakin canggih dan menggandeng banyak negara berkembang lainnya.

Tentu saja hal ini memicu kecemburuan dan ketakutan tersendiri bagi negara-negara kuat Eropa, sehingga mendorong upaya untuk melemahkan kekuatan ekonomi Turki.

5. Meningkatnya Posisi Turki di Kawasan

Di tangan Erdogan dan AKP posisi Turki berbeda jauh dengan sebelumnya 2002. Langkah-langkah politik intrenasional Erdogan menyebabkan Turki semakin memiliki posisi kuat di kawasan mediterania.

Turki menjadi mitra Rusia dan Iran, sekaligus juga menjalin ikatan dengan pakta NATO. Turki juga menjalin hubungan dengan Arab Saudi yang meningkatkan nilai ekspornya, menyebabkan Turki memiliki nilai ekspor yang tinggi.

Dan yang paling penting, militer Turki sudah tidak bisa diremehkan lagi oleh negara-negara Barat. Turki semakin mandiri dan semakin memiliki nilai tawar dengan negara-negara kuat, baik dengan Barat maupun dengan Rusia.

Posisi ini jelas menakutkan bagi negara-negara Barat, sehingga Turki harus dilumpuhkan secara finansial dan posisinya dilemahkan dengan cara menurunkan nilai mata uangnya dengan nilai tukar US dolar. Dengan cara ini para pesaing Turki berharap Turki menjadi lemah dan tidak memiliki posisi kuat di kawasan mediterania yang kaya.