Sejarah Kelahiran

KITASAMA merupakan singkatan dari Kesatuan Pengabdian dan Kepetugasan Masyarakat Madani yang didirikan pada tanggal 22 Oktober 2015 di Komplek Masjid Dalem Nurul Iman Kampung Literasi desa Karangagung, Kecamatan Palang Kabupaten Tuban oleh sekelompok santri-intelektual pondok pesantren yang memeliki kepedulian untuk membantu masyarakat dalam mengembangkan keilmuan dan wawasan yang bermanfaat serta berperan serta dalam menjaga martabat Negara Indonesia sebagai bangsa yang beranekaragam suku-bangsa-budaya-adat istiadat-khazanah tradisi di pentas global.

Kelahiran KITASAMA diawali dengan keperihatinan sekelompok santri-intelektual pondok pesantren yang melihat kondisi masyarakat di sekitar Tuban yang semakin jauh dari tradisi ahlussunnah waljama’ah dan budaya bangsa Indonesia akibat pengaruh dari perkembangan tehnologi komunikasi, transportasi, dan internet yang tidak disertai dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan wawasan yang memadai, sehingga melahirkan masyarakat yang galau dan terombang-ambing dalam pusaran zaman postmodern tanpa disadarinya. Kondisi ini menyebabkan masyarakat yang teralienasi (terasingkan) dari identitasnya sendiri sebagai manusia dan tercerabut dari akar budaya dan agamanya sendiri.

Masyarakat postmodern hidup dalam peningkatan pembangunan, melimpah ruahnya harta benda-kebutuhan sehari-hari, kekayaan berlebihan informasi, dan tersingkapnya batas-batas geografis, batas budaya, batas tradisi diantara satu daerah dengan daerah lainnya (bahkan antar negara satu dengan negara lainnya), dan tersedianya berbagai pelayanan yang semakin cepat (Mall, Swalayan, layanan Daring). Namun semua itu hanya menyebabkan masyarakat terjangkiti berbagai penyakit kegalauan terhadap dirinya sendiri, nihil nilai-nilai ibadah, kehilangan Identitas dalam aktivitas keseharian, dan yang lebih tragis semakin jauh dari unsur-unsur ketuhanan (Tuhan telah di bunuh dalam dirinya). Alih-alih masyarakat semakin baik hidup di zaman postmodern ini, mereka terperangkat dalam jeruji kesibukan yang menyebabkan semuanya dangkal dan tanpa makna apa pun.

Kondisi postmodern dibentuk oleh nilai-nilai globalisasi yang menyebar dengan cepat seperti sebuah parasit dan virus. Nilai-nilai itulah yang dengan fasilitasnya yang lengkap (dari Televisi, Handphone, Smartphone hingga internet) menciptakan sebuah gerakan dalam sistem yang sulit untuk dibendung dan diubah, yaitu kapitalisme, materialisme, liberalisme, rasionalisme dan hingga nilai-nilai positivisme. Tragisnya pula nilai-nilai ini juga membentuk perilaku dan gaya hidup masyarakat yang hedonis, banalis, pragmatis, dan skeptis. Sehingga mengantarkan keadaan masyarakat yang abai dan cuek terhadap nilai-nilai luhur, kedalaman makna, ketinggian ilmu pengetahuan dan filosofi hidup di dunia ini.

Berangkat dari kondisi itulah KITASAMA didirikan dengan segala kemampuan apa adanya, mulai dari keterbatasan dana, kekurangan sumber daya manusia dan minimnya pengetahuan untuk membesarkan lembaga itu sendiri. Tanpa donatur tetap—hanya iuran anggota yang tidak bisa dipastikan, lembaga ini dijalankan dengan penuh konsisten, istiqomah, dan dengan memohon bimbingan Guru Mursyid agar Allah Yang Maha Mengetahui memberikan rahmat, karunia serta nikmat-Nya kepada KITASAMA.