TIGA PROBLEMATIKA SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN DI KARANGAGUNG

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Ada tiga problematika sosial yang saat ini dihadapi oleh masyarakat nelayan desa Karangagung. Problematika ini menjadikan kehidupan masyarakat nelayan lebih jauh dari kenyataan beragama dan moralitas, sehingga cenderung dekat dengan perilaku yang menyimpang. diantaranya adalah pelacuran, kenakalan remaja dan etika sehari-hari

Prostitusi di desa Karangagung berjalan secara ilegal dan tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum. Namun keberadaannya sangat diketahui oleh sebagian besar nelayan muda maupun nelayan tua. Para pelacur umumnya adalah orang asing dari luar desa Karangagung yang mendapatkan fasilitas dari penduduk asli desa Karangagung. Mereka menjalankan bisnis dengan cara diam-diam dan tidak secara terbuka, pelanggannya yang terbanyak biasanya adalah para nelayan kaya dengan uang yang lumayan tebal. Mereka menjalani bisnis ini di rumah-rumah yang jauh dari pandangan manusia, terutama rumah-rumah yang terhimpit diantara rumah lainnya. Mereka (para mucikari dan pelacur) juga menyediakan minum-minuma keras secara tersembunyi dengan harga yang disesuikan dengan harga yang ada dipasaran. Praktis, dengan adanya kegiatan prostitusi dan penjualan minuman haram ini maka Karangagung termasuk salah satu merupakan salah satu desa yang sangat rentan dengan kerusakan moral dan kerusakan akhlak. Akibatnya masyarakatnya pun terlalu memuja kesenangan dan pesta pora yang tidak ada manfaatnya secara ukhrawi.

Menurut Iswanto, salah satu nelayan belah yang mengetahui kegiatan haram ini mengatakan bahwa “orang nelayan Karangagung dengan kegiatan pelacuran adalah hal yang satu kesatuan”, artinya setiap nelayan akan identik dengan perilaku penyimpang ini. menurutnya, dikalangan anak-anak muda atau pris dewasa yang masih muda seorang nelayan yang belum merasakan dunia prostitusi dianggap belum mempunyai “nilai-nilai” ke-nelayan-an sejati.[1]

Kegiatan haram yang saling melengkapi ini, antara prostitusi dan penjualan minuman haram memang tidak terbuka dan “blak-blakan” di desa Karangagung, karena mereka masih menghargai beberapa tokoh agama tertentu yang dianggap terhormat, dan masih ‘sungkan’ dengan pihak perangkat desa. Mereka menjalani secara ‘rahasia’ dan tertutup dirumah-rumah atau di warung-warung secara tersembunyi. Ketika dijual di warung minuman haram dan kegiatan prostitusi hanya ditawarkan secara diam-diam.

Menurut Imam Aretatollah, salah satu tokoh agama dan kaum terpelajar yang hidup di desa Karangagung mengatakan bahwa kaum nelayan di desa Karangagung merupakan orang-orang yang sangat dekat dengan dunia prostitusi. Mereka akan selalu menjalani kehidupan pelacuran itu dimanapun berada, ketika menjalankan kegiatan nelayan di rumah ataupun menjalankan kegiatan nelayan di luar desanya yang sering disebut dengan pamenan. Orang-orang nelayan Karangagung menyukai hubungan dengan selain istrinya dimanapun berada, mereka akan selalu menginginkannya dan selalu berusaha untuk mendapatkannya. Kendati dengan kondisi keuangan yang sangat menipis.[2]

Moh. Syihabuddin menambahkan, bahwa dengan uang yang sedikit saja mereka akan berupaya keras untuk dapat ‘membeli berhubungan haram’ dengan para pelacur, apalagi jika mereka mendapatkan banyak uang dari pekerjaan nelayannya tentu mereka akan semakin menggila dan semakin memuaskan dirinya dalam gelimpangan kemaksiatan pelacuran diluar batas, termasuk diantaranya meniduri dan menaiki satu pelacur dengan lima sampai empat pria nelayan. Mereka bisa melakukan itu dikarenakan mereka merasa punya uang dan merasa bisa menaklukkan segalanya untuk mendapatkan kesenangan.

Problematika kenakalan remaja-remaja di desa Karangagung juga mulai semarak, hal ini dikarenakan didukung oleh keberadaan internet di warung-warung kopi yang ada di dalam perkampungan. Mereka bebas membuka situs-situs yang khusus orang dewasa, bermain game online dan menghabiskan waktunya selama berjam-jam. Kenakalan ini dibentuk melalui internet dan didisain dengan cara melakukan berbagai kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Mereka malas sholat, malas belajar, malas mengaji dan malas pula melakukan kegiatan belajar di sekolah atau madrasah. Kebanyakan anak-anak ini pada akhirnya akan ikut-ikutan bergabung dengan orang-orang dewasa dalam hal kenakalan, termasuk menjalakan kegiatan prostitusi secara ilegal.

Sejak munculnya internet atau masuk pada tahun 2010-an kenakalan anak-anak remaja di desa Karangagung memang sudah mulai menurun, yakni tidak adanya tawuran antar pelajar, tidak ada perkelahian atau pencurian yang dilakukan oleh remaja. Akan tetapi mereka semakin bodoh dan semakin jauh dari kegiatan-kegiatan yang bisa membangun akhlaknya, jauh dari kegiatan yang bisa membentuk pengetahuan agamanya dan yang paling penting sudah tidak lagi mampu dikendalikan oleh orang tuanya. Karena selain orang tuanya juga sudah rusak mereka juga sudah tidak lagi diperhatikan oleh orang tuanya secara pendidikan keagamaan.

Menurut Darmawan, salah satu ustadz yang mengajar mengaji di Taman pendidikan al-Qur’an Masjid Dalem Nurul Iman di Karangagung kawasan Timur mengatakan bahwa kenakalan remaja di Karangagung lebih banyak dibentuk oleh ketidakperhatiannya orang tuanya dengan perkembangan anaknya. Anak-anak kurang mendapatkan perhatian secara penuh dalam menjalani kegiatannya sehari-hari, kebanyakan dari mereka dibiarkan saja tanpa ada perhatian tentang perilaku dan perkembangannya. Justru yang menjadi perhatiannya hanyalah makan pagi, siang dan sorenya.[3]

Problematika yang dihadapi oleh masyarakat desa Karangagung diantaranya adalah etika kehidupan yang tidak terlalu memperhatikan adanya halal haram, baik buruk, pantas dan tidak pantas. Tidak adanya penghormatan terhadap orang yang lebih tua dan tidak ada kasih sayang terhadap anak-anak yang lebih muda, apalagi anak kecil. Problematika etika ini juga berdampak terhadap ucapan-ucapan yang menjadi komunikasi sehari-hari mereka yang disertai dengan umpatan. Misalnya kalimat kake’ane, jakcuk, seset, mbokmu, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang keluar dari mulut para remaja yang kurang mendapatkan perhatian ini.

Menurut Ahmad Sifyani, salah satu Guru di Madrasah Ibtida’iyah di Karangagung bahwa kata-kata atau ucapan-ucapan yang dikeluarkan dari mulut orang-orang Karangagung dan anak-anaknya tidak lain merupakan bentukan dari perilaku mereka yang tidak ada penghormatan diantara mereka, antara orang tua dengan anak muda. Mereka juga tidak terlalu hormat pada sosok guru atau ustadz yang mengajar mengaji. Ucapan-ucapan mereka dibentuk menjadi keras, kasar dan penuh umpatan merupakan hasil dari interaksi yang tidak sehat dan kurang memperhatikan etika dan moralitas.[4]

[1] Wawancara dengan iswanto yang dilakukan pada 6 Januari 2020 di Rumahnya di Desa Karangagung bagian Timur

[2] Wawancara dengan Imam yang dilakukan pada 17 Januari 2020 di kediamannya di Gedungombo Blok A nomor 4 Tuban.

[3] Wawancara dengan Ustadz Darmawan pada 20 Januari 2020 di teras masjid dalem Nurul Iman Karangagung.

[4] Wawancara dengan Ahmad Sifyani di kediamannya pada 19 Januari 2020.

One Thought to “TIGA PROBLEMATIKA SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN DI KARANGAGUNG”

  1. Всем привет, хочу порекомендовать вам хороший сайт о Форексе http://www.forex-book.top

Leave a Comment