POTONGAN BATU PENYUSUN PERADABAN (Janissary Jawah Episode ke-38)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

“Kang mas, kang mas, bangun, bangunlah. Ada apa. Bangun. Cepat.” Teriak Mei Xioling yang ada disampingnya. Herlina dan Yilmaz juga melakukan hal yang sama, untuk menyadarkan suaminya dari ingauan yang membangunkan tidurnya dan juga menakutkan itu.

Ngapudin bangun dari tidur pulasnya. Matanya dibuka pelan-pelan, sambil kedua tanganya mengusap-usap matanya. Di depannya sudah ada Yilmaz yang mengkhawatirkan teriakkannya. “Apa yang terjadi, sayang?” tanya Yilmaz.

“Kau mimpi buruk lagi?” sahut Herlina, yang memegangi tangan kiri Ngapudin.

“Kau masih hidup?” tanya Ngapudin kepada Yilmaz.

“Iya, lihat sendiri. Aku masih hidup.” Jawab Yilmaz. “Dan tetap cantik, seperti yang kaulihat, sayang.”

Airmata Ngapudin keluar, tatapan sedihnya langsung tergores diwajahnya. Matanya semakin menampakkan pancaran yang penuh ketakutan. Saking takutnya, tangannya langsung menggapai tubuh Yilmaz dan memeluknya dengan erat.

“Aku sedang bermimpi buruk, mimpi yang sangat buruk.”

“Kakang, teriakkanmu ini sama dengan saat kali kita tidur dirumah kakek yang dibakar oleh Erwin dan tentaranya.” Kata Mei Xioling yang ada disampingnya.

“Entahlah, aku tidak mengerti dengan apa yang kuimpikan ini.” Ngapudin tetap memeluk Yilmaz.

“Apa yang kauimpikan, sayang.” Yilmaz berusaha menenangkan hatinya.

“Aku tidak bisa menjelaskannya.” Pelukan eratnya terus dicengkramkan kepada Yilmaz. “Yang jelas, aku tidak ingin mengulanginya lagi, ini bisa membuatku gila dan traumatik.”

“Baiklah, tenangkan dirimu kakang. Kau pasti aman bersama kami. Kami semua ada disampingmu. Kami semua menjagamu.” Tegas Yilmaz.

“Terima kasih sayang, terima kasih semua untuk kalian.” Ngapudin memeluk semua istrinya, menciumi keningnya masing-masing dan memegang rambutnya masing-masing. Lalu tak lama itu melepaskannya. Menatik nafas dan menenangkan dirinya. “Kalian istri-istri yang hebat dan kuat. Aku bangga memiliki kalian.”

“Tentu saja kakang, aku pun bangga denganmu, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan dirimu. Selama kita semua masih bersama.” Mei Xioling menguatkan hatinya Ngapudin.

Ngapudin sedikit tenang dan bisa merasakan legahnya nafas yang ditarik dari dada. Pikirannya sedikit demi sedikit bisa stabil untuk digunakan berfikir secara jernih. Bayangan akan kekejaman yang baru saja dialaminya dalam mimpinya berlahan-lahan mulai lenyap.

“Kami semua menjadi istrimu bukan sebuah kebetulan, tapi sebuah takdir yang harus dijalani dan sebuah rencana masa depan yang harus disukseskan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami, suamiku.” Yilmaz menyahut. “Kami semua akan kompak untuk menjagamu.”

Ngapudin diam. Pikirannya terlihat sedikit merenungkan apa yang tidak dipahami oleh istri-istrinya. “Berapa jam kita tidur, istriku?” ia mulai bertanya tentang tidur yang dialaminya.

“Lumayan, kurang lebih satu jam. Dan aku belum pulas menikmatinya.” Sahut Herlina, memperjelas kondisi tubuhnya. “Apalagi anginnya malam ini sangat dingin sekali, tentunya kami semua saat ini membutuhkan pelukanmu, agar esok pagi bisa melakukan perjalanan yang lebih panjang lagi.”

“Bagaimana kalau kita tidur lagi?” ajak Mei Xioling. “Mungkin tiga jam atau empat jam lagi sudah cukup untuk mengistirahatkan tubuh kita.”

“Tidak bisa, aku tidak bisa tidur lagi.” Kata Ngapudin dengan nada yang sedikit ketakutan. “Aku takut untuk tidur dua kali dalam semalam. Dan apakah kalian tahu, tentang apa yang kualami dalam mimpiku tadi?” katanya.

Yilmaz menggelengkan kepalanya, begitu juga Herlina dan Mei Xioling, dengan bibir yang sedikit menciut.

“Pastinya yang kualami ini benar, benar-benar berbeda.” Ngapudin seperti orang yang linglung.

“Apanya yang benar, sayang. Kau membicarakan apa, tolong diperjelas?” tanya Yilmaz.

“Seperti yang barusan tadi kaukatakan, sebelum kita tidur.” Ngapudin semakin membuat bingun para istrinya.

“Iya, apa?” tanya Yilmaz keheranan dengan apa yang ada dalam pikiran suaminya.

“Jembatan ruang-waktu. Iya, itu. Mimpi adalah jembatan ruang-waktu.” Ngapudin menatap wajah semua istrinya, seolah ada sesuatu yang baru yang harus disampaikannya. “Satu jam di dunia ini sama halnya satu hari di dunia sana. Atau mungkin ada yang lebih panjang lagi di dunia yang lain lagi, tergantung dimensi mana yang akan dikunjunginya. Ini sama persis dengan waktu yang kemarin kita alami. Dan aku mengalaminya dengan kenyataan yang sebenarnya.” Matanya menatap Herlina dan Mei Xioling.

“Berapa hari kau disana?” tanya Yilmaz, pikirannya mulai memahami apa yang dialami oleh suaminya.

“Satu hari. Benar, aku disana satu hari.” Tegas Ngapudin. “Dan kalian menjalaninya satu jam saja di dunia ini.”

Beberapa saat hening, diam dan sedikit mencekam, karena masing-masing pikiran menguraikan pengalaman yang disampaikan Ngapudin. Semua mata saling melempar pandang, terpusar-pusar diantara kebimbangan dan keraguan.

***

“Kita perlu tahu, mengapa kau mengalami hal itu, sayang.” Yilmaz berusaha membuka-buka kemungkinannya. “Apakah karena ada hubungannya dengan kitab wasiat tanpa tulisan itu? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang kaubawa?”

“Aku tidak bisa menjelaskan. Karena aku sendiri juga tidak tahu. Sejauh ini aku masih berusaha berfikir untuk mencari keterkaitan dengan semua yang sudah kudapatkan.” Ngapudin mulai kedinginan, bajunya yang tidak terlalu tebal membuatnya sedikit gemetar.

“Sebentar, jika tidak salah. Pertemuanku denganmu, lalu dengan kita semua tidaklah sebuah kebetulan.” Kata Herlina yang memelototi suaminya.

“Lalu?” Mei Xioling berusaha menyatukan pikirannya dengan pikiran Herlina.

“Perang Diponegoro di tanah Jawa, tanah Hindia ini sebagai ahli waris Utsmani di masa depan, kitab wasiat pangeran, dan mimpi-mimpi yang kaualami, termasuk dengan pernikahanmu dengan kami semua.” Herlina terlihat serius dengan penjelasannya. “Sepertinya semuanya berberhubungan dan memiliki keterkaitan.” Tangan Herlina diangkatnya.

“Iya, iya, betul juga,” Mei Xioling mulai membuka pikirannya, matanya mengarah ke wajah Ngapudin. “Takdirku, takdir Yilmaz dan bergabungnya Herlina yang menjadi istri-istrimu bukanlah sebuah kebetulan yang wajar, namun sebuah jalan yang akan mengantarkan kita semua pada sesuatu yang lebih besar. Termasuk pernikahanmu dengan Nimas Ayu Syarifah.”

Ngapudin menggelengkan kepalanya, terombang-ambing diantara percaya atau tidak percaya. “Artinya apa dengan semua itu?” tanyanya.

“Itulah yang menjadi pusat pembahasan kita dan menjadi misi kita.” Sahut Yilmaz. “Kita harus segera ke pesantren yang berada diantara dua gunung. Di pesantren itulah kita bisa menemukan jawaban dari potongan-potongan fakta yang kita temukan ini. Sekaligus kita segera menyusul Nimas Ayu Syarifah.”

“Tentu kita semua pasti kesana, untuk menemui Nimas Ayu Syarifah. Tapi bagaimana caranya menghadapi para serdadu Belanda dan prajurit Mangkunegara yang terus mengejar kita?” Mei Xioling memikirkan cara menghadapi tantangan pertempuran yang dihadapinya sepanjang hari ini. “Tentunya, semakin hari akan banyak para pendekar bayaran yang disewa untuk mengejar kita.”

“Kita akan menghadapinya bersama. Dan terus menerus berlari hingga sampai di pesantren diantara dua gunung itu.” Sahut Yilmaz. “Mungkin dalam beberapa pacuan kuda lagi kita bisa sampai.”

“Kita akan mendapatkan kuda untuk pergi kesana.” Ngapudin mengendurkan suaranya, semakin tenang dan bisa membuat hatinya kembali bersemangat. “Tapi sekarang, aku ingin kalian semua istirahat di dalam tenda kapal ini. Biar aku yang berjaga dibelakang sini, sambil mengatur arah kapal.”

“Mei Xioling, Herlina, sebaiknya kalian istirahat. Aku akan menemani suami kita berjaga di belakang sini. Anggaplah malam ini giliranku menjaganya.” Yilmaz tersenyum, bergurau dengan saudara-saudaranya dengan penuh perasaan gembira.

“Baiklah kalau begitu, kami istirahat dulu. Jika nanti sudah capek, bangunkan aku ya, kita gantian. Jagalah baik-baik suami kita.” Sahut Mei Xioling dengan senyuman.

Herlina dan Mei Xioling masuk ke dalam tenda kapal. Bersandar pada sebuah bongkahan kayu untuk dijadikan bantal, lalu lelap menikmati tidurnya. Sedangkan Yilmaz duduk di belakang kapal menemani Ngapudin.

***

“Sayang, kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama?” tanya Ngapudin sambil menggerakkan kemudi perahu yang terus mengalir mengikuti arus deras sungai.

“Pertanyaan yang mana?” jawab Yilmaz.

“Kamu tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu jawabannya.” Ngapudin menggerakkan kemudi kapalnya yang terbuat dari papan kayu jati. “Ternyata benar apa yang dikatakan oleh kawan kakekmu. Kau adalah gadis yang serba kekurangan, tidak sempurna bagian penting tubuhnya, dan sangat terbelakang secara mental. Dan ternyata, semua itu ada benarnya.”

“Benar bagaimana, apa yang kau mengerti dari perkataan itu?”

“Saat menikahkanku denganmu dan menyerahkan tiga benda milik kakekmu itu, aku menyadari bahwa aku telah menikahi seorang gadis yang serba kekurangan dan sangat lemah. Aku harus mempersiapkan diriku untuk bisa merawatmu secara totalitas.”

Ngapudin melemparkan ludahnya ke sungai. Menarik nafas dan sedikit menggerakkan tubuhnya ke depan. “Namun kini, setelah aku bertemu denganmu, kau ternyata sangat terbelakang hingga menembus ke masa depan. Kau memang tidak sempurna, tapi kau adalah gadis yang sangat sempurna. Seluruh bagian tubuhmu tidak berfungsi normal, karena banyak pengikut yang berjuang bersamamu dan setia melindungimu. Telingamu, matamu, dan kaki tanganmu ternyata berfungsi melebihi kemampuan orang kebanyakan.”

“Sayang, kau sangat memujiku terlalu tinggi. Aku hanya perempuan biasa yang belajar apa saja yang bisa kupelajari dari kakekku. Aku hanya berusaha semampuku untuk menjadi perempuan yang kuat dalam segala hal, baik pikiran, mental, hati, atau bahkan tenaganya.” Sahut Yilmaz. “dan seluruh kekuatan yang kupelajari itu aku juga tetap menjadi wanita yang lembut, menjaga perilaku yang santun dan akhlak yang mulia.”

“Dan itulah yang membuat dirimu tidak sempurna, tapi sangat sempurna. Aku bangga dan bahagia memilikimu, sayang.” Ngapudin menatap mata istrinya.

“Aku juga bangga bersamamu dan berada dalam tanggungjawabmu.” Yilmaz menyahut, matanya yang mendapatkan pancaran sinar bulan semakin menunjukkan kecantikannya. “Kau seperti manusia yang bukan manusia, manusia yang dikaruniai cobaan dan kenikmatan yang tidak didapatkan oleh orang lain. Kau manusia yang dilahirkan untuk membangun negeri ini bersama istri-istrimu yang lain agar bisa meneruskan kejayaan Islam dalam bentuknya yang sesuai dengan kebutuhan zaman.”

“Aku tidak pernah memikirkan sejauh itu, sayang. Tapi kau justru membacanya jauh lebih luas, yang mana pemahamanku sendiri tidak sampai pada pemikiran itu.” Kata Ngapudin dengan nada yang merendah.

“Sayang, kau bisa menceritakan pertemuanmu dengan kawan kakekku itu, karena aku penasaran dengan pertemuanmu itu.” Yilmaz berusaha mencari tahu keadaan suaminya.

Ngapudin tersenyum menatap wajah Yilmaz, yang semakin cantik dalam hembusan angin malam. “Baiklah, aku akan menceritakannya padamu. Termasuk apa yang kupendam dari mimpi-mimpiku.”

bersambung… baca selengkapnya di buku “JANISSARY NUSANTARA”

Leave a Comment