DERITA ISTRI PERTAMA PEMBAWA AMANAH (Janissary Jawah episode ke-36)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Waktu itu, dua hari lalu hujan deras di pinggiran kampung di kota Tuban, aku melihat segerombolan perampok yang membawa senjata tajam sedang mengeroyok seorang perempuan cantik yang berkerudung, sambil membawa bungkusan dipunggungnya, cambuk dipinggangnya, dan senapan yang diselempangkan dipundaknya.

Perempuan itu menghadapi para perampok sendirian dengan menggunakan cambuknya, yang menyingkirkan beberapa perampok lemah yang ingin merebut senapan dan bungkusannya.

Orang-orang kampung yang melihat kejadian itu hanya bisa diam, karena para perampok itu terkenal kekejamannya dan keganasannya dalam mengambil harta para pedagang dan saudagar. Tidak ada orang kampung biasa yang berani menghadapinya.

Waktu itu aku dan kakekku beserta murid-muridnya ingin pulang kembali ke Anatolia di negeri kesultanan Utsmani, karena telah mengalami putus asa terhadap harapan yang sudah tidak nampak lagi setelah tertangkapnya pangeran Diponegero. Kakekku putus asa dengan ramalan dan persiapan yang telah direncanakannya untuk membangun peradaban di negeri ini, karena ternyata perlawanan Diponegoro bisa dikalahkan.

Apalagi kawannya yang diminta untuk menemukan jodohku tidak kunjung menemukan pilihannya. Maka lengkap sudah rencana untuk kembali ke wilayah kesultanan Utsmani, dan kami tidak mempunyai harapan untuk membangun kemakmuran Islam di negeri Hindia ini. Padahal seluruh perangkat pernikahan dan benda-benda keramat kakekku sudah diserahkan kepada kawannya itu, agar segera menemukan sosok yang akan menjadi jodohku dan bisa membawa benda-benda itu kembali kepadaku, untuk membuktikan kalau sosok yang terpilih adalah suamiku.

Sebelum berangkat dan menuju ke kapal yang akan kami tumpangi, tiba-tiba kakekku hatinya terrenyuh dan merasa iba dengan perempuan yang diserang oleh para perampok itu. Karena perlawanan yang diberikan para perampok semakin lama-semakin ganas terhadap perempuan itu.

Perempuan itu mengalami luka yang sangat dalam, dadanya mendapatkan pukulan keras jurus telapak elang saat menghadapi pimpinan perampok. Sehingga membuatnya muntah darah dan tersungkur ditanah. Tubuhnya penuh darah, kakinya mengalami patah akibat pukulan kayu yang dilontarkan oleh salah satu pendekar perampok itu dan tanganya mengalami luka bacokan yang tidak terlalu dalam.

Menyaksikan penganiayaan itu tentu saja membuat kakekku marah dan merasa yang dilihatnya adalah cucunya sendiri, aku. Apalagi setelah melihat jenis senapan yang dibawanya, yang tidak sama dengan jenis senapannya Belanda, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu prajurit elit pangeran Diponegoro, Laskar Turkiyo, maka semakin yakin saja kakekku untuk memberikan pertolongan kepadanya.

Kakekku langsung memerintahkan beberapa muridnya untuk menghadapi para perampok itu, menembaki mereka dan menghajarnya hingga tersungkur. Hampir semuanya melarikan diri dengan penuh luka dan perasaan yang penuh ketakutan.

Kakekku mendekati perempuan itu dan memerintahkan murid-muridnya untuk mengangkatnya dengan tandu. Lalu menyewa satu rumah terdekat untuk beristirahat dan mengobati luka-lukanya. Saat itulah aku mendekatinya dan mengobati lukanya.

Aku berkenalan dengannya, menunjukkan nama masing-masing, lalu membicarakan tentang dirinya.

“Nyai, lukamu sangat parah. Sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu beberapa hari disini. Kami akan menemanimu.” Kataku. “dan memberikan pelayanan penuh hingga anda sembuh.”

“Kau harus menolongku, nyai. Kumohon, tolonglah aku dan selamatkan suamiku.” Katanya dengan tangisan penuh kesedihan.

“Apa yang kamu alami anak muda dan dimana suamimu?” tanya Kakekku dengan suara lembut.

Saat itulah Nimas menceritakan segalanya tentang tujuannya, pelariannya dengan mu, dan identitasmu yang sebenarnya. Dengan panjang lebar dia bercerita perihal laskar Turkiyo yang sudah musnah, namun tetap melanjutkan pertempuran. Lalu menunjukkan pada kakekku, benda wasiat yang dibawanya amanah dari pangeran Diponegoro. Dan terakhir, menunjukkan senapan milikmu yang dibawanya, yang menyakinkan kami bahwa Nimas adalah istri dari salah satu prajurit Turkiyo.

Sepanjang hari aku menemani istrimu berbicara dan memberikan minuman obat dalam, agar segera membaik penyakit yang dideritanya. Namun dikarenakan yang diserang adalah bagian dalam maka lukanya sangat dalam sekali, lambung kirinya robek dan jantungnya menjadi lemah. Membutuhkan waktu panjang untuk memulihkannya. Beruntung kami semua membawa ramuan yang bisa memulihkan luka-luka dalam segala jenisnya, sehingga kami bisa merawatnya.

“Kau perempuan yang baik nyai Yilmaz, semoga aku bisa membalas kebaikanmu ini.” katanya.

“Nyai terlalu memuji. Sesama muslim itu bersaudara, sangat dianjurkan untuk saling membantu dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkannya. Saat ini kau membutuhkan pertolonganmu, maka aku akan memberikannya secara sukarela kepadamu.”

“Dan aku akan memintamu untuk menolongku lagi?”

“Apa yang kau minta, nyai?”

“Aku tidak yakin suamiku bisa selamat dari pertempuran yang akan dihadapinya. Dia akan terus dikejar oleh kawanan pendekar bayaran dan prajurit Belanda sebelum dia sendiri mati. Belanda tidak ingin laskar Turkiyo kembali berjaya dan meneruskan perlawanannya pangeran Diponegoro. Kau harus membantunya untuk melarikan diri dari kejaran itu. Sampai benda yang kubawa ini belum didapatkan oleh mereka, suamiku akan menjadi sasaran yang tidak ada henti-hentinya.”

“Tenang saja nyai, kakekku sudah mempertimbangkan itu. Aku akan menolongnya dan menyelamatkan demi nyai. Nyai Nimas, anda membawa amanah yang sangat berat dan sangat penting bagi kami. Kami tentunya kami akan menolong anda.”

“Kau sudah tahu benda yang kubawa itu?” Nimas menatap matanya kearah benda yang dibawanya yang ada disampinya.

“Iya, kami sudah tahu, tapi belum memahaminya. Tapi kakekku menyakini bahwa kitab inilah yang akan membuktikan proses perpindahan kepemimpinan umat Islam dari kesultanan Utsmani menuju ke para ulama di negeri Hindia.”

“Apa maksud anda dengan perpindahan kepemimpinan?”

Dan aku menjelaskan panjang lebar tentang perpindahan kekuasaan kepemimpinan Islam dari kesultanan Utsmani ke para Ulama di Hindia Belanda ini, hingga dia mengerti dan paham secara jelas, bahwa masa depan umat Islam kelak seratus tahun lagi akan berpindah ke negeri ini.

“Jadi anda jauh lebih mengerti dari pada saya tentang benda ini, nyai.”

“Tentu saja, benda ini sudah menjadi legenda di kehidupan keluarga kami. Kami sudah lama ingin menemukannya dan ingin memahaminya. Namun baru kali ini aku bisa melihatnya.”

“Nona, aku menyukaimu. Maukah kau membalas dan menerima rasa terima kasihku atas pertolongan yang kau berikan?”

“Iya, nyai. Apa?”

“Jika kau nanti menolong suamiku, dan kau cocok dengannya, kumohon kau mau menikah denganya, biar kita bisa hidup bersaudara dan membangun rumah tangga bersama.”

Waktu itu aku berfikir tentang jodohku yang sudah diserahkan kepada kawannya kakekku. Aku pun tidak serius menanggapi permintaan Nimas.

“Nyai, anda sangat baik sekali. Tapi bagiku itu berat dan kurang layak bagiku.” Jawabku dengan merendah.

“Tidak nyai, kau sangat cocok dengan suamiku. Dia orang yang baik, bertanggungjawa, dan sangat cerdas. Aku hanya menjalani kehidupan dengannya cuma setngah hari, dan itu sudah menyakinkanku untuk menyandarkan seluruh hidupku padanya. Aku yakin dia juga sangat baik untukmu. Jadilah istrinya, ketika nanti nyai menemuinya. Nimas menangis dan meneteskan airmata. Suaranya lirih sedih, matanya tidak mencerminkan harapan untuk tetap hidup. “Apalagi jika nanti nyawaku tidak tertolong lagi, maka kau harus menjadi istri dari suamiku.”

“Nyai, anda tidak perlu mengatakan itu padaku. Kau harus tetap hidup dan bertemu dengan suami anda. Dia akan selamat dan bisa menemui anda dengan kondisi sehat.” Kataku dengan meratapi kesedihannya.

“Dengan kondisiku seperti ini aku tidak yakin bisa meneruskan hidup ini. Secara jasmani aku masih perawan, namun secara ikatan nikad aku sudah menikah. Suamiku belum menyentuhku sama sekali. Aku hanya menciumnya satu kali saat aku meninggalkannya.

“Nyai, tenangkan saja hatimu. Aku akan menjagamu dan sekaligus menolong suami anda yang masih dalam kondisi bertempur.”

“Aku bangga bisa bertemu denganmu. Jika kau bertemu dengannya sampaikan salamku padanya. Aku tidak bisa melajutkan kehidupanku dengannya, kau harus meneruskannya. Meneruskan kehidupanku dengannya.”

“Nyai, kau jangan begitu.” Aku berkata padanya dengan lembut dan memegangi tanganya. “Jika bertemu dengannya aku akan menceritakan padanya tentang diri anda. Kau akan tetap sehat dan akan tetap bisa bertemu dengannya.”

Taklama itu aku memberinya ramuan tidur agar dia bisa tenang. Malam itu juga aku dan kakekku membicarakan tentang rencana untuk memberikan pertolongan kepada suaminya, serta mempertimbangkan banyak hal tentang masa depan kekhalifahan pasca Utsmani seratus tahun yang akan datang. Dan malam itu keputusannya adalah aku dan sebagian muridnya harus menetap di Jawa untuk memberikan pertolongan pada laskar Turkiyo, sekaligus meneruskan misiku untuk menemukan jodohku.

“Nyai, aku akan menolong suami anda. Beberapa inteljen kami sudah bergerak untuk menemukan suami anda. Jadi tenagkanlah diri anda.”

“Terima kasih nyai, semoga Allah membalas anda dengan imbalan yang setimpal dan lebih besar. Namun aku tetap berharap, anda mau menikah dengannya.”

“Tenanglah, dia akan bertemu dengan anda dan akan menemui anda dengan selamat.” Kataku menguatkan hatinya.

“Nyai, beberapa prajurit kami akan mengantarkan anda menuju ke timur, di pesantren yang ada di antara dua gunung untuk menyampaikan wasiat anda. Dan sebagian dari kami akan menolong suami anda, aku yang akan memimpinya sendiri. Aku sudah mendiskusikan banyak hal tentang anda, laskar Turkiyo dan kitab wasiat yang anda bawa. Kakekku sudah memberikan banyak wawasan kepadaku tentang kitab wasiat ini.”

Ketika hari sudah siang, aku berangkat menuju ke selatan untuk memberikan pertolongan pada laskar Turkiyo, yang konon sudah ditinggalkan oleh kawan-kawannya dan hanya ditemani oleh satu budak Jermannya. Dan pada saat itulah, pada hari berikutnya aku baru bisa menemukan kapten Turkiyo dan bisa memberikan pertolongan kepadanya.

Sedangkan kakekku sendiri berserta beberapa muridnya kembali ke Anatolia. Beliau rela meninggalkan aku sendirian disini dengan segala tanah yang sudah dibelinya di kawasan pegunungan dan di pesisir Tuban. Harapannya semakin menyakinkan dan menguatkan hatiku, bahwa adanya kitab yang dibawa Nimas telah menguatkanku akan peralihan peradaban islam dari Utsmani ke negeri Nuswantara ini. dengan demikian aku akan berjuangan sampai titik darah terakhir hingga menemukan suami yang akan menikahiku dan melahirkan anak-anakku.

bersambung ….. baca selengkapnya di buku JANISSARY JAWA, novel sejarah dan pemikiran Islam

One Thought to “DERITA ISTRI PERTAMA PEMBAWA AMANAH (Janissary Jawah episode ke-36)”

  1. Всем привет, хочу порекомендовать вам хороший сайт о Форексе http://www.forex-book.top

Leave a Comment