DUA JAM SEBELUM PEMBANTAIAN (Janissary Jawah Episode ke-32)      

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Yilmaz melepas kaos tangannya yang terbuat dari kulit. Matanya tertuju pada bungkusan kantong yang diterimanya dari lelaki yang ada di depannya. Ia sama sekali tidak menyadari apa isinya ada apa maksud yang akan disampaikan oleh orang yang ditolongnya ini.

Setelah membuka kantong ditanganya, dan mengetahui isinya, Yilmaz hanya bisa diam, ia mati kutu, seolah mendapatkan hantaman petir yang sangat keras yang memecahkan telinganya. Matanya tertundu kebawah, menatap kedua kakinya, lalu berlahan-lahan airmatanya yang jernih membasahi pipinya yang lembut dan merah merona.

Tidak ada yang bisa dikatakan oleh Yilmaz kecuali menangis, menangis, memangis terus dan hanyut dalam kebahagiaan yang ada di dadanya.  Apa yang diharapkannya dan apa yang diimpikannya ternyata sudah ada di depan matanya, sosok yang tidak pernah terbayang olehnya, dan tak pernah terbesit dalam pikirannya. Dia tidak bisa melakukan banyak hal-hal siang itu, kecuali terdiam untuk sementara dan terpaku dihadapan suaminya.

Kitab al-Qur’an Istanbul yang berukuran enam sentimeter persegi, sebotol kecil minyak wangi za’faron, dan sebuah tasbih adalah sebuah wasiat, sebuah bukti dan sebuah amanah serta takdir terbaik yang menunjukkan dirinya akan ketentuan masa depan hidupnya. Lelaki yang membawanya adalah pilihan Allah, pilihan terbaik untuk melanjutkan kehidupan di negeri Hindia yang dikuasi Belanda. Lelaki yang membawa ketiga benda itu tidak lain adalah pelindungnya, orang yang akan menanggung dosanya, orang yang akan menjaga harga dirinya, orang yang akan menciptakan peradaban baru pasca kekuasaan kesultanannya di dunia tengah, dan orang yang akan memberikan keturunan terbaik untuk meneruskan keilmuan yang telah dirintis oleh kakeknya.

Selama setengah jam, Yilmaz hanya bisa diam seribu bahasa, kata-katanya hanya disampaikan dalam wujud airmata yang membasahi wajahnya, dan kedua tangannya menggenggam erat apa yang baru saja dipegangnya. Setelah semua itu, dia baru bisa menggerakkan tubuhnya dan mengeluarkan kata-kata.

Yilmaz duduk tersipu dipangkuan Ngapudin. Ia memeluk suaminya yang baru ditemukannya itu. Kedua tanganya merangkul tubuh lelaki yang dalam sekejap disadarinya sudah halal baginya.

Ngapudin membalas dengan merabah kepalanya yang tertutup kerundung sutra, mengelus punggungnya dan sedikit menahan detakan yang muncul dari jantungnya.

“Kapan kau menikahiku, suamiku?” tanya Yilmaz sambil terus menangis tak mampu menahan rasa bahagia dalam dirinya.

“Kemarin, dua hari lalu. Saat aku mampir di gubuk kiai Sastro, kemudian memakan pisang dan air kendi diranjang yang ada diluar gubuknya.” Kata Ngapudin.

“Kau benar-benar suamiku jika kau melakukan itu. Benda ini juga membuktikannya.”

Yilmaz berdiri, menenangkan hatinya, mengeringkan airmata dipipinya, dan berusaha tetap tampil anggun dengan sedikit canggung. Ngapudin tetap dalam posisi duduknya.

“Hari ini juga, kau harus menikahi Herlina.” Kata Yilmaz.

“Apa maksudmu?” tanya Ngapudin tercengang, sambil berdiri dari duduknya. “Aku sudah mempunyai istri, lalu menikahi Mei Xioling, terus mendapatkan istri kamu. Dan sekarang, kau meminta aku menikahi Herlina, apa aku mampu?”

“Ini bukan persoalan mampu atau tidak mampu. Ini adalah sebuah rekayasa zaman dan kombinasi ilmu pengetahuan serta pengembangan peradaban.” Tegas Yilmaz.

“Aku tidak paham dengan apa yang kamu katakan, adik?” Ngapudi berusaha mendapatkan jawaban dari istrinya yang baginya aneh ini.

“Ini sebuah takdirku, sayang. Gadis Utsmani sepertiku di Jawa yang menikah dengan lelaki pilihannya Tuhan, harus menikahi budak Jermannya.” Tambah Yilmaz. “Untuk menyatukan takdir masa depan seratus tahun yang akan datang bagi keberlangsungan kesultanan Utsmani dan tanah Rum.”

“Mengapa harus kunikahi, mungkin sebagai saudara atau apa, budak, murid, begitu?” Ngapudin semakin terlihat tidak berdaya.

“Jika Herlina menjadi saudaramu, kau tidak akan bisa menghamilinya.” Suara Yilmaz meninggi sedikit, hanya sekedar memberikan penegasan. “Kau harus menghamilinya.”

“Upps, jangankan menghamili Herlina, kau dan Mei Xioling saja belum pernah kutiduri.” Ngapudin semakin tercengang. “Termasuk dengan Nimas Ayu, aku belum menidurinya.”

“Apa kau ingin tahu alasannya secara panjang lebar, mengapa menikahi Herlina harus kau lakukan?”

“Kau harus memberitahuku, lagian aku baru saja menunjukkan bahwa aku adalah suamimu, tapi taklama ini kau memintaku menikahi temanku. Apa yang seharusnya terjadi.”

“Yang jelas, satu hal yang kutahui padamu saat ini,” Yilmaz tersenyum, seolah tangisannya tadi tidak pernah terjadi.

“Apa?”

“Kau kaget, kau gerogi, dan kau tak bisa mengontrol dirimu, karena menikahi para bidadari-bidadari dunia. Benarkan!” Yilmaz tersenyum, lirikan matanya menggoda mata Ngapudin.

“Itu sudah jelas, mengapa harus kaukatakan padaku?” dengan nada sedikit dikeraskan, karena saking groginya.

“Sebaiknya, kau dengarkan penjelasanku tentang semua ini.” Yilmaz meneruskan senyumannya. Lalu memegang kepala Ngapudin dan menciumnya tepat dibibir Ngapudin. Dan Ngapudin hanya bisa diam seribu bahasa. Karena ciumannya bibir gadis Turki—baginya—memiliki rasa kenikmatan yang berbeda dengan gadis lainnya. Sama-sama nikmat, namun memiliki cirikhas.

“Sebentar lagi, kau harus mencium gadis Jermanmu itu.” Yilmaz mulai memberanikan diri untuk genit terhadap suaminya. Senyumnya menghilangkan perasaan takut dan menghapus kegalauannya seketika. “Batas sopan santun yang tumbuh sejak awal berubah menjadi batas kasih sayang dan manja yang muncul dalam sekejap.

***

Ngapudin dan Yilmaz kembali duduk di peti-peti amunisi dan senjata. Mereka berdua siap mendiskusikan sesuatu tentang masa depan kesultanan Utsmani di Turki yang sudah diketahuinya, dan hubungannya dengan menikahi gadis Jerman. Bagi Ngapudin, semua itu tidak ada hubungannya.

“Mungkin kau sudah tahu banyak tentang kepergianku ke negeri ini bersama keluargaku dan apa yang telah diyakini oleh kakekku. Bahwa Perang Jawa ini merupakan awal dari perpindahan secara ruhani dalam kenyakinan islam, perpindahan secara energi dalam membangun peradaban, dan perpindahan secara simbolis kepemimpinan untuk seluruh dunia Islam, dari kesultanan Utsmani di Turki menuju ke federasi kekaisaran Hindia-Jawa atau Nusantara.

“Perpindahan ini dilakukan oleh sekelompok ulama pilihan sultan di Istanbul, yang diambil dari seluruh wilayah kekuasaan kesultanan Utsmani. Mulai dari ujung Rumelia hingga Kaukasus, dari pedalam Arabia hingga ke tanah luas Persia, dari pantai-pantai Maghrib hingga pantai-pantai Masyrik, dan dari pedalaman Anatolia hingga belantara Armenia dan Kurdis. Para ulama inilah yang mendapatkan amanah untuk menyiapkan peralihan ini dari tanah Rum di Barat menuju ke Hindia-Jawa di Timur. Karena hanya di negeri inilah keberlanjutan kekaisaran Islam terbesar di dunia bisa diteruskan.”

“Artinya, perpindahan kekuasaan dan peradaban Islam ini beralih, dari Barat menuju ke Timur?” Ngapudin memotong penjelasan Yilmaz.

“Benar, dan kelak di negeri ini akan menjadi penerus kesultanan Utsmani dalam konteks ruhani, jiwa kepemimpinan, ruh keislamannya, bukan dalam konteks politik dan kekuasaan. Karena di masa depan kekuasaan politik masyarakat muslim akan melebur dalam ide-ide dari bangsa Eropa yang terus berkembang, sehingga sangat tidak cocok untuk merawat ruh keislaman dan menjaga kekuatan suci Islam, kecuali dibungkus secara rahasia dengan ide-ide bangsa Eropa itu sendiri dan tidak menonjolkan Islam sebagai identitas politik. Islam akan lebih aman dijaga dalam bingkai ide-ide bangsa Eropa, dari pada dipaksakan tampil sebagai gerakan politik seperti saat ini.”

“Sampai disini kau faham, sayang?” tanya Yilmaz dengan genit, sedikit manja.

“Aku mendengar semua perkataan malaikat kecantikan.” Jawab Ngapudin.

“Baiklah, aku teruskan,” sahut Yilmaz dengan senyuma cinta.“Kesultanan Utsmani seratus tahun lagi akan runtuh. Kau harus tahu itu. Dan sebelum runtuh, akan ada perang besar yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar bangsa Eropa yang berkembang saat nanti atau yang masih tumbuh. Diantaranya Kesultanan Utsmani sendiri, kekaisaran Jerman yang akan lahir, Kerajaan Perancis, Kerajaan Inggris, Kerajaan Rusia, Kerajaan di negeri-negeri Slavia dan juga negara-negara Italia.

“Perang besar ini kelak akan dikenal sebagai perang dunia pertama oleh masyarakat Eropa, dan pastinya akan membagi dunia menjadi dua blok besar. Satu blok terdapat Kerajaan Inggris dan Perancis, lalu dilain blok ada kekaisaran Jerman dan kesultanan Utsmani yang bersekutu. Dua kekuatan ini akan mati-matian berperang dengan hasil yang sangat mengerihkan. Hampir semua kerajaan babak belur, namun yang lebih hancur adalah kesultanan Utsmani, wilayahnya akan terpecah belah dan masyarakatnya akan menjadi bagian-bagian yang sulit untuk dipersatukan.

“Persekutuan masa depan antara Jerman dan Utsmani ini terbentuk dan sangat ditentukan nasibnya oleh kekuatan spiritual yang ada di negeri Hindia ini, yang mana hal itu terletak pada penyatuan antara gadis Jerman dan Turki bersama lelaki Jawa.”

“Artinya?” Ngapudin berusaha menciptakan cela pertanyaan.

“Artinya, jika gadis asli kelahiran kekaisaran Utsmani dan gadis asli yang lahir di negeri-negeri Jerman bisa bergandengan tangan dan bersama-sama menikahi satu lelaki Jawa, maka persekutuan masa depan antara kedua kerajaan besar akan terjadi dan menjadi harapan kemenangan umat Islam.

“Oleh sebab itulah, kau yang sudah menikahi gadis kelahiran kekaisaran Utsmani harus menikahi Herlina yang lahir dari tanah Jerman, agar aliansi dan penyatuan kekuatan masa depan Jerman dan Utsmani bisa diwujudkan di perang besar. Tanpa hal itu maka aliansi masa depan itu tidak akan terjadi.”

Ngapudin diam, merenungkan segalannya yang diceritakan oleh istri Turkinya. Ada banyak pertanyaan yang muncul dari diskusi tersebut.“Sayang, dalam perang besar itu, kekuatan mana yang akan menang, pihak Jerman-Utsmani atau Inggris-Perancis?”

“Maksudmu apa dengan pertanyaan itu?” Yilmaz sedikit mengurangi ketegangan berceritanya.

“Bagaimana jika kelak dalam perang itu yang menang pihaknya Inggris-Perancis, berarti pernikahanku dengan Herlina yang akan membentuk aliansi Jerman-Utsmani tidak ada gunanya, iyakan. Karena aliansi tersebut justru akan mengalahkan Utsmani dalam perang besar. Yang artinya, mengapa aku tidak menikah saja dengan gadis dari Perancis atau Inggris?”

Yilmaz mengambil minyak za’faron dari kantung kecilnya. Lalu mengoleskan di telapak tangannya. “Siapapun yang menang, hasilnya akan tetap sama. Kesultanan Utsmani menang dalam perang atau kalah dalam perang, tetap akan membubarkan dirinya sebagai sebuah kesultanan dan menggantinya dengan ide-ide dari Eropa Barat. Entah apa namanya kelak ide-ide itu.

“Persekutuan Jerman-Utsmani dimasa depan tidak sekedar upaya pertahanan diri dari peperangan yang akan menghancurkan kekaisaran Utsmani, namun lebih pada takdir masa depan untuk membangun negeri sekutunya, Jerman dan musuhnya kelak, Inggris-Perancis. Semasa atau setelah perang besar orang-orang Jerman dan Utsmani akan saling bertukar ide, bertukar budaya dan bertukar manusia. Ikatan ini menjadi kekuatan yang bisa memakmurkan negerinya masing-masing sekaligus menghasilkan pernikahan campuran di masa depan antara bangsa Jerman dan Utsmani. Manfaatnya, tentu saja Jerman akan menjadi jembatan utama bagi bangsa Utsmani dalam rangka penyebaran dan pembangunan peradaban islam yang baru di negeri Eropa, tanpa adanya peperangan.

“Pernikahanmu dengan aku dan Herlina akan mewujudkan aliansi masa depan Utsmani-Jerman di perang besar, sekaligus mengawali terbentuknya peradaban islam dan keilmuan islam peralihan dari Barat menuju ke Timur. Pernikahanmu dengan Herlina dan aku akan menjadi tonggak utama melanjutkan pembangunan negeri ini tanpa diketahui oleh pemerintah kolonial. Mereka tidak akan melihat semangat pembangunan yang dibentuk oleh kita melalui kekuatan keluarga.”

Ngapudin berfikir, menghela nafas dan menerima uluran tangan Yilmaz yang mengajak saling meremas-remasnya, agar minyak za’faron bisa menyatu dengan tangannya. “Lalu, apakah dengan menikahimu dan menikahi Herlina sekaligus akan mewujudkan semua itu?”

“Benar, dan itu sudah takdirnya, sayang.” Yilmaz semakin genit di akhir diskusi.

“Hari ini juga aku akan menikahkanmu dengan Herlina.”

Ketegasan Yilmaz membuat Ngapudin tidak bisa menjawabnya.

Leave a Comment