HAFIDZ DAN HAFIDZAH SANG PENGAMAL, BUKAN QUR’AN (YANG) BERJALAN

oleh: Imam Aretatollah

 

Bagi alumni pondok, haul merupakan kegiatan yang paling di nanti setiap tahunnya sebab acara ini bukan hanya sowan Kiai (pengasuhnya) dan tahlil di makam sesepuh (para leluhur pesantren), tapi juga menjadi sarana berkumpul dan melampiaskan rasa kangen dengan saudara seperjuangan dimasa belajar dulu.

Haul memiliki banyak kemanfaatan, di samping bia digunakan sebagai sarana mengharapkan berkah dari orang ‘alim dan para masyayikh yang sudah meninggal, juga menjadi ajang “pamer” dan “gojlokan” santri yang sudah boyong, atau para alumninya. Berangkat dari tradisi “gojlok menggojlok” inilah kebersamaan dan persaudaraan santri terjalin erat, walaupun kadang ada yang marah saat di gojlok, tapi tetap dalam nuansa kebahagiaan dan Keakraban.

Pada waktu pelaksaan haul tentu banyak alumni yang membawa anak istrinya—bagi yang sudah berumah tangga atau yang lebih keren lagi, membawa istrinya beserta mobilnya—tentu saja bagi santri yang memiliki kekayaan dan pekerjaan mapan. Bahkan ada pula yang membawa jama’ah atau santrinya—bagi yang sudah menjadi kiai. Sedang alumni muda biasanya datang bareng, bersama-sama dengan teman-temannya.

Dihadapkan pada kondisi haul, pihak pondok tentu saja selalu menyediakan tempat khusus bagi para tamu yang datang, baik sebagai tempat untuk peristirahatan maupun sebagai tempat untuk menginap. Ditempat inilah para alumni  biasanya berkumpul saling bertanya kabar, diskusi, ngobrol, bercanda dan gojlokan (meledek).

Sasaran Gurauan

Biasanya yang paling enak menjadi bahan gurauan atau paling banyak “dibuli” adalah alumni tua yang belum menikah, belum mempunyai pasangan hidup atau belum merasakan nikmatnya “jajan dunia”. Santri yang demikian ini akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya yang sudah menikah. “Kok nggak payuh”, “Piye, durung terbukti kelananganmu ya!”, terus, masih banyak lagi kalimat yang terus diutarakan untuk dijadikan bahan bulian dan gurauan.

Ada cerita menarik tentang tradisi buli-membuli pada saat pelaksanaan acara haul ini. Kisah ini merupakan pengalaman penulis yang terjadi di Pondok Pesantren Ghoror, Lasem Jawa Tengah. Waktu itu banyak alumni tua berkumpul di tempat peristirahatan. Mereka kebanyakan sudah menikah, ada yang sudah mempunyai anak, dan bahkan konon ada yang sudah berpoligami. Sedangkan yang belum menikah hanya beberapa saja. Saat-saat seperti inilah yang di nanti para alumni, sebab merupakan waktu yang  tepat sebagai “masa penghabisan” pembulian tanpa jeda.

Alumni yang sudah menikah memulai memancing dengan mengatakan kalau “menikah itu sunah Rasul”, yang lain menimpali kalau “menikah itu menyempurnakan separuh agama”, teman yang lain lagi ikut-ikutan berkomentar kalau “sholatnya orang menikah lebih utama tujuh puluh rakaat daripada hamba yang masih ‘jomloh’”, dan masih banyak lagi kelakar yang di utarakan oleh “kaum beristri” ini.

Tragisnya, bahkan sangat ngerih, ada yang memuji temannya yang berhasil memperistri perempuan penghafal al-Quran dan kebetulan yang berkumpul di tempat ini kebanyakan beristri hafidzah.

Menurut mereka (para suami beristri hafidzah) penghafal al-Qur’an bisa memasukkan surga sepuluh orang yang di cintainya, dengan kata lain surga suami akan ikut istri (menjadi tanggungan istrinya). Teman-satunya meng-iya-kan sambil berucap “suwargo nunot neroko ora ketot”. Lalu teman yang lainnya bilang, kalau “orang yang hafal al-Qur’an sangat dimuliakan Allah”, sebab (katanya) orang-orang itu telah menghafalkan kalam-Nya Tuhan, yang artinya istrinya adalah Qur’an berjalan.

Pengahafal al-Qur’an sama dengan HP

Mendapatkan “serangan” kata bertubi-tubi seperti demikian itu kontan saja membuat teman alumni yang belum beristri hanya tersenyum tipis, sebuah tanda ketidak-berdayaannya. Yang satu tersenyum kecut, sambil garuk-garuk kepala, sedang yang satu lagi tersenyum lalu bilang, kalau “hanya hafal al-Qur’an tidaklah membanggakan”, alasanya jelas, HP (android) juga bisa menghafal al-Qur’an, bahkan lebih fasih. Banyak variasi bacaan al-Qur’an dalam HP dan si HP tidak pernah lupa, ia lebih cerdas dan lebih kuat hafalannya. Bahkan bagi dirinya sendiri, tidak ada bedanya antara orang yang hafal al-Quran, hafal Hadits, hafal nazham alfiyah, hafal kitab lainnya, atau bahkan buku-buku—itu sama saja kedudukannya (seeprti HP yang berbunyi), tidak ada bedanya.

Kontan saja pendapat tersebut membuat orang satu ruangan pada kaget. Mereka tidak mengira santri bujang yang lama mondok itu mengatakan hal demikian. Bagaimana bisa alQur’an di samakan dengan HP, Hadits, alfiyah atau bahkan disamakan dengan kitab atau buku lainnya, begitu kira-kira marahnya.

Omongan seperti itu tidak bisa toleri dan tidak termaafkan, sebab telah melecehkan al-Quran. Melecehkan al-Qur’an merupakan wujud dari pelecehan agama. Dan  pelecehan terhadap agama berarti menghina kepada Allah beserta Rasul-Nya. Orang yang telah melakukan hal tersebut termasuk orang kafir, yang artinya orang tersebut sudah keluar dari Islam.

Alumni yang ada di ruangan ini menjadi naik pitam, mereka gusar, cemas, merasa berdosa dan marah. Perkataan kasar dan mengumpat tentu saja ditujukan kepada si bujang sebagai bentuk pembelaannya terhadap “al-Qur’an yang dilecehkan si bujang”.

Membela penghafal al-Qur’an

Akhirnya, Gojlokan yang awalnya sebagai tradisi pengakraban tersebut kontan berubah menjadi caci maki dan kata serapa, saling melempar kebencian dan ejekan yang menyakitkan. Kendati demikian, kemarahan itu tidak sampai terjadi batu-hantam karena pesantren ini melarang keras main tangan. Namun keadaannya sudah tidak lagi kondusif. Cacian, umpatan dan kata kata kotor banyak di keluarkan dari mulut para alumni ini. Bahkan kalimat “azab-tuhan”, “laknat-tuhan” dan “murka-tuhan” sampai di tujukan kepadanya.

Sambil senyum santai, si bujang melakukan “pertahanan”, kalau dirinya justru ingin menyelamatkan teman-temannya dari “azab-tuhan” dan dari api neraka. Alasannya, karena pemikiran mereka salah, pemahamannya kacau dan pola pikir yang dibangun sangat melenceng jauh dari kenyataan.

Mendengar ucapan “pertahanan” itu membuat para alumni (yang beristri) justru semakin marah dan hampir tak terkendali kebenciannya. Bisa-bisa pedang akan disabetkan pada leher si bujang. Hal itu sangat berlawanan dengan pikiran si bujang, yang mengharapkan adanya timbal balik dari para alumni kepada si bujang untuk memulai diskusi dan kajian pemikiran kritis.

Beruntung ada alumni yang lebih bijaksana, usianya sudah setengah umur manusia yang bisa memberi umpan balik dengan menyuruh si bujang untuk menjelaskan perkataannya tadi.

Dan si bujang pun mulai menjelaskan maksud dari ucapannya, yang ditunjukkan dengan sikap yang tenang dan santai.

“Dosanya” menikahi penghafal al-Qur’an

“Kalau anda (para suami beristri hafizhah) beranggapan bahwa “orang yang hafal al-Qur’an” itu sebagai “al-Qur’an berjalan” maka secara langsung anda menyumpahi para hafizd masuk neraka.” Terangnya.

“Alasannya, karena menurut ajaran kita (umat islam) orang yang membawa kitabullah harus suci dari hadas kecil maupun besar, harus menutup aurat, tidak boleh dibawa ke tempat kotor seperti kamar mandi, WC dan semacamnya. Sedangkan orang yang memperistri para hafidzah itu tentunya pasti menungganginya, mengajaknya bersenggama, diperlihatkan auratnya, dan tentunya keluar-masuk ke kamar mandi atau WC.” Nadanya semakin tegas.

“Bahkan (Ada yang mengatakan) tentang hal demikian itu, kitapun telah “menghina para penghafal al-Qur’an” dan menyumpahi teman kita yang beristri hafizah, jika para suami melakukannya (hubungan senggama).”

“Kok bias, kamu jangan membalikkan fakta ya…?”.  tanya para santri alumni yang beristri hafidzah dengan nada keras

“Coba kita fikirkan sejenak, mengenai ungkapan yang anda utarakan, lalu setelah itu kita bisa menyimpulkan siapa yang sesat berfikir.” Kata si Bujang

“Kalau para hafidz kita anggap sebagai al-Qur’an berjalan atau orang yang membawa al-Qur’an, maka mereka pasti akan masuk neraka. Sungguh kasihan sekali, karena jelas mereka tidak mungkin secara terus-menerus dalam keadaan suci. Mereka butuh kencing, buang air besar dan lain sebagainya. Bahkan yang sangat kasihan dari itu semua, ialah teman yang beristrikan wanita hafidzah. Mereka yang lebih berhak atas laknat tuhan, merekalah makhluk yang paling pantas terkena azab kepedihan neraka.” Si Bujang tersenyum, lalu diam sejenak sambil mengatur nafas.

Sedang para alumni menanggapinya dengan diam dan menunggu perkataan selanjutnya.

“Penyebabnya jelas,” Lanjut si bujang. “Sebab, suami yang beristri hafidzah telah melakukan pelecehan taktermaafkan—sepanjang hidupnya. Dia telah melecehkan al-Qur’an, menghina Agama, dan bahkan melakukan penghinaan terhadap Allah. Sesungguhnya orang seperti itulah yang kafir, halal darahnya dan wajib dibunuh.

“Orang seperti ini dengan sengajah telah melecehkan hafidzah, dia telah menelanjangi, menindih bahkan menginjak-injak al-Qur’an. Hal ini terjadi jika anda beranggapan bahwa para hafidzah itu al-Qur’an yang berjalan atau semacamnya.”

Para Pengamal al-Qur’an

Kontan saja suasana di tempat itu menjadi sunyi, semua yang berada di ruangan hanya diam, saling menatap, merunduk dan berfikir. Dalam kondisi yang demikian itu, yang kembali tenang adalah alumni setengah baya, yang mengajukan pertanyaan mengenai “Status apa yang layak diberikan kepada para hafidz dan hafidzah biar diskusi hari ini mendapatkan hasil?”

“Kalau menurut saya,” kata si bujang, “predikat yang tepat disematkan kepada para hafidz dan hafidzah adalah para ‘pengamal al-Qur’an’. Mereka adalah para wanita atau lelaki yang mengamalkan al-Qur’an dengan cara menjaga hafalannya dan berusaha mengamalkan isinya secara maksimal dalam kandungan makna al Qur’an. Dengan melabeli mereka sebagai pengamal, bukan berarti  merendahkan, tetapi sebaliknya justru kita telah memberi penghormatan yang sangat tinggi kepada para hafidz dan hafidzah. Yakni penghormatan sebagai orang yang mengamalkan pancaran kalam Tuhan.”

Si bujang melanjutkan, “Dengan memposisikan sebagai seorang pengamal, maka para hafidz dan hafidzah bukanlah orang suci, bukan pula Nabi atau Rasul yang bebas dari dosa, atau maksum. Dalam kacamata umum, mereka merupakan manusia yang tidak luput dari salah dan lupa, akan tetapi mereka memiliki keutamaan sebagai seorang manusia, yaitu manusia yang mengamalkan dan menjaga lantunan Kalamullah.

Si bujang mengakhiri perkataannya, sedangkan para alumni yang tadi mengata-ngatai dengan perkataan tak senonoh masih diam, tidak tahu apa yang harus di ucapkan.

Tak lama itu sound system sudah berbunyi, pertanda acara haul segera di mulai dan para alumni kembali tertawa, lalu semua menuju ke tempat acara.

Leave a Comment