DI DALAM SARANG NAGA MERAH (Janissary Jawa Episode 15)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Dua orang prajurit pejalan kaki mendekati Ngapudin dan mengayunkan ke arah lehernya. Ngapudin menghindar dan balik menyerang dengan menyabetkan pedangnya ke leher kedua prajurit itu. Dua prajurit itu roboh kesakitan lehernya mengeluarkan darah. Datang lagi tiga prajurit, menusukkan tombaknya ke arah Ngapudin. Ngapudin berlari menuju pohon di pinggir ke tanah pertanian padi untuk mencari posisi pertahanan dan menfokuskan perkelahiannya melawan tiga orang. Dengan menempelkan punggungnya ke pohon praktis dia bisa menyerang musuhnya tanpa harus terkepung dari belakang.

Seorang prajurit memberanikan diri mendekatinya dengan tombak yang mengarah ke wajahnya. Dia menyambutnya dengan mengayunkan pedangnya untuk menangkis sekaligus menyerangnya. Pedangnya mengenahi leher prajurit itu yang mempercepat kehidupannya selesai di muka bumi.

Kawannya mengejar, mengikuti langkah temannya yang sudah terbunuh. Prajurit itu mendorong tombaknya hingga menyerebet kaki kiri Ngapudin. Tanganya langsung mengayunkan pedangnya mengarah ke dada prajurit itu dan menendangnya hingga terlempar dua meter.

Satu lagi prajurit yang tersisa melempar tombaknya ke arah Ngapudin. Gerakan refleknya membuat kakinya dengan cepat mendorong tubuhnya melompat ke samping. Tombaknya menancap di pohon. Ngapudin bergeges mendekati prajurit itu dan menusuk perut kirinya.

Melihat teman-temanya berguguran, sepuluh prajurit mengejar Ngapudin dan mengepungnya dengan senjata terhunus, pedang, kapak, tombak, dan pisau berantai serta bendera bertombak. Pertarungan pun terjadi, Ngapudin dikeroyok oleh prajurit-prajurit kelompok aliran naga merah yang sudah terlatih di medan perang. Beruntung kemampuannya bertahan, mengindar dan menangkis bisa mempersulit para prajurit naga merah kesulitan menaklukkannya.

Seorang prajurit penunggang kuda mendekatinya dengan derap kuda yang cepat, berusaha menusukkan tombaknya ke arah Ngapudin. Ngapudin menggeser tubuhnya sedikit dan menarik tubuh prajurit itu dari kudanya. Sabuk prajurit itu tersangkut pada kudanya. Sehingga kudanya menariknya hingga prajurit itu terbunuh oleh benturan batu di jalan.

Satu persatu prajurit aliran kelompok naga merah berguguran, karena gerakan beladiri Ngapudin yang lebih cepat dari pada beladiri Tiongkok yang dimainkan oleh prajurit naga merah. Pertempuran berjalan dengan saling menusuk, membacok, melempar tombak, dan memainkan jurus memainkan senjata yang lebih baik. Kendati bisa bertahan Ngapudin mengalami banyak tusukan dan sabetan pedang, dan lelah menghadapi musuhnya yang terus berdatangan. Hingga pada tenaganya yang terakhir dirinya tidak lagi mampu berdiri untuk melanjutkan perkelahian. Ia merobohkan dirinya ditanah dan memasrahkan nyawanya kepada Allah. Jika ini akhir hidupku, biarkanlah berjalan sesuai apa adanya.

Seorang prajurit mendekatinya, sambil membawa tombak bendera kebesaran kelompok aliran naga merah. Melihat musuhnya yang sudah lelah dan lemas, tanpa berfikir panjang prajurit itu langsung mengarahkan tombaknya ke perut Ngapudin.

Tanpa disadarinya tangan Ngapudin memegang sebatang tombak disampingnya dan langsung menusuk perut prajurit yang berdiri diatasnya itu. Prajurit itupun roboh tak bisa berdiri lagi dan tak kuasa menahan tusukan yang diberikan oleh Ngapudin.

***

Dari kejauhan, diatas kudanya. Seorang pimpinan kelompok aliran naga merah yang mengenakan topeng naga merah sekaligus berrambut merah, mengamatinya baik-baik pertempuran prajurit-prajuritnya melawan satu pendekar berbaju ksatria yang tak dikenalinya.

Prajuritnya yang terus berguguran dibiarkannya tewas tergeletak. Matanya tetap mengamati sosok lelaki asing yang dengan gagah mengayunkan pedangnya. Hingga pada saat terbunuhnya prajurit pembawa bendera kebesaran aliran kelompok naga merah, ia mulai menyadari bahwa musuh yang dihadapinya bukanlah orang biasa. Dia adalah sosok yang telah diramalkan oleh leluhurnya.

Ketika seorang prajurit membawa pedang berusaha mendekati Ngapudin dan hampir saja menusukkan ujungnya ke leher musuh yang sudah tak berdaya itu, dia berkata dengan keras, yang membuat semua prajuritnya terdiam, “Berhenti, biarkan dia hidup.”

Tentu saja prajuritnya keheranan dan mengendurkan perlawanannya. “Bawa dia ke markas. Kita memerlukannya.”

Dan segerombolan prajurit kelompok aliran naga merah pun mengangkatnya dan menaikkannya ke atas kuda.

Samar-samar Ngapudin melihat istrinya yang terhalang oleh gerombolan para prajurit yang mengikatnya. Dan dirinya merasa tak mampu melindungi istrinya yang telah diikat dan diperbudak oleh manusia-manusia biadab dari daratan Tiongkok.

***

Ngapudin sadar dari kelelahannya. Berada di sebuah kebun di dalam istana yang sangat luas dan memiliki banyak penyimpanan senjata dan barang-barang berharga, mulai dari emas, perhiasan, rasum berkarung-karung dan pakaian.

“Tuan sudah sadar!” kata orang dibelakangnya yang usianya jauh lebih tua.

“Aku dimana, dimana istri saya?” katanya tercengang dengan keberadaan dirinya.

“Sebaiknya tuan tenangkan diri saja. Istri tuan baik-baik saja. Kami memperlakukannya dengan baik, setelah mengetahui dari mulutnya sendiri bahwa wanita itu adalah istri tuan.” Kata lelaki itu. “Maka kami pun memperlakukannya dengan baik.”

“Silahkan bangun, dan duduklah bersama saya sambil minum teh. Dan menunggu istri tuan kembali dari perawatannya.” Tambahnya.

Ngapudin menatap sorot mata lelaki itu. Tidak ada hawa jahat dari sinar matanya. Dia pun menuruti ajakan lelaki itu dan bergegas bangun dari tempat tidurnya sekaligus duduk dihadapan kawan barunya itu.

“Nama saya Jiang Ming. Saya pemimpin dari kelompok aliran naga merah, yang sudah berperang selama lima tahun melawan para aliran lain yang memperebutkan wilayah di daratan kematian yang luas ini.” Lelaki itu meminum tehnya. “Saya butuh menyampaikan banyak hal kepada anda tuan, sekiranya tuan mau mendengarkannya.” Kata lelaki itu.

“Jika itu perlu dan penting, maka saya dengan senang hati akan mendengarnya.” Jawab Ngapudin.

Jiang Ming pun memulai pembicaraannya pada Ngapudin, dan Ngapudin mendengarnya dengan tatapan yang penuh ingin tahu, disertai jiwa persahabatan yang melakat secara cepat saat itu juga. Sebuah kemampuan seorang prajurit Jawa yang mengedepankan persahabatan dari pada permusuhan. “Beberapa hari terakhir ini saya sering bermimpi tentang masa depan saya dan negeri yang saya tempati ini. Hampir satu bulan saya mengalami mimpi yang sama. Mimpi itu sangat menyenangkan saya sekaligus juga sangat menyakitkan. Ia ibarat pisau bermata dua yang sama-sama akan memberikan luka kepada orang yang menggunakannya. Dan semua para pertapa di negeri ini memberikan tafsiran yang sama, tidak ada yang berbeda.”

“Apa mimpi anda tuan?”

“Putraku satu-satunya berada di tengah padang pasir yang sangat panas. Ia sendirian dan tak satupun ada orang yang menemaninya. Ia menangis dan merasa kesepian, harapannya hanyalah ingin kembali pulang dan bertemu dengan keluarganya. Untuk pulang tidak mudah bagi dia, karena membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama. Dia membutuhkan seekor kuda untuk bisa melewati ganasnya padang pasir agar bisa cepat sampai.

“Lalu datanglah seekor kuda putih, kuda perempuan yang sangat cantik. Setiap derap langkah kuda itu mampu menghasilkan awan mendung yang menaungi putraku, juga oase disekitarnya mulai muncul sumber airnya dan pepohonan palem bertumbuhan dengan cepat. Padang pasir itu menjadi sejuk dan tidak lagi panas, setiap kuda itu muncul. Dan akan kembali panas menyengat jika kuda itu menghilang dan berlari dari tempat keberadaan putraku. Termasuk oase akan mengering dan pohon palemnya akan layu.

“Putraku pun tertarik dengan kuda itu dan ingin memilikinya. Ia pun mengejarnya dan berusaha menungganginya. Namun ternyata sulit untuk mengejar kuda itu.

“Dalam upaya mengejar kuda itu, tiba-tiba muncullah sosok pemilik kuda putih itu. Dia seorang pemuda yang sangat gagah dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Dengan sekali siulan dari mulut pemuda itu, kuda itu mendekat dan menjadikan seluruh kawasan padang pasir menjadi rindang dan sejuk. Awan mendung menaungi langit dan air mulai muncul dari beberapa genangan oase.

“Merasa cemburu dan marah karena kuda yang diinginkannya ternyata milik orang lain maka putraku mengambil sebongkah batu dan memukuli pemilik kuda itu hingga tewas. Sebelum terbunuh pemuda itu tersenyum dan memberikan pesan yang sangat terngiang di telingaku hingga saat ini.”

“Apa pesannya?” tanya Ngapudin.

Jiang Ming menatap Ngapudin dengan sedih dan menangis. “Kau akan mati jika mengambil kudaku, dan aku akan menjadikan kehancuran bagi kaummu jika kau memaksanya untuk menjadi milikmu.”

“Saat pemilik kuda itu menghembuskan nafas terakhirnya, dia mengucapkan kalimat yang aku belum pernah mendengarnya, laa haula wa laa quata ila billahil ‘aliyil adzhim dan diteruskan dengan kalimat, laa ila ha illa Allah.

“Aku baru tahu dua kalimat itu saat kau sedang tertidur tadi, karena kau mengucapkannya saat tidak sadarkan diri dan berada diambang hidup dan mati. Dan setelah kupelajari dari buku-bukunya bangsa Tashi ternyata kalimat itu merupakan sebuah mantra yang sangat tinggi kedudukannya bagi kehidupan umat manusia. Merupakan sebuah kunci untuk membuka kekuatan alam semesta yang tak terbatas sekaligus membuka gerbang ruhani yang memisahkan dunia dan akhirat.”

Jiang Ming meneguk secangkir tehnya dan mengambil sekeping roti panjang kecil, lalu melahapnya.

“Setelah tak bernyawa pemilik kuda itu tiba-tiba bangkit kembali dan berubah menjadi sosok naga berwarna merah, dengan kedua kakinya yang penu cakar. Tingginya kurang lebih tujuh manusia dan panjangnya 100 meter. Mulutnya meneteskan air liur merah darah yang panas dan hidungnya mengeluarkan asap pengap. Naga itu meraung dan meneriakkan suara yang sangat memekik telinga. Lalu dengan kecepatan yang tak bisa dihindari dengan kekuatan manusia naga itu memakan putraku. Daging seluruh tubuhnya dilahap habis tak tersisa.

“Awalnya aku tidak menganggap mimpi ini serius, paling-paling hanya bayangan ketakutan atau imajinasi yang tidak produktif bagi kehidupan nyata. Namun mimpi itu berulang dan kutanyakan kepada para petapa, dan semuanya telah memberikan jawaban yang sama tentang artinya mimpiku ini.”

“Apa artinya?” tanya Ngapudin.

“Putraku akan wafat ditangan dewa naga. Pemimpin dari seluruh naga di kawasan selatan. Karena telah mengambil peliharaan sang naga, yaitu kuda putih itu. Dan kini kusadarai kalau kuda putih itu adalah wanita pembuat obat itu, yang tidak lain adalah istrimu. Dan tentunya, naga merah itu adalah dirimu.”

“Maksud tuan, apa?” tanya Ngapudin kembali.

Jiang Ming berdiri, mengambil sebuah kitab setebal sepuluh sentimeter di lemari disampingnya. Kitab Dewa Naga Merah dan Kuda Putih, dalam hati ia membaca sampul kitab bergambar naga merah dengan dua pedang menyilang dibawahnya, lalu duduk kembali dan  menunjukkan kepada Ngapudin.

“Konon Kitab ini merupakan sebuah kitab yang ditulis oleh para tetua kelompok aliran naga merah yang sudah berusia ratusan tahun. Aku tidak tahu dari mana asal usulnya, yang jelas dari para leluhur kami semua menjaga kitab ini dengan sebaik mungkin secara turun temurun dan juga menjaganya dari segala kerusakan. Dari kitab inilah semua keterangan tentang sosok dewa naga merah yang akan muncul bersama kuda putih di gua ini diterangkan. Naga merah dan kuda putih, keduanya akan memberikan pertolongan dan kekuatan kepada kami untuk mengarahkan masa depan kehidupan kami.”

Jiang Ming berdiri dan memberikan hormat kepalan tangan kepada Ngapudin. “Tuan, kaulah dewa kami. Bimbinglah kelompok kami menuju jalan yang benar sehingga bisa terhindar dari kehancuran. Ajarilah kami tentang penggunaan kalimat laa haula wa laa quata ila billahil ‘aliyil adzhim dan laa ila ha illa Allah, aku kira kuncinya ada di dalam dua kalimat itu.”

“Apa tuan tidak salah?” Tanyan Ngapudin keheranan.

“Tidak, aku tidak salah lagi.” Jawab Jiang Ming tegas. “Didalam kitab leluhur kami juga sudah tertulis dengan jelas tentang kalimat itu, namun bahasanya saja yang berbeda. Diterangkan bahwa kalimat itulah yang akan memberikan kekuatan kami untuk menjadi manusia, manusia yang mulia dan tidak berperilaku seperti binantang. Kami akan hidup mulia jika bisa menggunakan dua kalimat itu. Kalau sekedar mengucapkan dibibir itu siapa saja bisa, bahkan anak kecil sekalipun. Namun pengucapan yang bisa menghasilkan kekuatan yang tersembunyi itulah yang tidak ada yang bisa, kecuali orang yang berilmu tinggi.”

“Maksud perkataan tuan, Apakah anda menginginkan kehidupan yang anda jalani saat ini berakhir?”

“Benar, itulah yang kuinginkan. Setelah melihat putraku satu-satunya terbunuh oleh tanganmu, lalu harapanku kosong di masa depan, dan aku mulai memikirkan ulang kondisi saat ini. Solusinya tidak lain adalah mengembalikan kehidupan seluruhnya kepada langit.”

Ngapudin menghembuskan nafas, mengambil teh di depannya, dan melihat seluruh isi dari pada kitab yang bergambar naga merah dan kuda putih. Hanya sekedar melihat-lihat saja, karena belum bisa memahami huruf-huruf yang ada pada kitab tersebut. Suatu saat aku pasti bisa membacanya.

3 Thoughts to “DI DALAM SARANG NAGA MERAH (Janissary Jawa Episode 15)”

  1. puffy teen pussy pictures teen japanese swimsuit ass gay porn chubby teen solo masturbate x videos.
    ebony bbw twerking naked blackwebcams00 amateur ebony women sucking 12 inch black dicks.
    busty teen bbw amateur amateur big tits pics real amateurs with small tits.
    bangbros ebony sexy porn free hot black wife porn huge oiled white ass black dick.
    sexy black amateur pussy closeups naked nude girl amateur blog -youtube amateur swingers club xxx.

  2. Всем привет, хочу порекомендовать вам хороший сайт о Форексе http://www.forex-book.top

  3. Hello. And Bye.
    google404
    hjgklsjdfhgkjhdfkjghsdkjfgdh

Leave a Comment