RAHASIA YANG TERBONGKAR (Janissary Jawah Episode 18)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Sayup-sayup mata Ngapudin memandang apa yang ada di depan matanya. Sosok wanita muda, cantik, dan berpakaian ksatria Prusia sedang mendekatinya, melepaskan tali ikatannya, dan memberinya minum. “Minumlah ini, agar tenagamu tidak terkuras habis.”

Ternyata Herlina von Bonrberg, dia sendirian mendatangi kandang sapi yang digunakan untuk mengurung dirinya. “Apa yang kamu lakukan?” Ngapudin baru menyadarinya kalau dirinya sedang berada di tempat penangkapannya, di belakang rumah kepala desa, sebuah kebun yang dikelilingi oleh bambu-bambu hijau.

Ngapudin menyadarinya bahwa dirinya baru saja bangun dari mimpi yang panjang sekali, kembali ke sebuah istana indah bersama delapan istrinya, lalu bertualang menuju ke negeri Qing dan berdiskusi dengan istri ke limanya, yang tidak lain wajahnya sama persis dengan Herlina. Jangan-jangan dia istriku yang berada di tempat dan waktu lainnya, gumannya seraya meneguk air yang diulurkan oleh Herlina.

“Aku harus menolongmu.” Kata Herlina. “Aku tidak perlu bercerita panjang lebar. Yang penting kamu keluar dulu dari kawasan ini.”

“Baiklah. Tapi beraja jam aku tertidur?” tanyanya pada Herlina.

“Berapa jam? Hmm.. kamu hanya tidur tidak lebih tiga jam. Karena ketika aku berada di kamar saat membaca buku tidak sampai dua jam, lalu mendapatkan informasi yang janggal dari Suroto. Tidak lama kemudian beberapa pendekar berdatangan ke desa ini berkumpul bersama Suroto dan Ervin van Hook.”

Herlina nampak kelihatan cantik dimata Ngapudin dengan pakaian panglima perangnya yang baru. Lebih cantik dari pada saat pertama kalinya ditemuinya dalam sebuah pertempuran di bukit tadi sore. “Ada kuda yang sudah kupersiapkan untuk pelarian kita dari konspirasi gila para penjahat ini.”

Seperangkat seragam tentara kolonial Dragoner diulurkan Herlina ke tangan Ngapudin. “Kamu harus berpakaian ini. Agar mereka menganggap dirimu sebagai pengawalku. Sehingga tidak mencurigakan pelarian kita.”

Ngapudin menuruti saja semua perintah Herlina tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di depannya. Hatinya hanya menguatkan kalau dunianya saat ini sepertinya harus mengetahui lebih jauh sosok Herlina dan negerinya, tanah Eropa.

Setelah mengenakan seragam tentara Dragoner dan mencuci mukanya dengan sisa air yang telah diminumnya Ngapudin langsung diajak Herlina menuju ke samping perkebunan, tempat para penjaga menambatkan kuda-kudanya.

Beberapa prajurit lokal penjaga malam melihatnya dan bertanya, “Nona, mau kemana?”.

“Aku ingin jalan-jalan malam melihat negeri ini. Jadi tolong jangan sampai ada yang tahu.” Herlina melemparkan sekeping koin emas kepada pejaga itu.

“Baik, nona. Silahkan lewat arah sana.” Tanpa curiga sedikitpun, penjaga itu melihat sosok Ngapudin yang berpakaian tentara kolonial.

Herlina menaiki kudanya dan Ngapudin juga mengikutinya dengan kuda disampingnya. Beberapa perbekalan sepertinya sudah dibawa diatas kudanya, pakaian, senjata, makanan, dan sedikit gentongan air.

Dibalik semak-semak bambu, di tanah galangan kebun yang mengarah keluar menuju kebun yang lain, lalu keluar menuju desa, Herlina dan Ngapudin menarik tali kekang kudanya secepat mungkin menuju ke arah timur.

Mereka melewati jalan utama yang digunakan oleh para petani dan pedagang untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Kurang lebih perjalanan mereka satu jam dan waktu sudah menunjukkan akan munculnya fajar. Ngapudin melihat kelelahan di wajah Herlina dan rasa ngantuk yang sangat pekat.

“Nona, apa sebaiknya kita tidak berhenti terlebih dulu. Anda bisa istirahat sebentar.”

“Baiklah, kita cari tempat yang aman.”

“Aku tahu tempat yang aman untuk anda, nona”. Dalam hati Ngapudin terbesit, “Istriku,” berusaha memanggil Herlina dengan panggilan yang sama dengan mimpinya. Tidak, tidak, aku terlalu bermimpi menikahi gadis Eropa. Hanya mimpi saja.

Ngapudin mengeliling hutan, mencari sebuah sendang yang bisa digunakan untuk berwudlu dan mengambil air.

Setelah beberapa derapan kaki kudanya mereka akhirnya menemukan sebuah sendang yang berada di bawah sebuah pohon beringin besar. Sepertinya sebuah sendang yang sudah sering digunakan oleh para musafir atau pedagang yang sedang singgah.

Disamping pohon beringin ada gubuk kecil yang muat untuk berbaring tiga orang. Ngapudin melihatnya cocok untuk berebahan bagi tubuhnya Herlina yang kelelahan.

“Nona, kita istirahat disini. Nona silahkan istirahat di gubuk itu. Saya akan berjaga disini.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” tanya Herlina.

“Dengan melihat mataku anda pasti sudah percaya bahwa aku adalah lelaki yang akan menjaga nona.”

Sialan, ada apa dengan diriku. Herlina memarahi dirinya karena percaya dan mengajak lari Ngapudin.

Herlina menuju ke gubuk, Ngapudin mandi dan mengambil air wudlu untuk sholat sunnah malam, tahajud dan sejenisnya. Sebuah api unggun dinyalakan disamping gubuk, agar Herlina merasa kehangatan. Dan Herlina merasa dirinya berada dalam sebuah perlindungan yang aman atas segela hal yang buruk.  

Ngapudin sholat isya’, dilanjutkan dengan sholat sunnah malam, lalu berdzikir hingga sinar matahari hampir menampakkan dirinya. Dan ditutup dengan sholat shubuh.

Ngapudin melepas pakaian kolonialnya dan menggantinya dengan pakaian yang sudah dipersiapkan oleh Herlina di kudanya. Setelah itu dia mendekati Herlina.

“Nona, bangun.” Ngapudin menyentuh papan kayu di dekat kaki Herlina dengan sedikit ketokan yang sangat halus. Seolah semut pun tidak merasakan ketukannya. Namun hati Herlina merasakan ketukan tangan Ngapudin itu sangat terasa dan bergetar hebat di dadanya.

Hanya sedikit ketukan di kayu Herlina sudah terbangun dan menyadari dirinya sudah merasa legah menikmati tidurnya.

“Nona, sebaiknya mandi terlebih dahulu. Dan sebaiknya kita melepaskan pakaian ini untuk sementara, biar tidak dikenali sebagai prajurit kolonial.” Ngapudin menyerahkan pakaiannya yang sudah disiapkan di kudanya Herlina sendiri.

Herlina mandi dan membersihkan dirinya. Dia merasakan segarnya air di tanah Jawa yang tidak sama dengan air yang ada di negerinya. Air di jawa sudah bisa diminum tanpa dimasak, memiliki rasa yang bisa menghilangkan stres dipikirannya, dan bisa memberikan aroma yang wangi di tubuhnya. Apalagi jika dicampur dengan bunga-bunga tumbuhan di Jawa akan menambah aroma wangi yang sangat membersihkan tubuh para wanita. Seandainya saja aku bisa lebih lama di negeri ini, aku akan lebih banyak menikmati air yang lezat ini, angan-angannya melambung menembus masa depan yang tak jelas.

***

Melewati jalan setapak yang membelah hutan, pepohonan jati, dan daerah yang jauh dari desa di sekitarnya Herlina dan Ngapudin menuntun kudanya menuju ke arah timur laut. Mereka pun melangsungkan perbincangan yang mengherankan Ngapudin, sekaligus membuka rahasia dibalik penjajahan Belanda di negerinya.

“Mungkin ini waktu yang tepat anda bercerita kepada saya nona, mengapa anda melepaskan saya. Padahal anda sangat ingin sekali membalas dendamkan tunangan anda yang terbunuh.”

“Benar, namun hatiku tiba-tiba berkata lain, sejak melihat tuan kapten mendapatkan penyiksaan yang sangat biadab dari pasukan kami, lalu sikap anda sendiri saat menyerah padaku dan lebih memilih menyelamatkan teman adalah menjadi alasan yang cukup kuat kalau aku harus bersama anda.” Herlina mulai memanggil Ngapudin dengan julukan yang populer di mata para prajurit Mangkunagara dan prajurit kolonial lainnya, tuan kapten.

“Saya melihat anda adalah orang baik dan aku sepertinya harus mengikuti kata hatiku. Karena tadi malam aku mengetahui sisik busuk Suroto dan para pendekar yang diundangnya. Mereka datang dari beberapa perguruan dan aliran pencak silat diseluruh wilayah kolonial Perancis. Mereka sepertinya berdatangan secara berkelompok, masing-masing kelompok ada empat orang. Dan masing-masing orang ini memiliki keahlian tersendiri yang direncanakan untuk memburu anda dan teman-teman anda.

Apalagi dengan kedatangan Ervin de Hook, semakin menguatkanku kalau sebenarnya misi pengejaran anda dan kawan-kawan anda merupakan rahasia bagi keberlangsungan bangsa Eropa di tanah Jawa ini, bukan murni menumpas para pemberontak. Mereka menyebut para pemberontak seperti anda dan pangeran Diponegero sebagai penjahat, padahal sebenarnya anda hanya menginginkan kesejahteraan dan negeri yang sama makmurnya dengan yang dibangun oleh bangsa eropa.

“Saya sadar, kalau anda hanyalah prajurit kecil yang seharusnya tidak perlu mengorbankan banyak nyawa untuk menumpasnya. Tapi Suroto dan beberapa pejabat di Batavia sepertinya mengejar hal yang lainnya selain menumpas anda. Termasuk Ervin.

“Ada sebuah benda keramat yang anda bawa. Benda itu diperlukan oleh mereka untuk dibawa ke negeri Eropa. Benda itu konon harganya sama dengan kota Amsterdam. Tidak heran jika kemudian benda yang anda bawa itu terus diburu dan akan dijual ke eropa. Kabarnya pihak Inggris juga menginginkan benda yang anda bawa itu, sehingga dimungkinkan Inggris juga mengirim utusan untuk mengejar anda agar mendapatkan benda tersebut. Sepertinya, benda yang anda bawa adalah harta karun puncak yang mereka cari untuk dibawa ke Eropa sekaligus menancapkan secara permanen kekuasaan bangsa Eropa di negeri muslim seperti di Jawa ini.”

Herlina menedang sebuah kayu ranting yang menghalangi jalannya.

“Tuan kapten, yang perlu anda ketahui adalah tujuan utama bangsa Eropa datang ke negeri ini yang terbungkus rapi dengan misi perdagangan.”

“Maksud anda nona, apakah memang tidak demikian, mereka pada awalnya datang ke negeri ini, untuk berdagang?” tanya Ngapudin. “Dan itu menjadi tujuan mereka yang dilakukannya secara militer, kan!”.

“Bukan. Militer hanya alat dan kedoknya saja, mereka tenaga kasar yang digerakkan oleh uang dan emas yang dikelolah oleh para bangkir-bangkir di Belanda.” Herlina membuka wawasannya kepada Ngapudin. Dan penjelasannya merupakan kajian yang dicarinya di negeri mimpi bersama dewi tanah.

“Kendati saling berkaitan, antara kolonialisme dan imperialisme, namun tujuan utamanya adalah eksplorasi ilmu pengetahuan dan menundukkan masyarakat non-Eropa menjadi subjek penelitian dan dipandang sebagai sisi dunia lain yang lebih eksostik, masih asli dan peradabannya dianggap masih terbelakang. Militer dan kekuasaan negara hanya kedok yang digunakan oleh para bangkir untuk menggerakkan itu saja dan sekaligus membangun kemakmuran sepihak di Eropa, yang memiskinkan dipihak lain negeri-negeri berpenduduk Muslim. Termasuk di tanah Hindia ini.

“Tanpa pembiayaan dari para bangkir-bangkir di Amsterdam, Roterdam, dan Antwarp. kemungkinan pejabat di Kongsi dagang Hindia Timur dan pemerintah kerajaan Belanda tidak akan bisa melakukan pelayan menuju ke negeri ini. kongsi dagang membutuhkan kekayaan untuk menggerakkan pemerintah kerajaan, pemerintah kerajaan ingin membangun negerinya dengan hasil dari negeri-negeri jajahannya dan pemerintah kerajaan dikendalikan oleh sekelompok orang penganut Kabbala.

“Para penganut Kabbala inilah yang membangun lembaga-lembaga penelitian di tanah Eropa, di Inggris, Perancis, Belanda, negeri-negeri Jerman, dan hingga ke tanah baru di Amerika. Mereka menghasilkan beragam ilmuwan dan peneliti dari disiplin keilmuan akan menciptakan berbagai metode untuk menundukkan bangsa lain. Dan ilmu yang paling berbahaya yang dikembang di lembaga mereka adalah ilmu kajian agama dan kajian manusia, karena tujuannya jelas.”

“Apa tujuannya?” tanya Ngapudin penasaran.

Herlina menatap wajah Ngapudin. “Menghancurkan agama itu sendiri dan menghilangkan Tuhan dalam kehidupan manusia. Khususnya agama-agama para nabi.”

“Benarkah demikian, nona?”

“Betul. Dan salah satu ilmuwan sekaligus panglima militer yang mendapatkan mandat khusus dari lembaga kaum Kabbalis di wilayah kolonial Hindia Timur ini adalah Ervin de Hook. Dia pria yang licik, kejam, penyembah iblis, dan memiliki ilmu yang dikembangkan oleh para dukun di zaman kekuasaan Sulaiman. Setiap bulan purnama dia mempunyai ritual menjijikkan yang harus dilakukannya untuk menguatkan ilmu hitamnya secara permanen.”

“Ritual apa?”

Erlina menundukkan pandangannya, matanya penuh penyesalan dan seolah tidak rela apa yang ada dalam pikirannya terjadi. “Meniduri gadis-gadis perawan.”

Ngapudin menghela nafas, tak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Herlina. “Mereka benar-benar iblis.”

“Mereka memang iblis dalam arti yang sebenarnya. Dan yang lebih menjijikkan lagi pada saat munculnya gerhana matahari atau gerhana bulan, Ervin dan sekelompok pemimpin muda kaum kabbalis pasti akan mengadakan pesta seks dengan satu gadis perawan yang dinikmati rame-rame secara bergantian.” Herlina menghentikan langkahnya. Matanya meneteskan air mata. Diam beberapa detik. Kesedihan menghinggap dihatinya. “Dan salah satu korban dari ritual mereka adalah Eva von Bornberg.”

Nama yang sama dengan Herlina von Bornberg. Siapakah dia. Katanya dalam hati.

Leave a Comment