SISI GILA, TERBUAI DAN TERBAKAR LANTUNAN INDAH NASIDA RIA

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Setiap mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh group samproh putri dari Semarang, Nasida Ria saya selalu merasa terbakar dan terbuai. Hati saya merasa tentram dan merasa berada di sebuah alam yang sangat menyenangkan. Seolah-olah dunia ini hanya ada dalam penguasaan saya dan kepemilikan saya, hanya milik saya sendiri bersama dengan suara-suara indah para munsyidah Nasida Ria.

Saya sangat jatuh cinta pada Nasida Ria. Mereka bisa menyanyikan syair-syair yang membakar hati saya. Setiap lagu-lagu yang dilantunkannya menjadikan diri saya bukan saya yang sebenarnya, tapi seorang yang paling tampan, orang yang paling nyaman menikmati hidup, dan orang yang paling mendapatkan keberuntungan. Suara mereka layaknya kehadiran berkah yang melimpah di muka bumi dan memberikan saya sebuah kekuatan yang sangat mendorong untuk berkarya.

Dalam menikmati waktu-waktu kerja dan beraktivitas, yang membutuhkan kondisi relaksasi dan perasaan tentram, seperti menyelesaikan laporan, menulis ide-gagasan, membuat kreasi di rumah dan berleha-leha menikmati kemalasan saya selalu memutar lagu-lagu Nasida Ria. Suara mereka bisa memberikan sebuah kekuatan yang bisa menggerakkan hati saya untuk melahirkan beragam pemikiran dan berbagai khazanah keilmuan. Baik syair-syairnya maupun suara para gadis, perempuan, ibu-ibu yang menyanyikannya bisa membuat telinga saya tulia akan segalanya, mulut saya bisu akan makanan, dan perut saya bisa memasukkan segala jenis makanan halal.

Nasida Ria benar-benar bagian dari hidup saya. Ia selalu ada dimana saja saya berada. Setiap lagunya yang terlintas dalam suatu perjalanan kehidupan saya pasti akan memberikan kesan yang sangat mendalam dalam hati saya. Dalam pukulan kendang, gesekan biola, pukulan rebana, dan petikan gitar dan pianonya membuat saya hanyut dalam rasa cinta dan mencintai mereka. Kehadirannya benar-benar merupakan bagian dari kehidupan saya. Suara lagu-lagu mereka membakar hati dan tubuh saya sehingga saya merasa melayang menuju ke sidratil muntaha.

Saya menyukai nasida ria sejak kecil. Sejak saya sudah bisa memahami suara-suara yang bisa kuterima dengan telinga saya. Ketika saya tumbuh menjadi anak kecil saya adalah anak yang hidup dan tumbuh dari orang tua yang melarat, miskin dan sangat tidak dihormati. Kedua orang tua saya bukan orang yang penting dan bukan orang yang memiliki kedudukkan yang tinggi. Mereka berdua tidak dibekali dengan harta warisan melimpah, kekayaan yang membanjiri rumah serta bekal bekerja untuk mendapatkan uang rupiah. Maka tidak mengherankan jika saya tumbuh dalam sebuah kekurangan dan keterbatasan.

Karena kondisi itulah ayah saya dan ibu saya berjuang dengan membangun keluarga. Mereka berdua bekerja menciptakan sebuah pekerjaan yang bisa menghidupi saya apa adanya. Ayah saya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu saya belajar menjadi guru serta aktivis di Nahdlatul Ulama. Dan setiap mereka berdua menjalani aktivitasnya saya dititipkan nenek saya di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk dunia, desa itu merupakan sebuah dusun yang berada di pesisir yang terkebung dengan pegunungan dan tambak-tambak. Setiap mengalami “penitipan” itulah saya menangis, mencari ibu saya dan merindukan ibu saya. Saya biasanya akan menangis jika malam hari, karena menunggu kedatangan ibu yang tak kunjung datang.

Dalam kesedihan hidup merindukan ibu dan ayah yang sedang pergi bekerja atau sedang berjihad di Nahdlatul Ulama itulah saya mendengar lagu-lagu nasida ria terngiang di telinga saya melalui tape recorder warga kampung tersebut. Di kampung itu tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, bahkan santri-korak memiliki cita rasa yang sama dengan nasida ria. Mereka semua sangat mencintai Nasida Ria dan gemar sekali memutar kaset-kaset pita nasida ria. Bahkan ada yang setiap sore setelah sholat asyar memutarnya di sebuah corong yang bisa di dengarkan oleh orang seluruh kampung.

Poster-poster nasida ria terpampang secara luas di rumah-rumah warga kampung. Deretan kaset nasida ria menjadi koleksi yang membahagiakan dan bisa menjadi sebuah kebanggaan dan identitas dirinya. Tak jarang obrolan setiap ibu-ibu kampung selalu terjebak pada topik nasida ria.

Berangkat dari situlah saya mulai terbakar dengan lagu-lagu nasida ria. Hingga tumbuh dewasa dan menuju ke usia yang mendekati usia para nabi saya tetap mencintai nasida ria. Setiap mendengar lagu-lagunya mereka saya ingin menirukan dan berusaha mendapatkan suara yang merdu, tapi hal itu sangat berat serta mustahil. Suara saya tidak sebagus pikiran dan penampilan saya.

Banyak teman-teman saya yang mencemooah saya karena kecintaan saya terhadap nasida ria. Saya dianggap kuno dan terbelakang. Saya dianggap tidak berkemajuan dan tidak kekinian. Bahkan ada yang menyebut saya “banci” karena mencintai lagu-lagu kegemaran para ibu-ibu dan santri putri. Tapi ketika saya ditertawakan karena hal itu justru saya semakin bangga dan merasa “itulah saya,” dan saya suka dengan ejekan itu kepada saya.

Apakah ini sesuatu yang gila pada diri saya? Jangan-jangan saya benar-benar gila, tidak sama dengan orang-orang yang seusia dan seangkatan dengan saya, apalagi dengan adik-adik saya, karena ternyata kecintaan saya pada nasida ria tidak ada pada mereka.

Saya semakin mencintai nasida ria ketika mendengar ibu saya menyanyikan satu lagu nasida ria, suaranya persis dengan apa yang ada di kaset. Lengkingan dan jeritan suara ibu sangat layak menjadi bagian dari group nasida ria. Setiap melantunkan syair maulid dziba’iyah dan melantunkan sholawatan suara ibu pasti menembus hati saya dan saya merasakan kehadiran nasida ria dalam diri saya. Saya pun membayangkan bahwa para munsyidah nasida ria adalah seperti sosok ibu saya.

Dulu di zaman tape recorder (tahun 1980-2000-awal) saya sangat berkeinginan untuk mengoleksi seluruh kaset-kaset keluar nasida ria, namun ternyata saya kesulitan untuk mencarinya. Selain persoalan uang juga waktu. Tapi, justru saya bisa mengoleksi kaset-kaset pita An-Nabawiyyah Langitan dan seluruh turunannya.

Dan di zaman internet ini saya dengan leluasa mendapatkan seluruh kaset-kaset nasida ria melalui youtube. Saya pun segera mengoleksinya mulai dari vol pertama hingga yang terakhir. Saya pun bisa memutarnya kapan saja dan bisa memainkannya sesuka saya pada lagu-lagu yang saya sukai tanpa harus memutar ulang kebelakang, seperti di zaman kaset tape recorder.

Bahkan secara ekstrim saya berfikir ingin menulis Sejarah nasida ria, mengupas syair-syairnya dengan analisis teori yang mendalam, dan membongkar identitas setiap legenda munsyidanya—satu persatu. Karena hanya itu yang bisa saya lakukan, karena saya hanya bisa menulis, tidak bisa menirukan mereka menyanyi—suara jelek saya tidak layak untuk menyanyi lagu-lagu “suci” nasida ria, suara saya sangat sumbang dan menyusahkan orang yang mendengarnya.

Dalam sebuah lintasan pemikiran saya juga ingin mengundang mereka dalam sebuah acara, agar saya bisa melihat mereka bernyanyi dihadapan saya dan menikmati secara langsung suara mereka. Tapi jelas saya terbentur dengan momentum dan anggaran, sehingga hal itu sangat berat untuk saya lakukan.

Semoga impian atas cinta gila saya pada nasida ria ini bisa terwujud, baik dalam menulis karya atau mengundang mereka dalam suatu acara, atau menjadi pemilik diantara mereka.

Gedungombo, 15 Juni 2020

One Thought to “SISI GILA, TERBUAI DAN TERBAKAR LANTUNAN INDAH NASIDA RIA”

  1. Всем привет, хочу порекомендовать вам хороший сайт о Форексе http://www.forex-book.top

Leave a Comment