MEMPERTIMBANGKAN GEJOLAK PERANG CINA-INDIA DAN POSISI INDONESIA (Bagian Pertama)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Pada pertengahan Mei 2020 lalu telah terjadi ketegangan di garis damarkasi di Jammu dan Kashmir, perbatasan India dan Cina yang mengakibatkan kontak fisik tentara dengan 11 orang terluka, yakni empat tentara India dan enam tentara Cina. Letupan kecil ini bisa jadi akan menjadi bara api yang kapan saja bisa membakar dan menyulut pertempuran yang lebih besar dengan melibatkan banyak personel militer dan kecanggihan alutista pada kedua negara.

Bukan tanpa alasan pertempuran yang lebih besar akan terjadi ditengah kedua negara sedang sibuk menghadapi pandemik Covid-19 dan kondisi hubungan kedua negara yang sudah mulai panas akhir-akhir ini. Cina yang merasa berhasil menangani wabah di negerinya kemungkinan besar juga akan memanfaatkan “kelemahan” India yang tidak bisa mengelolah wabah secara bijaksana.

Ada banyak alasan yang memungkinkan pertempuran dalam skala besar terjadi antara India dengan Cina di perbatasan yang telah disengketakan.

Pertama, India dan Cina merupakan dua negara besar Asia yang sama-sama memiliki nuklir sebagai alutista pertahanan dirinya. Keduanya mengembangkan diri sebagai negara kuat secara militer dan berupaya keras untuk mendapatkan klaim sebagai negara besar dan kuat di kawasannya.

Nuklir yang dimiliki Cina dan India sewaktu-waktu bisa saja digunakan untuk menghantam tetangganya yang tidak bisa bersahabat dengannya. India kemungkinan akan memulainya, atau sebaliknya Cina yang akan memulainya dengan gerakan awal yang sangat menkhawatirkan tetangga-tetangganya. Apalagi jika menengok pada program BRI-nya di Asia selatan kemungkinan Cina bisa memanfaatkan “peluang” itu untuk memulai serangan terhadap India. Baik secara diplomatik, ekonomi maupun secara militer.

Kedua, sudah menjadi kenyataan bahwa India dan Cina merupakan negara dengan teritori yang luas yang menjadi “pemimpin” di kawasan. Cina menjadi semacam “Raja” di kawasan Asia Timur dan India menjadi “Raja” di kawasan Asia Selatan. Keduanya menjadi negara yang sangat diperhitunghkan dalam kerjasama multilateral, membuat “minder” tetangga-tetangganya yang kecil dan juga bisa saja menimbulkan banyak ketegangan dari pada stabilitas.

Sejak menjadi kuat secara militer dan ekonomi Cina terus menerus melakukan rongrongan di laut cina selatan yang menimbulkan kekhawatiran terhadap tetangga-tetangganya di Asia Tenggara. Ketegangan dengan Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunai Darussalam dan Taiwan karena sengketa kawasan (pulau-pulau) di Laut Cina Selatan tidak lain merupakan “kebesaran” Cina yang melampaui persahabatan yang dibangunnya.

Begitu juga dengan India, sejak tumbuh dan berkembang menjadi negara mapan secara militer dan ekonomi selalu menunjukkan “cakar harimau”-nya pada tetangga-tetangganya. Tidak ada negara-negara di kawasan Asia Selatan yang mampu menghadapi diplomasi India. Hanya Pakistan saja yang masih melakukan “perlawanan” diam yang terus menimbulkan ketegangan di kedua belah pihak.

Ketiga, Cina dan India mewarisi kawasan yang terus melangsungkan perang pasca berakhirnya perang dingin yang melibatkan dirinya secara langsung atau secara tidak langsung. Anggaran militer keduanya terus berkembang dan tumbuh seiring dengan upaya keduanya untuk merawat perang yang tidak ada penyelesaiannya secara bijaksana itu.

Pada satu sisi, Cina terus akan mendukung Korea Utara untuk menghadapi Korea Selatan guna memperpanjang masa perang korea. Jepang dan Amerika mendukung korea Selatan untuk menghadapi Korea Utara. Garis demiliterisasi di korea praktis tetap menjadi ajang “pertempuran” yang tiada ujung akhirnya. Tentara dua negara di semenanjung ini akan terus bersitegang dan menimbulkan beberapa insiden yang sangat mengkhawatirkan, mulai dari latihan militer bersama oleh Korea Selatan hingga uji coba rudal antar benua oleh Korea Utara.

Pada posisi ini Cina sangat mendukung secara penuh upaya-upaya Korea Utara dengan bantuan-bantuannya yang tidak terlihat secara langsung, baik militer maupun ekonomi. Sebab, mustahil Korea Utara yang miskin dan penduduknya tertutup dari akses perdagangan luar negeri mampu bertahan sekuat ini jika tanpa ada dukungan Cina di belakangnya.

Pada sisi lain, India akan terus ber-perang dengan Pakistan yang memperpanjang sejarah perang India-Pakistan. Perang India-Pakistan sudah terjadi empat kali dan tidak menghasilkan perdamaian permanen yang menyelesaikannya. Wilayah perbatasan di Kashmir akan terus menjadi ajang pertempuran yang menyedihkan (masyarakat kedua negara) sehingga konflik di perbatasan tidak akan pernah menghasilkan stabilitas dan kenyamanan.

Ketiga hal ini juga didukung dengan sikap-kebijakan Cina yang melebarkan pengaruhnya melalui program “Sabuk dan Jalan”, yang terus memberikan dukungan terhadap negara-negara kecil di Asia Selatan. Alih-alih negara Asia Selatan sangat bergantung pada kemakmuran India yang sedang tumbuh, Cina tampil menjadi “dewa penolong” yang memberikan pinjaman uang, lapangan pekerjaan, ekspor barang murah, dan bantuan konsultasi tata negara. Tentu saja kebijakan Cina ini sangat menyakitkan bagi India—yang menyebabkan India enggan bergabung dengan gagasan kerjasama Perdagangan Indo-Pasifik yang digagas oleh Indonesia, karena di dalamnya ada Cina yang masuk sebagai anggotanya.

Perseteruan Harimau dan Naga

Menengok perjalanan sejarah hubungan kedua negara, perang dan konfrontasi Cina-India (Cindia) pernah terjadi tiga kali. Kendati tidak menimbulkan korban sebesar Perang Korea, Perang Vietnam, atau Perang Arab-Israel, tapi konflik kedua negara ini menghasilkan ketegangan berkelanjutan yang terus menjadi ajang adu kekuatan militer.

Pertama, Perang Cindia pada 1962 yang berjalan selama sebulan. Perang menghasilkan kesepakatan adanya LAC yang pada gilirannya menghasilkan ketegangan demi ketegangan yang berkala di sejumlah bagian yang berbeda dari LAC sepanjang 2.167 mil. Tentara kedua negara tidak segan-segan melempar provokasi yang menimbulkan kontak fisik yang berakibat pada korban luka-luka.

Kedua, Perang Cindia pada 1975. Perang ini menimbulkan korban yang lumayan banyak. Sejumlah tentara India tewas dalam pertempuran. Dan Cina membuktikan dirinya sebagai pemenang. Perdamaian disepakatai yang bisa menghentikan untuk sementara operasi militer keduanya.

Dan ketiga, Perang Cindia pada 2017. Berawal dari langkah Cina yang membangun jalan di Doklam, persimpangan yang memisahkan India, Bhutan dan Cina. India merasa keberatan dan merespon dengan konfrontasi yang berlangsung selama 73 hari.

Berangkat dari sejarah pertikaian ini, kebijakan Cina yang mengkhawatirkan India, alutista kedua negara, kepemilikan nuklir, dan konfrontasi pada bulan Mei 2020 ini tidak menutup kemungkinan mobilisasi militer akan dikerahkan oleh kedua negara untuk melanjutkan pertempuran yang lebih panjang, lebih mematikan dan lebih ganas. Cakar Naga Cina tidak akan membiarkan Harimau India menjadi kuat dengan taring-taringnya, begitu juga sebaliknya. Kedua negara (kemungkinan) besar akan membangun pangkalan dan landas serbu yang tidak jauh dari perbatasan kedua negara untuk meniupkan sangkakala pertempuran.

Leave a Comment