IBU BERKERUDUNG HITAM

oleh : Ahkmah Sifyani

 

Sambil aku menyeruput kopi hitam yang sejak tadi disuguhkan di depanku. Ibu itu masih memakai kerudung kesukaannya berwarna warna hitam. Dia tinggal dirumah sangat sederhana, bisa juga dikatakan jelek dengan tembok-tembok yang sudah mulai rapuh di setiap sudutnya.

“kalau kopinya pahit, kamu bisa menambah gula sendiri yang ada di dapur…!”

“aku mendapat kabar dari Kang Man…, katanya Ibu memintaku kesini.”

“ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan kepadamu, ini tentang cerita silam tiga puluh tahun lalu saat ibu masih tinggal dirumah lama”

Aku hanya terdiam mencoba menerawang perihal cerita yang ingin di sampaikan Ibu. Memang dulu kita pernah tinggal dirumah Bu De, entah berapa tahun aku tak bisa menghitung karena masa itu seperti terpotong-potong.

“tengah malam itu kamu masih berusia lima tahun, dengan memakai kaos putih kamu menangis di atas dipan yang terbuat dari bambu. coba ingat-ingat apa yang kamu lihat saat itu…?”

Ia.., perlahan-lahan gambaran peristiwa itu terlihat semakin jelas. Sinar lampu sentir tampak remang-remang membuat gambaran itu semakin utuh.

Bapak membawa ikat pinggang di tangan kanannya dan mencambukan ke badan ibu sampai berkali-kali. Aku melihat ibu mengerang kesakitan tapi bapak tak menyudahi cambukannya. Kejadiann itu membangunkanku dari tidur.

Aku hanya diam di hadapan Ibu.

“ibu Cuma pesan satu kepadamu, jangan sekali-kali kamu menyakiti perempuan, apalagi saat kamu nanti beruah tangga. Jika ada perempuan yang tak baik kepadamu tak usah kau membalasnya tinggalkan saja dengan cara yang baik”

Kata-kata ibu itu yang sampai saat ini selalu aku ingat dimanpun aku berada. Walaupun hanya sebuah             nasehat pendek kata Erich Froom “nasehat ibu itu paling sejati.” Delapan tahun lalu dia pergi untuk selamanya dengan membawa cerita tentang kehidupan yang tak pernah selesai unutuk di ceritakan kepadaku. Semoga ibu tetap tersenyum di surga dengan memakai kerudung kesukaannya.

Leave a Comment