Solusi Wabah Covid-19, dan Spiritual Religius

Oleh :

Imam Sarozi

 

Virus Corona atau covid-19 datang ke Indonesia tanpa undangan. Menebar ancaman melalui penyebaran tanpa perkenalan kulo nuwun kepada penduduk Indonesia. Delalah kita belum secara penuh siap lahir batin menerimanya. Dompet belum tebal, hoax semakin kencang, dan solusi nyandat seperti sepeda motor kehabisan bensin. Oh my god.

Sebenarnya ini bukan kali pertama ada wadah yang menyebabkan pendemik di beberapa Negara di dunia termasuk Indonesia. Berkali-kali umat manusia menghadapi wabah yang menyebabkan pandemik global. Dulu informasi sangat minimal mempengaruhi dalam mengambil keputusan hasil langkah-langkah. Hari ini alat komunikasi secanggih, peralatan medis berkembang, dan infranstruktur beranjang percepatan.

Dulu saya mendengar cerita tentang penyakit atau virus sama dengan respon anak-anak remaja ndeso yang lain. Wes sekarepelah penting ijek iso dolanan. Hanya sebatas itu. Ora ngagas.

Sekarang, semua story wa dan facebook penuh dengan info penyebab serta pencegahan Virus Corona. Teman-teman sepermainan dulu bersikap acuh, dengan perkembangan tehnologi infomasi kini mulai responshif atau bisa jadi hanya ikut-ikutan dengan kondisi media yang ada.

Apa bedanya dulu dan sekarang? Hanya terletak pada media komunikasi dan publikasi yang semakin canggih. Dulu adus kali menjadi hobi yang sangat asyik, sekarang nongkrok di warung kopi atau café menjadi pilihan yang lebih menarik.

Refleksi terhadap Corona

            Pemerintah sudah menginstruksikan cara pencegahan. Semua jajaran yang memiliki kepentingan bergerak menyisir keadaan yang berkembang. Para komunitas dan organisasi sosial beranjak turun gunung membantu dengan segenap jiwa dan raga.

Apa yang perlu kita lakukan sebagai warga Negara yang menjadi bagian dari sekian juta penduduk Indonesia?

Jelas, manut anjuran dan intruksi pemerintah. Demi kebaikan keluarga dan diri sendiri selamat dari virus ini.

Selain itu, ada beberapa hal yang harus kita baca ulang dari kenangan kita sebelum terjadinya pandemik ini. kita yang waktunya terforsir terlalu banyak demi memenuhi kebutuhan ekonomi, hobi, atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati waktu senggang. Dengan datangnya pademik Covid-19 semuanya berubah. Terbalik 360 derajat. Nilai negatif jelas. Tapi wes tho ra sah dibahas garai gelo ati. Yang perlu di kaji adalah hal positif apa yang bisa kita lakukan? Itu pertanyaan besarnya.

Ikhtyar secara dhohir wajib, namun pademik ini memberi ruang lebar untuk kita kembali ke jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Mungkin itu satu hal yang sering menjadi nomer kesekian dari prioritas hidup, tapi dengan datangnya pademik kita senantiasa diingatkan tentang pentingan ruang spiritual religius yang mulai pudar.

Leave a Comment