MAKAN DEMI TABARUKAN

Oleh :

Akhmad Sifyani

Lasem namanya begitu fenominal di kalangan pesantren, karena banyak kiai-kiai besar yang pernah hidup di daerah  pesisir ini. Seperti; Mbah  Mashum, Mbah Syakir, Mbah Nuriyyah, Mbah Sambuh, Mbah Srimpet, Mbah Kholil, Mbah Mansur dan masih banyak kiai-kia yang tak bisa saya sebutkan. Semuanya di makamkan di area Masjid Jami Lasem.

Setiap hari jumat, mulai pagi setelah subuh dan selesai sholat jumat, banyak santri-santri yang tahlil. Ada yang membaca tahlil, ada juga yang menghafalkan al-Quran bagi santri hafidz yang ingin melancarkan setorannya saat nanti ngaji di pondok.

Dulu Saya sering  mendengar orang mengatakan kalau lasem itu akronim dari kata lama-lama kesem-sem, bisa percaya atau tidak. Tapi aku pernah merasakan sendiri  tinggal selama lima tahun disana. Waktu itu pertama kali aku menginjakan kaki di lasem, ada rasa tak betah atau Bahasa jawanya “ga krasan” selalu ingat rumah tempat tinggalku.

Sampai teman se kamarku bingung dengan sikapku yang selalu murung dikamar dan pergi keluar pondok tanpa pamitan. Aku paham apa yang dirasakan temanku itu, tapi mau gimana lagi dia sebagai santri senior pasti menahan rasa kesalnya kepadaku, dan selalu memberikan aku motivasi agar betah tinggal dipondok. Dia juga menceritakan karomah para kiai-kia yang ada di lasem serta karomah para kiai pendiri pondok kami.

Memang dipondok kami sering dipakai tabarukan “ngalap barokah” dimana santri-santri yang sudah malang melintang di duni pesanteren untuk meyempurnakan kesantriannya wajib nyantri di lasem. Biasanya santri-santri itu ikut ndalem, mengerjakan setiap urusan yang ada di rumah kiai seperti; mencuci baju, menyapu halaman ndalem, memasak, mennyuguhkan pasogatan saat ada tamu, mengantar neng dan gus ke sekolah.

Semua itu di lakukan dengan hati yang ikhlas dengan mengedepankan nilai-nilai ke tawadu’an, agar keberkahan itu bisa kita dapatkan saat kita pulang dari pondok.

Suatu hari Bu Nyai  pernahmemintaku untuk memindahkan taman yang ada di depan Ndalem, ukuran 10×3 M2 cukup lumayan berat jika di pindah dengan dan peralatan seadaanya.

Mau bagaimana lagi Bu Nyai sudah mengutus, sebagai seorang santri pantang menolak setiap pekerjaan yang diberikan.

saya mencoba mencari teman di kamar-kamar asrama putra, kebanyakan santri menolak  membantu saya memindahkan taman perintah Bu Nyai  itu. Tak lama kmudian ada seorang santri yang datang mendekat, “ada apa kang…?’’ tanya santri itu kepadaku. “ini kang…, Bu Nyai menyuruh saya untuk memindahkan taman yang ada di depan Ndalem. Tapi saya tak ada yang membantu…!”.

“tak apa kang, biar saya bantu saja, itung-itung tabarukan”. Mendengar jawabannya saya langsung bergegas mengajak kang santri itu ke ndalaem. Lalu saya mengambil cangkul dan cetok yang sudah saya siapkan dekat dapur. Pertama yang saya kerjakan adalah memindahkan seluruh tanah yang ada di taman, saya cangkuli sedikit-dikit  ke atas karung kemudian saya angkat ke tempat yang sudah ditentukan Bu Nyai untuk menjadi taman baru.

Tak ada rasa lelah yang mengelayuti kami berdua. Keringat peluhpun tak jadi masalah membasih tubuh kami. Taman baru yang di inginkan Bu Nyai pun sudah jadi dengan penataan bungah-bungah yang baru. “syif…, syif…, “ terdengar suara Bu Nyai memangilku depan Ndalem. Bergegas saya lari menghampirinya “ini minum es buahnya.., bagi sama temanmu” Bu Nyai memberikan dua gelas  Es Buah buatanya. Betapa segarnya Es Buah itu saat melawati tenggorakanku, begitu segar tak bisa diceritakan rasanya saat angin timur menerpa  wajahku yang sedang duduk dibawah pohon markisa.

Leave a Comment