SAINS MODERN DAN GERAKAN MELAWAN TUHAN

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Abad 21 adalah abad kejayaan bagi sains Barat, dimana era “kemenangan” sains modern yang didasarkan pada filsafat meterialisme dan realisme telah menduduki tempatnya di semua lini semua kehidupan dan disiplin keilmuan.

Keilmuan dibentuk dan disepakati melalui proses riset empirisme dan rasionalisme, yakni melalui pengamatan yang kasat mata, berulang menurut pengamatan indera dan sesuai dengan perhitungan akal sehat atau otak. Sebuah teori dibentuk dari proses perjalanan penelitian lapangan, pengamatan secara langsung oleh panca indera dan perhitungan yang sesuai dengan prinsip-prinsip matematika. Semua sains, baik sains alam maupun sains sosial tidak bisa lepas dari cara kerja-cara kerja yang sudah jamak dipelajari-diajarkan dan dikampanyekan oleh bangsa Barat ke seluruh dunia pasca renaisance abad 15 M. itu.

Ciri utama dari pada keilmuan yang dikembangkan oleh bangsa Barat adalah berpijak pada konsep dasar sekulerisme ilmu pengetahuan, yang memisahkan antara urusan keagamaan (sebagai wilayah transenden-privat) dengan urusan keilmuan dan kehidupan sehari-hari (sebagai wilayah profan-publik). Agama tidak berhak sama sekali masuk ke dalam ranah keilmuan dan kajian sains modern. Sejauh-jauhnya agama “disingkirkan” dan dimarjinalisasi agar tidak ikuit serta dalam proses pembentukan keilmuan dan pembentukan peradaban manusia, termasuk di dalamnya adalah mengatur dan menata jalannya kehidupan bermasyarakat dan juga pembentukan alam semesta. Walhasil, sains modern tidak menyertakan Tuhan didalam keberadaannya sekaligus di dalam penerapannya.

Pada konteks pembentukan keilmuan sains modern posisi Tuhan tidak ada dan memang ditiadakan secara “sengaja”. Hal ini karena konsep tentang “Tuhan” itu sendiri masih harus pertanyakan melalui epistemologi filsafat ontologi, yakni melalui “ada dan ketiadaan” tentang asal usul alam semesta dan kemunculannya hingga pada lahirnya manusia dan masa depan alam semesta. Tuhan “itu ada atau tidak ada” masih harus diperdebatkan dan menjadi objek kajian sebelum mengawali pembentukan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dengan demikian tidak mengherankan jika keberadaan keilmuan barat atau sains modern saat ini telah meninggalkan peranan Tuhan di dalam proses pembentukkannya dan meniadakan sama sekali peranan kekuasaan-Nya dalam pembentukan sebuah teori keilmuan, yang pada gilirannya telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan pola-pola kehidupan yang dijalani oleh masyarakat modern dewasa ini.

“Tuhan” dianggap hanya sebatas imajinasi, atau produk pemikiran manusia seiring dengan pembentukan peradabannya manusia itu sendiri. “Tuhan” hanya mitos, hal yang tidak nampak yang dipaksakan oleh “oknum manusia” untuk menguasai manusia lain atau menundukkan manusia (dari bangsa) lainnya. Ia hanya sebatas angan-angan akan kebesaran dan sesuatu yang diada-adakan dalam realita eksistensi kehidupan dan asal mula kemunculan manusia. Kitab suci dianggap sebagai sebuah hasil karya manusia yang dicatat atau disabdakan oleh sosok manusia lainnya untuk “menakut-nakuti” manusia agar masuk pada ranah ekstasi dan mencapai pada kehidupan yang indah pasca-kematian. Dengan kata lain, konsep tentang “Tuhan” dan Agama itu sendiri merupakan produk budaya dari pada pemikiran manusia yang tidak ada bedanya dengan keberadaan seni, ilmu pengetahuan, politik, tradisi dan lain-lain.

Oleh karena itulah, dalam sains modern posisi agama dan adanya Tuhan itu sendiri merupakan objek kajian yang bisa diteliti dan bisa diamati sebagaimana keberadaan hasil kebudayaan manusia lainnya. Agama dan Tuhan bebas dikaji dan bebas pula diperdebatkan hingga masuk pada ranah mempertanyakan keberadaan-Nya sekalipun merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja. Bahkan ujung-ujungnya, mereka—yang menggagas sains modern berkeinginan untuk “menjadi Tuhan” dalam dirinya sendiri dan “Tuhan” untuk dirinya sendiri pula, yang mereka sebut dengan istilah atheisme. Hal inilah yang terjadi pada sekelompok kaum naturalis yang dikoordinasi di dalam Royal Society di kerajaan Britania Raya, dimana mereka tak lain adalah penerus dari pada keilmuan para Fir’aun di Mesir dan para ilmuwan di Babilonia di zaman Namruj.

Dengan mengaku sebagai “Tuhan” dan membangun konsep keilmuan tanpa campur tangan Tuhan maka sains modern pun menolak peranan dan apa yang difatwakan oleh para nabi dan rasul. Nabi atau seorang rasul dianggap sebagai manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan para ilmuwan, penguasa, atau seorang filsuf yang menulis sebuah kitab atas pemikirannya untuk “menguasai” manusia lainnya. Nabi bahkan dituduh telah menempatkan kepentingan pribadinya dalam gerakannya memperkenalkan Tuhan kepada manusia dengan cara menyampaikan kitab-kitabnya atau serangkaian keahlian mistik yang diluar nalar (mukjizat) agar manusia tunduk dan patuh kepada-nya. Mereka para saintis modern menghadapinya (mukjizat para nabi) dengan kecanggihan keilmuan modern dan seluruh hasil karyanya yang telah membentuk peradaban modern dewasa ini.

Leave a Comment