PENDIDIKAN SAINS DI SEKOLAH ANTI-TUHAN

oleh :

Moh. Syihabuddin

Semua disiplin keilmuan modern yang saat ini diajarkan di kampus-kampus, lalu ke wilayah sekolah-sekolah dasar dan tingkat lanjutan (bahkan di madrasah sekalipun) tidak ada yang menyertakan Tuhan di dalam konsep-konsepnya. Dengan tegas seolah dikatakan bahwa tidak ada eksistensi Tuhan di dalam matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi, antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, dan semua disiplin cabang-cabang dari pada disiplin ilmu-ilmu tersebut.

“Tuhan Telah Mati” di dalam semua disiplin keilmuan dan semua bidang studi yang diajarkan di sekolah-sekolah modern. Keberadaan Tuhan tidak ada sama sekali dalam pembentukan alam semesta di ilmu biologi, tuhan tidak ada di dalam logika matematika, Tuhan tidak andil sama sekali dalam urusan fisika dan sosiologi, dan dalam konteks seluruh keilmuan pun Tuhan tidak memiliki kekuasaan apa-apa dan tidak mampu berbuat banyak untuk mengisi kemajuan manusia dan pembentukan peradaban manusia.

Di ranah keilmuan alam atau sains alam modern dewasa ini eksistensi Tuhan sudah “babak belur” di bidang biologi, tidak menempati sama sekali di cara kerja alam di bidang studi kimia dan sekaligus tidak menyertai gerak-gerik alam semesta dalam kajian ilmu fisika. Angka-angka yang membentuk konsep matematika pun menjadi kunci pokok untuk menghilangkan Tuhan agar tidak “cawe-cawe” dalam pikiran manusia dan seluruh perangkat kehidupan manusia.

Di ranah keilmuan sosial atau sains sosial pun eksistensi Tuhan “semakin menderita” dengan ketiadaannya. Dalam keilmuan sosiologi yang melihat perilaku manusia sebagai objek kajian tidak ada sama sekali peranan Tuhan dalam gerak dan perilaku manusia itu sendiri, eksistensi Tuhan pun semakin tidak nyata. Dalam sejarah, asal usul manusia dan lahirnya alam semesta tidak menyertakan keberadaan Tuhan sebagai dzat yang awal dan yang mengawali. Apalagi pada kajian antropologi, Tuhan jelas-jelas telah “dimatikan” agar tidak menyertai lahirnya manusia sebagai makhluk hidup yang hidup bersama makhluk lainnya.

Akibat dari pada pengajaran dan kajian yang masif, intensif dan terstruktur pada keilmuan sains modern ini adalah terbentuknya seluruh kehidupan manusia dewasa ini, khususnya di negara-negara Barat sebagai pemimpin peradaban dan juga sudah mengglobal di seluruh dunia telah berbondong-bondong “meniadakan tuhan” dan menjalani ide-ide materialisme dan rasionalisme, yakni didasarkan pada kebendaan dan akal pikiran saja. Tuhan menjadi urusan pribadi yang keberadaannya menjadi semakin tersudutkan di dalam aktivitas sehari-hari.

Hal ini tentu saja bertentangan dan tidak sesuai dengan keberadaan Tuhan itu sendiri dalam kehidupan manusia serta ajaran Islam yang selalu mengedepankan kekuasaan Tuhan dan segala peranannya di dalam kehidupan manusia, termasuk di dalam proses pembentukan teori ilmu pengetahuan. Padahal jelas bahwa keilmuan Islam didasarkan pada warisan para nabi dan rasul sebagai “kepanjangan tangan” dari Tuhan yang Maha Tinggi yang tidak bisa digapai oleh manusia pada umumnya. Sedangkan konsep keilmuan sains modern telah meniadakan Tuhan dan menolak keberadaan nabi dan rasul sebagai seorang utusan atau “kepanjangan tangan Tuhan”.

Leave a Comment