PENCIPTAAN PEREMPUAN DAN IBADAH-NYA DI SAAT HAID-NIFAS

oleh :

Imam Aretatollah

Perempuan, dalam penciptaannya dia berasal dari tulang rusuk kiri Adam ketika masih berada di surga. Waktu itu Tuhan hanya menciptakan Adam sendirian, tanpa ada seorang teman, dan dia pun merasa kesepian. Karena itulah Allah menciptakan Teman perempuan untuk dirinya, yakni ibu Hawa.

Dalam kejadiannya mereka berdua menikah dan hidup bahagia di Surga. Ditempat yang indah itulah seluruh keinginan dan kebutuhannya terpenuhi. Apapun fasilitas dan makanan boleh dinikamati, terkecuali satu pohon yang buahnya tidak boleh di makan, yakni buah yang disebut dengan sebutan buah khuldi.

Mengetahui larangan itu, Iblis yang merasa iri dengan penciptaan Adam berusaha menggodanya supaya mau makan buah tersebut. Tetapi karena tahu kalau itu larangan dari Tuhan maka Adam tidak bergeming dengan godaan tersebut. Tapi pula iblis yang tidak berhasil menjerumuskan Adam memakan buah terlarang itu tidak menyerah begitu saja. Dengan kecerdasan dan retorika yang dimilikinya dia beralih menghampiri Hawa supaya mau memakan buah tersebut. Dia berkata kepada Hawa kalau buah khuldi adalah buah keabadian, dan siapa saja yang memakan buah itu pasti akan hidup kekal di Surga.

Bujuk rayu Iblis mampu membuat Hawa terpengaruh, maka Hawa menghampiri Adam supaya mau mengambilkan buah itu untuk di makan. Adam yang tahu kalau memakan Buah Khuldi merupakan sebuah larangan maka Adam menolak dengan halus.

Tetapi karena Hawa sudah terkena hasutan Iblis, maka dia terus merajuk dan membujuk kepada suaminya supaya mau mengambilkan buah itu. Bujukan itu juga di sertai sebuah ancaman kalau tidak di ambilakan maka dia akan mengambilnya sendiri tanpa mengindakan perintah Adam.

Di hadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan serta terdorong oleh rasa cinta dan sayang kepada istrinya maka Adam mengambil buah itu untuk istrinya. Dengan sangat terpaksa mengabaikan larangan Tuhan.

Hawa pun makan buah terlarang itu sambil menawari suaminya. Adama sendiri menyaksikan istrinya yang lagi makan dengan kondisi yang sangat lahap. Karena Adam tidak melihat kajadian apapun waktu istrinya makan, maka Adam ikut makan buah yang menjadi larangan Tuhannya itu.

Dengan memakan buah tersebut maka mereka telah melanggar perintah Tuhan dan Tuhan pun menghukumnya dengan membuang keduanya ke bumi.

Dalam perkembangannya sekarang ini anak cucu Hawa di hadapkan pada larangan-larangan beribadah ketika dirinya mengalami haid dan nifas. Kondisi tersebut diharamkan bagi perempuan menjalani ritual ibadah seperti sholat, puasa dan haji. Bahkan untuk memegang mushab dan membacanya pun tidak di perkenankan.

Pertanyaannya kenapa perempuan dilarang beribadah? Padahal ibadah merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan? Jalan untuk menuju surga? Lalu Apakah perempuan di larang masuk surga? Apakah perempuan di larang ber-Tuhan? Atau apakah memang perempuan itu di ciptakan hanya sebagai penggoda dan Tempat yang layak baginya hanya neraka? Kalau memang seperti itu mengapa Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya? Mengapa pula surga berada di bawah telapak kaki perempuan? Bahkan ada surat al-Qur’an bernamakan perempuan (surat an-nisa’)?

Itu tidaklah benar, sebab cinta Allah kepada hamba hanya karena kataqwaan kepada-Nya, dan taqwa bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang berusaha mencapai derajat itu dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya.

Lalu bagaimana perempuan bisa mencapai derajat itu kalau dia dihalang-halangi oleh kondisi alamiahnya? Dan bagaimana ibadah perempuan saat dirinya dalam kondisi haid dan nifas? Inilah yang harus diperjelas di sini. Sebab kalau tidak diperjelas maka pasti ada ketidakadilan dalam penciptaan. Padahal Allah menciptakan keduanya dalam kondisi yang sama, yaitu mempunyai kekurangan dan kelebihan yang kalau di takar maka hasilnya sama.

Disinilah wajib bagi kaum Hawa untuk tahu ibadah saat dirinya dalam kondisi haid dan nifas. Bukan hanya tahu tapi dia juga harus menjalankannya sebab hanya itu jalan satu-satunya bagi dirinya bisa beribadah. Ibadah itu ialah dzikir yang benar, dzikir dengan amalan yang benar dan dzikir disertai oleh Guru yang benar. Dengan dzikir seperti itu maka derajat perempuan sama dengan laki-laki, penghambaannya dan nilai ibadahnya juga sama dengan laki-laki. Bukankah kemuliaan perempuan sudah diabadikan dalam al-Qur’an? bukankah kenikmatan surga berada di bawah telapak kaki perempuan dan perempuan jugalah yang menjadikan penyebab masuk surga!.

Wallahu’alam bishowaf.

Leave a Comment