BASUDEWA KRISNA DAN MITOS KESAKTIAN PANDAWA DALAM EPOS MAHABARATA  

Oleh :

Imam Aretatollah

Epos Mahabarata sudah sangat familiyar di telinga kita, kisahnya hampir sudah banyak orang yang mengetahui, apalagi di tambah kemunculan serialnya yang  menawan dengan aktor tampan membuat cerita ini menjadi idaman setiap orang.

Kisah Mahabarata bisa kekal dan tak lekang oleh waktu di sebabkan alur ceritanya yang up todate, ada hikmah di balik kejadian dan peristiwa yang bisa di buat pelajaran di dunia post ini.

Di samping itu sosok pandawa yang berkarakter kuat dan mempunyai kemampuan di atas rata-rata manusia biasa serta kegagahan sebagai pria juga menjadikan cerita ini sangat di minati kaum pria dan wanita.

Kaum pria ingin menjadi sosok salah satu dari kelima anak Pandu ini, sedang kaum perempuan menginginkan punya mendamping satu dari kelima ksatria tersebut.

Sebutan pandawa di sematkan untuk putra pandu, sedang ‘lima’ karena jumlahnya lima, jadi sebutan pandawa lima (pendowo limo) artinya putra raja Pandu yang berjumlah lima atau lima bersaudara dari putra pandu dan beribu Dewi Kunti (Karna, walaupun beribu Kunti tidak di namakan pandawa, karena tidak berbapak Pandu).

Kelima anak Pandu ini adalah Yudistira, sebagai anak pertama dan pewaris tahta kerajaan Hastina Pura, dia merupakan orang yang bijaksana dan tak pernah berbohong serta mampu membuat musuh sekalipun akan luluh hati di hadapannya.

Anak kedua adalah Bima, dia termasuk orang paling kuat dan perkasa karena memiliki tiga kekuatan alam, pertama dia pernah minum air keabadian (dewa ruci), kedua menguasai kekuatan seluruh bangsa jin, ketiga menguasai kekuatan segala binatang di dunia dan kebal terhadap segala macam racun.

Anak ketiga yaitu Arjuna, di samping ketampanannya Arjuna merupakan orang yang cerdas dan ahli strategi perang serta sangat lihai memainkan panah. menguasai ilmu sastra dan logika, di samping menguasai ilmu pemerintahan dan politik.

Nakula dan Sadewa merupakan anak kembar yang di miliki Pandu, mereka berdua sangat lihai dalam ilmu pengobatan, bahkan mampu menyembuhkan segala macam penyakit di dunia.

Di samping itu mereka juga bisa berbicara dengan hewan dan tumbuhan. Begitulah kehebatan anak-anak Pandu atau yang sering di sebut sebagai pandawa lima. Kelimanya juga dalam waktu singkat dapat menguasai kitab Weda, Wedanta dan berbagai seni yang perlu di kuasai ksatria.

Jangan dulu terpukau dengan kesaktian dan kehebatan mereka, karena bagi lawan-lawannya,  pandawa hanya lima semut pudak tiada arti, mereka hanya lima cecunguk bodoh dan orang-orang kerdil yang tak ada gunanya.

Kita urai saja satu persatu lawan mereka.

Pertama adalah Dewabrata atau sering di sebut Bisma. Kesaktian Bisma setara dengan Parasurama (Parasurama adalah Avatara, dan Bisma mampu mengalakannya), di ajari Weda dan wedanta oleh Resi Wasistha (guru dari seluruh Dewa), juga menguasai seni dari Resi Sukrasarya (menguasai Sanjiwani, ilmu yang bisa menghidupkan makhluk yang sudah mati dan dapat hidup abadi.

Lawan kedua yaitu Guru Drona (Durna) dia menguasai dan lihai dalam menggunakan senjata. Berbagai senjata yang berada di tangannya maka akan menjadi senjata sakti yang tiada tandingnya, sebutannya adalah mahaguru yang tak terkalahkan (Karna dan Arjuna, serta Pandawa dan Kurawa adalah muridnya).

Karna merupakan lawan ketiga, di samping sangat lihai dan hebat menggunakan panah (kelihaiannya dalam memainkan senjata setara dengan Krisna) Karna juga punya tameng dari Dewa Surya yang tidak bisa di tembus oleh senjata hebat sekalipun, bahkan Pasopati, senjata dari Dewa Syiwa yang di berikan kepada Arjuna tak mampu menembus tameng Dewa Surya yang berada di tubuh Karna.

Ke-empat adalah Duryudana, anak tertua dari Raja Destarata ini mendapatkan kesaktian dari ibunya, Gandari. Dia telah melakukan tirakat tutup mata selama hidup, ketika matanya di buka dan pancarannya di arahkan ke seseorang maka orang tadi akan kebal dari senjata apapun.

Pandawa bukanlah lawan bagi keempat ksatria Kerajaan Hastina pura tersebut, bahkan salah satu saja dari ksatria itu mampu melibas kelima anak Pandu.

Tetapi pada kenyataannya pandawa bisa mengalahkan lawan-lawannya? Dan berhasil memenangakan peperangan yang maha dasyat di kurusetra itu. Dengan fakta kejadian itu, masihkah kita mengatakan pandawa bukan orang sakti? Masihkah kita meraguhkan kehebatannya? Atau masihkah kehebatan pandawa hanya mitos?

Kalau kita telaah lebih dalam cerita mahabarata, tetaplah pandawa bukan orang seperti yang di eluh-eluhkan banyak orang. Di banding ke empat lawan-lawannya, pandawa hanyalah orang biasa yang kemampuannya biasa-biasa saja, sebab kemampuan dan kesaktian lawannya jauh melebihinya. Lalu kenapa pandawa bisa menang dalam peperangan ini? Sebab ada Krisna sebagai pembimbing. Dialah Avatara (di dalam ruhanianya bersemayam ruh Wisnu atau sering di sebut titisan Wisnu). Pandawa secara mutlak, tunduk patuh kepada Krisna, walaupun kadang apa yang di perintahkan Krisna tidak masuk akal dan menyalahi hukum yang berlaku, bahkan akal fikiran pandawa sendiri pun sering bertentangan dengan perintah Krisna, namun pada akhirnya mereka tetap menjalankan apa yang di perintahkan oleh Krisna.

Dalam peperangan mahabarata ini Pandawa telah menjadikan Krisna sebagai pembimbingnya, sebagai sumber kekuatan dan pusat kepemimpinan. Pandawa tahu betul, bahwa hanya dengan tunduk patuh kepada Krisna lah peperangan ini mampu di menangkan, sebab Krisna adalah Guru pembimbing (dalam bahasa qur an nya di sebut waliyyam mursyidah), jadi bukan Pandawa yang hebat sehingga mampu mengalahkan lawan-lawannya, tapi Krisna lah yang mengarahkan Pandawa menuju kemenangan.

Mari kita lihat para Pandawa mengalahkan empat lawan terhebatnya.

Pertama Bisma, kakek Pandawa ini merupakan lawan terhebat dari perang ini. Dia memiliki ilmu sanjiwani yang bisa hidup abadi dan tak mempan oleh senjata apapun.

Krisna yang tahu kelemahan Bisma langsung menyuruh Srikandi sebagai kusir Arjuna untuk menggantikan dirinya.

Dalam aturan perang, menyertakan perempuan ikut berlaga dalam medan tempur merupakan pelanggaran dan ketidakpatuhan pada aturan perang.

Krisna tahu mengenahi janji Bisma yang tidak akan melawan perempuan, maka dengan memasang Srikandi sebagai kusir, niscaya Bisma tidak akan mengangkat senjatanya. Kesempatan inilah yang di manfaatkan Arjuna untuk mengalahkan Bisma.

Lawan kedua adalah guru Drona, beliau berjuluk mahaguru Durna. Bukanlah asupan jempol belaka julukan yang di sematkan padanya. Sebab Pandawa dengan strategi perang apapun tetap tidak mampu mengalahkannya. Perlu di ingat, kalau pandawa dan kurawa adalah muridnya, jadi strategi perang yang di gunakan Pandawa ialah hasil dari pengajaran dan pengetahuan yang di peroleh dari Drona. Itu sebabnya guru Drona bisa mematahkan segala serangan dan strategi perang yang di terapkan oleh Pandawa, bahkan mampu mengalahkannya.

Di sinilah Krisna menunjukkan perannya, yaitu dengan menyuruh Bima meneriakkan Aswatama mati (gajah yang bernama aswatama). Krisna tahu kalau guru Drona sangat menyayangi putra semata wayangnya itu. Putranya adalah sumber kehidupannya, dia hidup hanya untuk putranya dan dia rela melakukan apapun bahkan rela mati demi anak kesayangannya itu. Maka ketika mendengar putranya mati, dia sudah tidak punya lagi semangat bertempur, bahkan mengangkat senjata saja sudah tidak sanggup. Pada kesempatan inilah Krisna menyuruh Dristadyumna menghabisi nyawa Durna.

Karna merupakan lawan terberat ketiga Pandawa. Kehebatannya dalam memainkan senjata setara dengan Krisna, sehingga mustahil dia bisa di kalahkan, bahkan ketika kelima Pandawa mengeroyoknya secara bersamaan. Karna bisa di kalahkan hanya dengan cara yang tidak kesatria, yaitu waktu roda kereta Karna terjebak dalam lumpur dan dia berusaha untuk mengangkatnya. Dengan kondisi mengangkat roda kereta dan tidak bersenjata inilah, Krisna menyuruh Arjuna menggunakan pasopatinya untuk membunuh Karna, sebab dalam keadaan wajar Arjuna tidaklah sanggup mengalahkan Karna.

Inilah lawan keempat Pandawa, anak pertama Raja Destarata dan aktor utama terjadinya perang bratayudha ini. Dia adalah Duryudana, penerima kasaktian Dewi Gandari yang tak mampu di lumpuhkan dan di tembus oleh senjata terhebat sedunia. Bagi dirinya Pandawa bukan lawan yang sulit di kalahkan, bahkan Bima yang memiliki kekuatan tiga alam bisa di kalahkan dengan muda di perang adu tanding dengannya.

Lagi-lagi Krisna menunjukkan peran pentingnya, yaitu dengan bicara bersuara keras kepada Arjuna, yang memungkinkan Bima bisa mendengarnya. Dalam perang satu lawan satu itu Krisna berkata “Bima akan menuntaskan sumpah yang dia ucapkan di ruang pertemuan dan meremukkan paha Duryudana”. Dengan ucapan Krisna tersebut Bima menjadi tahu kalau kelemahan Duryudana terletak pada pahanya. Maka dengan seksama Bima selalu memukul paha Duryudana, dan itulah yang menyebabkan pihak pandawa menang.

Dengan kekalahan Duryudana maka Pandawalah yang menjadi pemenang dalam peperangan di Kurusetra. Walau masih ada lawan lain, itu tidaklah sebanding dengan kesaktian Pandawa.

Kalau kita perhatikan secara jelih, kemenangan Pandawa bukanlah hasil yang menggembirakan, sebab kemenangan itu hasil dari ketidak jujuran, ketidak sportifan dan melanggar aturan dan hukum perang yang berlaku saat itu.

Aturan perang satu lawan satu tidak boleh memukul perut ke bawah sampai lutut, dan orang yang ada di area pertarungan harus diam. Tetapi Krisna telah “memberi isyarat” dengan berbicara keras mengenai paha, sehingga Bima memukul paha Duryudana yang menyebabkan kekalahannya.

Membawa perempuan di laga pertempuran juga di larang, tetapi Krisna telah menempatkan Srikandi sebagai kusir Arjuna, dan inilah yang menjadi sebab kematian Bisma.

Aturan perang juga melarang menyebarkan berita bohong, tapi lagi-lagi Krisna menyuruh Bima berteriak kencang mengenai kematian Aswatama, dan dengan berita inilah guru Drona bisa di bunuh.

Larangan perang berikutnya, tidak boleh membunuh lawan yang tanpa senjata. Kejadian ini menimpah Karna yang sedang mengangkat roda keretanya, tanpa senjata dan tanpa persiapan untuk berperang. Melihat keadaan itu Krisna menyuruh Arjuna melesakkan anak panahnya ke arah Karna sampai ajal menjemputnya.

Dari sini bisa kita lihat bahwa bukan Pandawa yang hebat sehingga mampu memenangkan peperangan dengan musuh yang luar biasa, tetapi kepatuhan kepada Krisnalah yang membuat Pandawa berhasil memenangkan pertempuran yang maha dasyat itu. Pandawa tunduk patuh kepada perintah Krisna sebagai Guru pembimbingnya. Apapun yang di perintahkan Krisna, walau tidak masuk akal dan di anggap menyalahi hukum yang berlaku, tetap di jalankan. Tanpa adanya Krisna sebagai pembimbing, jelas Pandawa bukanlah siapa-siapa.

Pandawa lima merupakan manifestasi dari rukun islam. Kita pasti sudah sangat hafal bunyi Rukun islam, pertama adalah syahadat. Yang paling di butuhkan dalam bersyahadat adalah kejujuran, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW sebagai nabi dan rosulnya. Begitu juga sifat yang di miliki Yudistira, dia merupakan orang yang sangat jujur. Saking jujurnya sampai darahnya berwarna biru dan kereta yang di kendarainya berjarak empat centi di atas tanah (baca : Pandawa Lima, Rukun islam yang di kontekstualkan).

Kalau Pandawa saja punya Guru pembimbing berwujud Krisna, sehingga mampu mengalahkan lawan-lawannya yang super hebat, lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia biasa? Kalau Sunan kalijaga ketika mau haji di suruh kembali oleh Syaikh Samsu Tabris sebab di kwatirkan terjadi kemurtadan karena di pandang dalam dirinya sosok Guru pembimbing belum tertanam kuat, lalu bagaimana dengan kita?.

Di sinilah letak ke-fardu-an kita mempunyai Guru pembimbing (waliyam mursyidah/Guru Mursyid) yang mampu membimbing dan mengarahkan ruhaniyah kita dalam kehidupan post ini. Sebab tanpa adanya Krisna, pandawa lima bukan siapa-siapa.

Begitu halnya rukun islam, yang tanpa ada Guru pembimbing (Guru Mursyid) dalam menjalankannya hanyalah benda mati tiada arti.

Leave a Comment