GERAKAN PEREMPUAN DI ERA INDUSTRI KREATIF 4.0

Oleh :

Nida Maulidha

 

Pengantar

Perempuan adalah perkara yang selalu diperdebatkan dan diperbincangkan setiap orang. Perempuan selalu diartikan sebagai sosok makhluk lemah lembut dan penuh kasih sayang karena perasaannya yang halus. Secara umum sifat perempuan yaitu keindahan, kelembutan serta rendah hati dan memelihara. Demikianlah gambaran perempuan yang sering terdengar di sekitar kita, baik dari media maupun dari perbincangan sehari-hari.

Perbedaan secara anatomis dan fisiologis menyebabkan pula perbedaan pada tingkah lakunya, dan timbul juga perbedaan dalam hal kemampuan, selektif terhadap kegiatan‑kegiatan intensional yang bertujuan dan terarah dengan kodrat perempuan. Adapun pengertian Perempuan sendiri secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti “tuan”, orang yang mahir atau berkuasa, kepala, hulu, atau yang paling besar.

Dari penjabaran di atas dijelaskan bahwa perempuan adalah sosok kepala atau sosok yang mampu berkuasa. Harusnya setiap perempuan sadar bahwa ia memiliki karakter yang berbeda dengan laki-laki. Sekalipun laki-laki selalu diartikan sebagai sosok yang tegas, keras dan disiplin. Tapi apakah perempuan tidak bisa seperti laki-laki. Bukan menyerupai laki-laki. Tapi lebih berperan seperti laki-laki harusnya perempuan mampu. Dalam kehidupan berkeluarga perempuan selalu menjadi sosok yang disayang dan dimuliakan. Namun pada kenyataanya hingga saat ini perempuan masih menjadi sosok yang sangat lemah dihadapan laki-laki.

Kesadaran Gerakan Perempuan Awal

Pada tahun 1974, ketika suatu konferensi tentang pengintegrasian perempuan ke dalam ekonomi nasional diselenggarakan di Wesley Collage, dan biro WID (women in development) mulai dibuka di USAID, saat itulah disiplin ilmu baru tercipta. Sebagian besar literatur mereka sangat praktis, memusatkan perhatian kepada isu-isu yang langsung berkenaan dengan bagaimana mendorong partisipasi perempuan dalam program pembangunan. Dan sebagian lainya menganalisis atas program pembangunan masa lalu yang cenderung  memiskinan perempuan, sampai mencari program apa, struktur kelembagaan yang bagaimana, dan berapa banyak sumber daya yang harus disediakan untuk tujuan itu.

Sebenarnya, mengapa perempuan menjadi rendah kedudukannya. Karena sebagian besar perempuan masih mempertahankan budaya patriarki dalam kehidupannya. Dengan mengikuti atau mempertahankan budaya patriarki tersebut, sama halnya mereka tidak menyadari bahwa banyak  hak-hak atas dirinya yang harus diperjuangkan. Banyaknya perempuan yang bekerja rendahan atau bahkan perempuan yang notabannya lulusan SLTP sederajat atau SLTA sederajat, lebih memilih bekerja ke luar kota atau bahkan menjadi TKW di luar negeri. TKI yang keluar negeri hampir sekitar sembilan juta jiwa dan hal tersebut di dominasi kaum perempuan. Padahal jika mereka mau bertahan di negara ataupun di daerahnya masing-masing, tak kurang pekerjaan yang pantas bagi mereka.

Literasi dan Perempuan dan IR 4.0

Di era milenial yang berlabel industri kreatif 4.0 ini, harusnya perempuan lebih leluasa dalam berperan. Memanfaatkan peluang-peluang industri yang semakin beraneka rupa dan tentunya memanfaatkan peran media sosial dalam pemasaran. Jika dirasa memroduksi produk sendiri membutuhkan modal besar. Maka ambilah peluang yang sedang sesak bebal ditawarkan kepada kalian.

Banyak kesempatan yang ditawarkan di era indutri sekarang ini. Kalian yang harusnya kreatif dalam mengembangkan pemikiran di era indutri ini. Salah satu peluang yang bisa diambil perempuan supaya tetap terlihat elegan dan tetap mempertahankan keanggunannya adalah dengan mengembangkan pola pikirnya di bidang literasi.

Literasi  adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Dalam bahasa latin, istilah literasi disebut sebagai literatus, artinya adalah orang yang belajar. Selanjutnya, National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Education Development Center (EDC) juga turut menjabarkan pengertian dari literasi, yakni kemampuan individu menggunakan potensi yang dimilikinya, dan tidak sebatas kemampuan baca tulis saja. UNESCO juga menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Menurut UNESCO, pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman. Kemudian, di dalam kamus online Merriam–Webster, dijelaskan bahwa literasi adalah kemampuan atau kualitas melek aksara, dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan mengenali serta memahami ide-ide secara visual.

Nah, dalam literasi kita juga mengenal istilah literasi media. Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Penutup

Semakin berkembang zaman dan ilmu pengetahun maka perempuan harus melek akan literasi. Belajar dan memperlajari sesuatu yang penting dan perlu. Perempuan wajib belajar di lingkungan formal. Dan menyetarakan pendidikannya dengan laki-laki.

Dengan keyakinan, kecedasan dan kejujuran, perempuan akan sangat membantu berkembangnya NKRI.  Perempuan harus berperan sebagai berikut ; 1.) Perempuan harus berpendidikan dan memilki keterampilan. 2.) Perempuan harus berjuang dalam rangka memerangi kemiskinan. 3.) Perempuan harus dapat berkontribusi secara sosial dan ekonomi.  4.) Perempuan harus mampu memerangi ketidakadilan atas dirinya. Dan yang terahir, 5.) perempuan harus menentang poligami dan perjodohan.

Jangan percaya dengan kalimat klasik, bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi sebab pasti nanti larinya ke dapur. Itu adalah pembodohan untuk perempuan. Maka dengan ini marilah kita sebagai perempuan lets open minded.

One Thought to “GERAKAN PEREMPUAN DI ERA INDUSTRI KREATIF 4.0”

  1. […] GERAKAN PEREMPUAN DI ERA INDUSTRI KREATIF 4.0 — Masyarakat Madani […]

Leave a Comment