SANTRI (MASIH) DIPANDANG SEBELAH MATA

Oleh :

Muhammad Falikhul  Isbah, Wakil Ketua IV PAC. IPNU Kecamatan Singgahan-Tuban, Mahasiswa UNIROW Tuban

 

Santri identik dengan mengaji, hafalan, membaca al-Qur’an dan mengabdi pada kiyai. Seorang santri identik dengan kepolosan karena tidak mengenal dunia luar. Banyak juga yang orang memandang  santri bahkan menganggap santri sebagai kegagalan seorang orang tua tidak dapat mendidik anaknya lagi. Semua anggapan mereka bagi santri hanyalah penyemangat bagi mereka untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, membuat “ocehan” orang-orang menjadi kesungguhan dan membuktikan bahwa seorang santri bukanlah keterpaksaan tapi sebuah pilihan.

Tindakan bukan perkataan, kesungguhan bukan keterpaksaan, pilihan bukannya jalan terakhir. Sebagai seorang santri akan diam saja, bukanya seorang santri tidak berani membantah dengan ocehan-ocehan orang diluar. Tapi, cenderung dengan rendahdiri kepada orang lain dan mencoba bersikap sabar untuk melatih hawanafsu mereka sendiri.

Seorang guru adalah panutan, orang yang tua harus dihormati dan seorang kiyai menjadi panutan dan wajib dihormati. Seorang kiyai pasti mengajari santri bersikap sabar, cenderung menahan diri dan pasti bersikap adapasor kepada siapapun.

Seorang santri cenderung menunduk, tidak memamerkan ilmunya yang sudah didapat dan memberikan ilmu kepada seseorang yang mau  untuk mencarinya dan menerimanya. Ilmu dibagi tidak akan habis malah akan semakin bertambah. Ilmu adalah sumber pengetahuan dari segalanya dan seorang yang mempunyai ilmu derajatnya lebih tinggi daripada mereka yang tidak mau menuntut ilmu.

Benar seorang tidak kerja dan hanya memperoleh uang dari sambangan orang tua. Akan tetapi banyak juga santri yang tidak mendapat uang dari sambangan orang tua mereka dan lebih memilih mengabdi di ndalaem kiyai. Seorang santri mendapatkan ilmu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ilmu agama beda dengan ilmu umum, imu agama bukan hanya berbicara dengan kecerdasan. Tetapi ridho dari kiyai dan barokah dari kiyai.

Jadilah santri yang cerdas dalam segalah hal. Dalam ilmu agama harus menguasai dan ilmu social harus dapat bersaing dengan anak yang sekolah di umum. Santri harus mampu bersaing dalam segala hal. Dalam hal agama ataupun umum. Santr menuntut ilmu sampai mati dan berbagi ilmu sampai disamping sang pencipta.

Leave a Comment