PESANTREN DALAM KUNGKUNGAN PASCA-KOLONIAL

Oleh :

Moh. Syihabuddin,

Direktur Kitasama Stiftung

 

Kondisi pesantren abad 21 M. di Indonesia tidak bisa lepas dari sejarah masa lalunya. Ia merupakan rangkaian masa yang tidak bisa lepas dari masa lalu yang membentuknya.

Saat pesantren tumbuh pada awal kolonialisme Ia merupakan lembaga yang mandiri dan menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial. Ajaran-ajarannya selalu menjadi ancaman bagi Belanda untuk menjajah tanah “suci” Nusantara. Gerak-gerik pesantren menjadi tantangan bagi para penjajah untuk mengambil alih beberapa posisi yang cukup kuat dipegang oleh pesantren.

Namun pada saat menjelang kemerdekaan hingga kemerdekaan Indonesia di proklamasikan pesantren mulai dirasuki oleh ide-ide kolonialisme dalam bentuknya yang baru guna menundukkan pesantren agar patuh dan taat dengan “intruksi” dan “kurikulum” pemerintah kolonial Belanda.

Abad 21 M. merupakan abad postmodern yang merupakan wujud lain dari “kegagalan” modernitas dalam membentuk masyarakat. Alih-alih menciptakan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pertumbuhan, dan mengabadikan perdamaian umat manusia, abad postmodern telah memberikan hal yang sebaliknya dan justru menjadikan masyarakat semakin terperosok ke dalam jurang kesesatan hidup.

Penjajahan Baru terhadap “kekuatan” pesantren

Budaya postmodern adalah bentuk lain yang diperbarui dari kolonialisme (Pasca Kolonial). Ia merupakan wujud dari hegemoni baru terhadap masyarakat pasca negara-negara kolonial “melepaskan-mengajarkan-melahirkan” ide-ide Nasionalisme-Liberalisme-Sosialisme ke seluruh dunia. Dengan jargon baru ini kapitalisme melakukan penjajahan dalam bentuknya yang baru dan lain dari sebelumnya.

Dalam wujudnya untuk mengendalikan pesantren sebagai lawan yang cukup kuat bagi pemerintah kolonial lahirlah berbagai strategi untuk melemahkan pesantren itu sendiri. Tujuannya adalah melumpuhkan pesantren dari dalam dan menjadi kekuatan yang “ompong” dan bermental krupuk.

Salah satu strategi yang paling ampuh dalam melumpuhkan pesantren adalah melakukan penetrasi terhadap kurikulum pesantren menjadi kurikulum “kolonial”. Pemerintah kolonial Belanda memasukkan kurikulum sekuler ke dalam pesantren, (dengan catatan) yang mau menerima bantuan dari pemerintah kolonial.

Pada saat menerima bantuan (baik gaji bagi gurunya, bangunan fisik, atau keuangan) dari pemerintah kolonial inilah Pesantren dianggap sebagai lembaga yang kolot, mengalami kemunduran yang sangat signifikan, jumud, terbelakang, dan memerlukan pembaharuan dalam pengajaran. Pesanren memerlukan kurikulum dari pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk memperbarui “otak-pemikiran” pesantren agar lebih beradab.

Bencana bagi Pesantren

Bencana bagi pesantren yang paling tragis adalah dirasukinya ide-ide Pasca-Kolonialis sehingga kemandiriannya telah hilang dan tidak memiliki jiwa kritis. Jiwa kritis dan aktif (melakukan perlawanan ide dan fisik) telah dikalahkan oleh gagasan pasca-kolonialis.

Keberhasilan dari ide-ide pasca kolonialis ini adalah menjadikan Pesantren tidak memiliki pengetahuan tentang sumberdaya alam, keanekaragaman budaya, dan nasionalisme. Pesantren tidak lagi kritis dan tidak lagi menjadi santri yang kaya akan pengetahuan tentang kecintaan terhadap negara dan tanah air. Tidak ada di pesantren yang mengajarkan tentang kekayaan alam Indonesia, nasionalisme, atau tentang pertahanan diri lagi. Semua semakin dikerdilkan dengan pengajaran fiqih dan nahwu-shorof.

Di pesantren, orang yang ahli dalam Gramatika Arab (nahwu-shorof) dan jurespudensi (hanya fiqih ibadah) adalah paling orang cerdas, orang yang paling pintar, orang yang berilmu tinggi dan orang yang sangat dimuliakan. Kondisi ini merupakan ciptaan pemerintah kolonial, yang mengharapkan para kader-kader pesantren hanya memahami fiqih (ibadah saja) dan hanya fokus pada sastra.

Hasilnya, menciptakan masyarakat pesantren sebagai orang yang primitif, kuno, terbelakang, dan tidak mampu memberikan ide-ide modernisme. Orang pesantren dianggap sebagai manusia kolot dan tua, tidak memiliki kemampuan dalam melakukan perubahan dan tidak mampu membentuk “kemandirian” pemikiran.

Tidak salah jika kemudian hari ini (di zaman postmodern) pesantren dikalahkan oleh lembaga yang lain, karena memang sengaja dibuat kalah oleh pemerintah kolonial sebelum terjadinya kemerdekaan di bumi Nusantara dan menjadikan (hampir) semua pesantren terlihat kerdil-terbelakang.

Selain itu dengan masukanya ide-ide pasca-kolonialis lahirlah beberapa wacana yang menekankan tradisi pesantren dan lokalitas sebagai sebuah keterbelakangan dan memunculkan ide-ide baru berupa tradisi globalisasi. Arahnya pun menjadi jelas, yaitu menciptakan Indonesia tetap mengalami keterbelakangan dan menjadi negara yang berkembang-tidak maju (karena pesantren).

Solusinya…

Menghadapi tekanan kondisi postmodernisme-pasca kololonialis ini diperlukan sebuah solusi yang mampu menumbuhkan kembali jiwa kritis dan “perlawanan” pesantren terhadap segala hal yang merusak identitas Islam dan eksistensi pribumi. Yakni dengan cara menekankan jangkar Islam Nusantara agar menjadi kekuatan yang terus dipelihara. Caranya :

  1. Tarekat, semua kaum pesantren dan santri harus bertarekat yang benar dengan Guru yang Maksum. Mempunyai ilmu dzikir yang asli dan mampu mengamalkannya secara konsisten.
  2. Pesantren, tetap eksis dengan kurikulum baru yang tidak terpengaruh dengan kebijakan-kebijkan kurikulm pasca kolonial. Terus melakukan pembaharuan dan terus melakukan jejaring antar pengasuh.
  3. Makam, terus dipelihara dengan cara melakukan ziarah secara rutin dan menjadikan sebagai simbol untuk mengenang sejarah para leluhur.
  4. Tradisi, senantiasa dipelihara dengan rutin dijalani dan terus dilakukan peningkatan-peningkatan intensifitasnya.
  5. Kitab Kuning, harus terus dikaji dan tidak hanya fokus pada ilmu-ilmu alat dan hukum fiqih saja, namun harus berani mulai masuk pada ilmu politik, kedokteran dan bidang kritis lainnya, termasuk filsafat.

3 Thoughts to “PESANTREN DALAM KUNGKUNGAN PASCA-KOLONIAL”

  1. Asy'ari

    Bagus artikelnya…. Sebagai tambahan literasi yang mencerdaskan umat. Lanjutkan!

    1. admin

      semoga bisa memberikan pencerahan bagi semua santri di Indonesia untuk kembali bangkit

  2. Faiz khaibar

    Artikel sangat membantu mengingatkan pada masa dipondok meskipun saya hanya mondok 17 hari waktu mondok romadhon.
    Memang ada apa dengan pesantren sampai sampai pemerintah meminta bantua dan solusi ktk menghadapi masalah?

Leave a Comment