STRATEGI KEBUDAYAA ISLAM: Dari Imanensi Menembus Transendensi, dan Upaya Mengendalikan Gonjang-Ganjing Dunia  

Oleh :

Moh. Syihabuddin 

 

PENGANTAR

Kota itu telah musnah, menghadapi gelombang kemarahan alam yang mengerihkan. Penduduknya kaget menjadi batu dan patung yang tidak lagi bergerak. Sangat jelas, patung-patung itu menghadapi sebuah kepanikan yang cukup besar hingga bentuknya menyerupai orang-orang yang sedang ketakutan. Dibagian kota lain, patung-patung manusia bergelimpangan, jatuh dan tersungkur seolah dihantam oleh banjir atau asap yang mematikan. Sisa-sisa bangunan kota, kekayaan yang dimiliki penduduknya, dan sebagaian harta yang menjadi timbunan para konglomeratnya terkubur dalam gundukan tanah. Para arkeolog kontemporer berusaha keras untuk menggali sisa-sisa peradaban yang pernah ada di tanah Eropa itu, agar bisa menemukan apa yang menyebabkan kehancuran sebuah kota. Itulah gambaran singkat mengenahi kehancuran kota Pompeii. Sebuah kota yang kaya raya dan bergelimpangan harta yang pernah dimiliki oleh kerajaan Roma. Dengan kekayaannya dan kekuasaan yang dibangunnya Pompeii tidak mampu menahan laju kehancuran yang ditimbulkan oleh alam.

Mungkin Pompeii adalah contoh sebagian kecil sisa-sisa peradaban yang dimusnahkan namun tetap abadi dan menjadi bukti sejarah umat manusia. Lebih jauh ke Timur, banyak dijumpai peradaban yang bernasib sama dengan kota Pompeii. Apa yang sekarang dijumpai di Mesir, Libanon, Kashmir-Pakistan, dan Babilonia, berupa bangunan-bangunan kuno megah yang berdiri kokoh, mencengkram gunung, menggigit tanah, dan menjulang menerobos langit, tidak lain adalah sebuah bukti nyata bahwa dahulu pernah ada suatu peradaban yang dimusnahkan dan telah hancur menamatkan riwayatnya. Kisah-kisah dalam al-Qur’an mengenahi bangsa ‘Ad, Sodom dan Tsamud, yang juga dibuktikan oleh cerita-cerita rakyat yang telah tersebar di kawasan tersebut membuktikan bahwa pernah ada sebuah peradaban yang tinggi dan memiliki kebudayaan yang tinggi pula, telah hancur dan tidak bisa bangkit kembali. Seluruh penduduknya mati mengenaskan tak tersisa satupun, akan tetapi bukti-bukti keberadaan mereka tetap ada agar menjadi pelajaran bagi bangsa-bangsa sesudahnya.

Musnah dan hancurnya sebuah peradaban tidak lain karena ada yang salah dengan kebudayaan yang dibangunnya. Kesalahan itulah yang mendorong manusia untuk semakin memperlakukan alam dengan seenaknya sendiri dan kemudian menimbulkan kemarahan alam yang tak terhindarkan. Lalu lahir berbagai bencana yang dewasa ini memliki nama-nama yang beraneka ragam, mulai dari Tsunami, Katrina, Tornado, Puting Beliuang, dan lain-lain. Jika alam sudah marah dan tidak lagi bisa diajak kerjasama maka disitulah teknologi manusia tidak lagi berlaku. Gedung-gedung yang berdiri kokoh, strategi menanggulangi bencana, bangunan pencakar langit, kendaraan anti bencana dan ilmu pengetahuan alam tidak akan bisa menjawab dan menghentikan kemarahan alam.

Sepanjang sejarah peradaban umat manusia kehancuran yang diakibatkan oleh alam akan mengakhiri riwayat peradaban itu, sedangkan kehancuran yang ditimbulkan oleh peperangan masih tetap akan melahirkan peradaban baru yang lebih kondunsif, bahkan terkadang menciptakan peradaban baru yang akan mengakhiri peperangan di masa mendatang. Artinya bahwa kehancuran yang diakibatkan oleh alam cenderung lebih dasyat dan lebih berpotensi menghilangkan kehidupan yang pernah ada. Kehancuran tersebut seolah mengandung kekuatan yang berada diluar jangkauan manusia, tidak mampu dinalar oleh keterbatasan manusia, dan tidak bisa ditembus oleh teknologi manusia. Berangkat dari pengalaman itulah kemudian para pemikir (baik di Barat maupun di Timur) membagi dunia menjadi dua bagian, ada yang mampu dijangkau oleh akal-indera manusia dan ada yang tidak mampu dijangkau oleh akal-indera manusia atau sering disebut dengan dunia ghaib.

Islam sebagai agama terakhir, yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai agama rahmat bagi seluruh alam telah menyediakan konsep yang lengkap mengenahi dua dunia tersebut, sebelum para pakar-pakar kontemporer-Barat membagi dunia fenomena dan numena. Tidak hanya itu, Islam juga menyediakan langkah-langkah kongkret yang harus dilakukan oleh manusia untuk menciptakan peradabannya, sehingga tidak lagi perlu mengulang apa yang pernah menimpa bangsa-bangsa terdahulu. Kehancuran peradaban akibat bencana alam tidak lain adalah akibat dari kesalahan strategi kebudayaan manusia dalam menciptakan peradabannya. Strategi itu nampak membangun, akan tetapi justru menggiring pada titik-titik jalan kehancuran. Alih-alih membangun untuk keabadaian, strategi kebudayaan yang salah menggiring manusia pada kehancuran yang nyata. Oleh karena itu supaya kesalahan itu tidak lagi terjadi Islam telah memberikan strategi kebudayaan yang cocok untuk setiap tempat dan waktu, yang dengan jelas akan mendamaikan dua dunia (dunia nyata dan dunia ghaib) agar mengalami keserasian dan irama kehidupan yang menentramkan.

 

MANUSIA MODERN DAN DUNIA IMANENSI

 

Sejak dulu kala, yakni sejak manusia hadir dalam kehidupan di dunia ini selalu dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tampak dan yang tidak tampak. Yang tampak senantiasa diselesaikan dengan cara-cara fisik yang melibatkan lima indera manusia, mata, telinga, lisan, hidung dan kulit. Sedangkan untuk yang tidak nampak manusia menyelesaikannya dengan mata batin yang seringkali disebut sebagai indera keenam. Dengan demikian yang nampak akan menciptakan kegiatan yang bersifat fisik; pengamatan, melihat dan terlibat secara fisik; mendorong adanya kerja nyata melibatkan peran tangan, kaki, dan tubuh secara keseluruhan. Adanya hujan, badai, letusan gunung, angin topan, ombak besar, dan berbagai kejadian alam lainnya yang disinyalir mampu melahirkan kerusakan pada alam yang ditempati oleh manusia akan mendorong akal pikiran manusia untuk membangun sebuah tempat berlindung; rumah, gedung, benteng, dan bahkan bangker. Kegiatan pembangunan inilah yang kemudian akan menciptakan berbagai ilmu pengetahuan yang berurusan dengan alam yang dipadukan dengan jalan berfikir akal manusia.

Dewasa ini, dimulai sejak Inggris melakukan revolusi industri di abad 16 M. upaya manusia untuk menyikapi alam dan menciptakan pengetahuan yang bisa mengelolah dan mengendalikan alam telah berkembang dengan pesat. Berbagai penjelajahan ke seluruh penjuru dunia dilakukan dalam upaya untuk mencari yang baru, menemukan yang belum ditemukan, dan melahirkan apa yang belum pernah ada. Hal itu juga didukung oleh adanya universitas-universitas yang didirikan, laboratorium yang dibentuk, dan bengkel-bengkel yang dibangun sebagai lahan subur untuk menanam pengetahuan dan menggali penemuan-penemuan baru.

Upaya-upaya tersebut pun sukses dan menuai hasil yang cukup menggembirakan bagi kehidupan manusia. Apa yang diinginkan oleh manusia dengan pembangunan, pertumbuhan, dan kekayaan telah tercapai dengan mudah, khususnya bagi negara-negara maju. Ilmu pengetahuan tersebut telah menciptakan tata kota yang rapi, transportasi yang lebih ringan dan mudah, komunikasi yang lebih cepat, dan kebutuhan hidup yang lebih lengkap. Apa yang ditampilkan dalam pembangunan kota-kota masa depan seperti New York, Tokyo, London, Paris, Munich, Shanghai, Hongkong, Singapura, dan yang terbaru; Dubai, Abu Dhabi dan Doha—dan masih banyak lagi—tidak lain merupakan hasil dari upaya-upaya empiris manusia yang melahirkan ilmu pengetahuan alam.

Inilah kesuksesan manusia selama lima abad terakhir ini, yang sukses mengentas zaman pertengahan menuju zaman modern dengan ilmu pengetahuan modern. Kesuksesan ini tidak lain merupakan kesuksesan manusia dalam menyikapi dunia yang nampak, dunia yang bisa diamati, didengar, dilihat dan dirasakan. Dan yang nampak inilah yang disebut dengan Imanensi. Yakni dunia yang bisa dirasakan, dilihat, dan didengar oleh lima indera manusia.

Dalam dunia Imanensi-nya manusia modern saat ini nampaknya menikmati dan merasakan hasilnya, pembangunan dan pertumbuhan. Kota-kota ideal Eropa, pembangunan yang berkesinambungan ala Amerika, dan pemerataan kekayaan hasil dari eksploitasi alam ala Spanyol berkembang pesat di semua negeri di dunia ini. Bahkan untuk negeri-negeri yang belum merasakan hasil tersebut segera mendapatkan transfer pengetahuan dari negera yang sudah mendapatkannya. Hal itu dilakukan tidak lain sebagai upaya untuk menciptakan dunia yang lebih beradab dan pemerataan kesejahteraan di seluruh umat manusia.

Keasyikan manusia dalam bergelut dengan pengetahuannya, menciptakan gagasan-gagasan baru, mendorong penelitian dan penemuan, serta berkerja keras memecah otaknya agar melahirkan pemikiran yang inovatif menjadi seacam candu bagi manusia modern dewasa ini. Manusia terlena dan silau dengan kemajuan yang dicapai oleh kerja keras akalnya. Sehingga yang diciptakan oleh ilmu pengetahuan tidak lagi sebatas kebutuhan untuk hidup dan bertahan hidup saja, namun mulai masuk keranah keinginan, kepuasan, kenikmatan, dan hiburan-hiburan yang kering spiritualitas. Apa yang dulunya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, dan membangun kenyamanan yang lebih sesuai ternyata jauh melampaui apa yang dulunya dibayangkan oleh manusia. Dengan melimpah ruahnya penemuan dan pengembagan ilmu pengetahuan kebutuhan manusia modern tidak lagi sebatas sandang-pangan-papan sebagai kebutuhan primer, tapi sudah memasuki ke wilayah hiburan-kesenangan-foya-foya. Dengan demikian dalam dunia Imanensi tersebut manusia modern sukses melampaui apa yang diinginkannya, yang dalam perkembangannya diartikan sebagai lompatan besar peradaban.

Kesuksesan menyikapi dunia Imanensi ini membuat manusia semakin melupakan dunia yang tidak nampak, dunia Transendensi, yakni dunia dimana indera manusia tidak lagi mampu menjangkau keberadaannya. Dunia ini secara kongkret memang tidak nampak, namun ia ada dan bersama dengan kehidupan manusia. Ketidaknampaan dunia Transendensi mengakibatkan manusia semakin melupakannya, karena dianggap tidak cocok dengan kebutuhan manusia modern. Sehingga yang dibangun lebih intensif adalah dunia Imanensi, karena lebih bisa dirasakan dan lebih bisa menciptakan apa yang dibutuhkan oleh manusia.

 

SUBSTANSIALISME DAN KESOMBONGAN MANUSIA

 

Menurut van Peursen apa yang dilakukan oleh manusia modern dewasa ini yang terlalu intensif terhadap dunia Imanensi merupakan cara berfikir Substansialisme. Yakni cara berfikir yang sudah jauh meninggalkan cara berfikir mistis dan cara berfikir Ontologis. Cara berfikir Substansialis tidak lagi bersikap menyatu, damai, dan berirama dengan dunia Transenden. Ia lebih fokus menciptakan kebebasan dan kenikmatan dalam dunia Imanensi, karena hanya mendekat dengan dunia Imanensi manusia jauh lebih bisa mendapatkan kenikmatan dan kehidupan yang sebenarnya, dari pada harus berurusan dengan yang Transenden, yang tidak nampak. Bagi para pemikir substansialis, justru yang Transenden inilah yang menyebabkan kebobrokan dan stagnasi kebudayaan manusia. Manusia semakin bodoh, semakin terjerumus dalam mitos-mitos yang menyesatkan, dan kurang bisa melakukan kreasi berfikir sebagai manusia yang sesungguhnya.

Manusia modern saat ini, yang sangat Substansialis sangat anti terhadap cara mistis dan Ontologis. Cara berfikir mistis dianggap sebagai cara berfikir masyarakat primitif yang hidup pada zaman batu hingga zaman logam. Karena dianggap terlalu buta dengan fenomena yang hadir dalam kehidupan manusia. Cara berfikir mistis berupaya melakukan penyatuan manusia dengan alam, dengan kekuatan-kekutan ghaib, dan dengan totalitas masuk ke dalam dunia transenden. Unsur-unsur ketakutannya terhadap hal-hal yang ghaib semakin nampak dan semakin terlihat dalam gaya hidup yang dijalaninya. Sehingga cara kerja nyatanya lebih banyak dihabiskan dalam membangun kebudayaan untuk eksistensi Tuhan. Diantaranya membangun Kuil, gereja, masjid, stupa, totem, dan lain-lain.

Orang-orang mistis mengalami traumatis terhadap bencana alam yang pernah ada, kelaparan, kekeringan, hujan lebat, gunung meletus, dan bencana-bencana lainnya. Bencana-bencana tersebut dianggap sebagai bagian dari kemarahan alam yang kurang mendapatkan pelayanan yang semestinya dari manusia, sehingga menimbulkan kemarahan dan kerusakan terhadapa apa yang dilakukan oleh manusia. Mereka pun cenderung lebih banyak melakukan pengorbanan, persembahan, serta korban untuk dihidangkan dihadapan alam. Berbagai kepercayaan yang masih primitif yang pernah ada menyakini bahwa alam ini dikendalikan oleh para dewa, dimana dewa-dewa ini membutuhkan kasih dan sayang dari manusia. jika manusia mampu menyenangkan para dewa penunggu alam maka para dewa akan menjaga kelestarian alam, keserasian musim, serta ketenangan hidup. Cara befikir mistis nampak dijumpai pada masyarakat yang memiliki kepercayaan politheis. Mereka menyembah banyak kekutan ghaib yang mengendalikan alam dengan berbagai banyak ragamnya, sehingga mempunyai tiga dewa pokok yang membawahi dewa-dewa sekunder; dewa pencipta, dewa penghancur, dan dewa keserasian. Disini jelas, bahwa manusia mistis cenderung menjadi objek bagi alam.

Cara berfikir mistis inilah yang sangat dijauhi oleh manusia modern yang Substansialis. Karena terlalu menampilkan sisi-sisi yang tidak dijangkau oleh indera manusia serta kurang memeperhatikan sisi-sisi yang nampak oleh indera manusia.

 

 

 

 

 

 

Alam sebagai Subyek

 

 

 

Demikian pula cara berfikir Ontologis, ia juga lebih meningtensifkan dirinya bergelut dengan dunia transenden, kendati tidak terlalu menyatukan dirinya dengan alam seperti cara berfikir mistis. Cara berfikir Ontologis tidak dihinggapi oleh ketakutan ketakutan-ketakutan terhadap fenomena bencana alam seperti orang-orang mistis, tapi ia lebih mendamaikan diri dan menganggap bahwa hal-hal yang ghaib adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani oleh manusia. cara berfikir Ontologis berusaha menyatukan antara dunia imanensi dan dunia transendensi agar terjadi keserasian dan keseimbangan alam yang bisa rasakan oleh manusia.

Cara berfikir Ontologis menciptakan seperangkat pemikiran dan tindakan nyata atas rasa cinta terhadap alam, bersikap dan bekerja langsung bersama alam, dan membangun alam sesuai dengan kebutuhan hidup manusia. Manusia Ontologis cenderung bangga dengan dunianya yang tidak nampak, yang transenden, karena yang tidak nampak itu pada hakekatnya yang nampak dan harus disatukan dengan sesuatu yang nampak; dimana yang nampak itu pada hakekatnya tidak nampak dan akan musnah. Manusia ontologis menyakini bahwa segala bencana alam yang terjadi bukanlah kemarahan yang timbul dari kekuatan-kekuatan ghaib, tapi lebih pada perilaku manusia yang kurang memperhatikan alam dengan gerak kosmisnya. Perilaku yang sewenang-wenang terhadap alam yang imanen dan tidak menjaga kelestariannya jelas menjadikan ketidakseimbangan terhadap dunia yang transenden. Karena ibarat dunia sisi mata uang, kerusakan alam dalam dunia imanen akan berakibat pada kerusakan terhadap dunia transenden. dan dengan sendirinya akan menciptakan kerusakan terhadap dunia imanensi yang dialami oleh manusia.

Cara berfikir ontologis juga menyakini bahwa yang Imanen akan mengalami kerusakan dan kehancuran, sedangkan yang transeden tetap akan abadi dan tidak mengalami kerusakan. Akan tetapi karena keduanya menyatu dan tak terpisahkan maka kerusakan diantaranya akan menimbulkan kerusakan diantaranya pula. Hanya saja yang transenden tidak akan musnah sedangkan yang imanen akan musnah. Untuk itulah manusia ontologis cenderung berdamai dengan alam dan menciptakan keserasian hidupnya menyatu dengan alam. Tidak menyatu dalam artian pasif, tapi aktif memberikan pelayanan dan membangun sesuai dengan kaidah-kaidah kemakmuran sebatas yang dibutuhkan oleh manusia. Dengan demikian manusia dan alam sama-sama memposisikan sebagai obyek dan terkadang sama-sama menjadi subyek. Dan cara berfikir ini nampak dijumpai dalam kepercayaan monotheis.

Namun cara berfikir Ontologis ini bagi manusia modern dewasa ini masih dianggap kurang mampu menjadikan kebudayaan manusia menciptakan dunia yang sesungguhnya karena masih melibatkan sesuatu yang tidak nampak dalam dunia yang nampak.

 

 

 

 

Alam

 

 

 

 

 

Adapun cara berfikir masyarakat modern saat ini adalah cara berfikir Substansialis, yang sudah memandang bahwa alam adalah obyek bagi manusia. Dengan demikian manusia bebas untuk memberlakukan alam sesuai dengan keinginannya, sesuai dengan harapannya, dan sesuai dengan apa yang menjadi cita-citanya. Manusia Substansialis cenderung memberlakukan alam sebagai bahan bagi manusia untuk dieksploitasi, dihisap, direkayasa, dan bahkan dibentuk untuk membentuk alam yang baru. Disini unsur transenden benar-benar hilang dan tidak memiliki peran apapun dalam kehidupan manusia. Karena bagi manusia substansialis yang imanen-lah yang sebenarnya kehidupan yang harus dijalani oleh manusia. Dan dalam dunia tersebut manusia bebas untuk melakukan berbagai hal terhadap apa yang ada di alam semesta ini. Apa yang transenden bagi manusia substansialisme hanya sebuah kehidupan yang tidak nampak dan bukan merupakan kehidupan manusia sehingga tidak memerlukan perhatian yang serius.

Cara berfikir substansialis jelas meniadakan unsur transendensi dan lebih mengedepankan unsur-unsur imanensi. Mereka beranggapan bahwa fenomena yang ada merupakan bentuk murni yang diciptakan oleh kehidupan dalam dunia Imanensi, baik itu keserasian maupun kerusakan. Peran untuk transendensi tidak ada sama sekali, ia hanya sisi lain yang jauh dari kehidupan manusia yang sebenarnya dan bukan sisi yang harus dihadapi oleh manusia. Karena pada kenyataannya dunia transendensi tidak nampak oleh indera dan secara empiris tidak pernah bisa dibuktikan. Sehingga untuk menjawab berbagai kerusakan dan bencana yang pernah terjadi hanya bisa diselesaikan dengan cara ilmiah dan oleh ilmu pengetahuan modern (sains). Dengan cara berfikir Substansialis inilah manusia modern mengklaim mampu melahirkan peradaban modern yang jauh melampaui apa yang pernah dicapai oleh manusia sebelumnya. Berbagai ilmu pengetahuan lahir dari upaya berfikir ini sehingga memungkinkan manusia bisa menciptakan peradaban yang lebih maju dari pada zaman dahulu.

Karena itulah manusia modern melakukan berbagai kegiatan ilmiah yang intensif, memberlakukan alam sebagai obyek yang harus dikelolah oleh manusia secara maksimal, tanpa harus memperhatikan dampak kerusakan yang akan terjadi. Tidak salah jika kemudian yang hadir adalah korporasi-korporasi berbasis eksploitasi alam menyebar secara merata diberbagai belahan dunia. Disinilah manusia seolah menantang alam untuk memperebutkan siapa diantaranya yang mampu menaklukkan, alam atau manusia. Dan dalam konteks dewasa ini manusia modern merasa mampu menaklukkan alam dan mengalahkan berbagai bencana yang ditimbulkannya. Dengan demikian manusia substansialisme merasa perkasa dihadapan alam yang tidak lain merasa perkasa pula dihadapan yang transenden.

Ketidakadanya unsur transendensi dalam cara berfikir Substansialisme mengakibatkan kegiatan-kegiatan pemujaan terhadap kekuatan adi luhur, yang kuasa, dan kekuatan ghaib tidak ada. Apa yang dianggap transenden bukanlah bagian dari kehidupan nyata. Yang transenden harus tiada dalam kehidupan yang imanen, karena menyatukannya akan menghambat laju kemajuan dan laju pertumbuhan. Sedikit saja menyatukan unsur yang transenden dalam kehidupan yang imanen akan berakibat pada stagnasi berfikir dan pada gilirannya akan mengembalikan cara hidup peradaban manusia yang dijalani oleh orang-orang zaman mistis dan ontologis.

 

 

 

 

 

 

Manusia sebagai Subyek

 

 

 

Lebih tragisnya, dan saat ini lebih nampak terlihat dalam kehidupan progresif manusia modern, cara berfikir Substansialisme menggiring manusia menganggap alam bukan bagian dari dirinya. Setelah dihisap dan digunakan maka alam akan dibiarkan terbengkelai dan terpisah dari kehidupan nyata. Dalam hal ini poisis alam benar-benar bukan bagian dari manusia, yang artinya bahwa manusia tidak lagi berhubungan dengan yang transenden, memisahkan diri darinya dan tidak membutuhkan keberadaannya sebagai mana yang ada, walaupun ia memang ada. Bentuk alam pikiran yang Substansialisme inilah yang jamak dijumpai pada masyarakat modern sekarang yang sekuleris. Keberadaan Tuhan benar-benar tidak ada dalam kehidupan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada posisi alam pikiran Substansialisme ini manusia cenderung sombong terhadap alam. Upaya-upaya penggalian pengetahuan dan penelitian ilmiah menjadi landasan utama modal mereka untuk menaklukkan alam. Dalam setiap kehidupannya manusia lebih memilih jalan pencarian pengetahuan yang sepuas-puasnya hingga mencapai titik yang tidak bisa dicapai lagi oleh jalan pikirannya. Pencapaian pengetahuan saat ini adalah wajah masa depan umat manusia yang akan menjadi pergulatan hidup sepanjang masa. Tidak salah jika kemudian manusia modern semakin merajalela dalam melakukan eksploitasi alam, karena alam bukanlah bagian dari dirinya dan bahkan bagian yang asing dari dirinya.

 

PENUTUP

 

Menurut Malik Barnabi syarat sebuah kebudayaan bisa berdiri harus memenuhi tiga unsur; tanah, manusia, dan waktu. Selama tiga unsur ini bisa berdiri tegak maka kebudayaan manusia bisa tumbuh dan berkembang. Namun untuk berkembang menjadi kebudayaan yang menciptakan peradaban manusia yang rahmat bagi seluruh alam tentunya membutuhkan sebuah konsep mantap yang mampu mengokohkan peradaban tersebut. Sesuai dengan pemikiran van Peursen, maka alam pikiran Ontologis merupakan strategis yang sangat sesuai dengan konsep Islam mengenahi ummat dan baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

Alam pikiran Ontologis yang terbentuk dengan cara mendamaikan dunia Imanensi yang nampak dalam kehidupan manusia, dengan dunia transendensi yang tidak nampak akan melahirkan keserasian hidup bagi umat manusia. Sebagaimana sejarah bangsa-bangsa yang pernah ada, kehancuran sebuah peradaban manusi tidak lain karena kegagalan manusia dalam mendamaikan sisi imanensi dan sisi transendensi. Bagaimana pun kuatnya sebuah bangsa yang meniadakan transendensi dalam nilai-nilai kehidupannya bisa dipastikan tidak akan lama lagi akan runtuh dan mengalami kehancuran.

Sebagai homoreligeus manusia memiliki kecenderungan yang pasti akan kehadiran dzat yang maha tinggi yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia. Hanya menyembah dan merendahkan diri dihadapan sang maha Tinggi, yang transenden-lah manusia akan mampu mengokohkan dirinya berdiri dalam lingkaran kehidupan yang serba penuh tantangan. Dengan demikian, kapanpun manusia tidak akan bisa secara fitrah untuk melepaskan dirinya dari dunia transendensi. Dunia imanensi hanyalah sebuah cermin dari keberadaan dunia transendensi. Untuk menghasilkan hasil cerminan yang baik tentunya harus memperindah sisi keberadaan transendensi.

Wallahu’alam bisshowaf.   

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aiken, Henry, D. Abad Ideologi. Jogjakarta: Bentang. 2002.

Armstrong, Karen. Masa Depan Tuhan; Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan Atheisme. Bandung: Mizan. 2011.

Davies, Paul. Membaca Pikiran Tuhan: Dasar-Dasar Ilmiah dalam Dunia yang Rasional. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

Eliade, Mircea. Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah. Jogjakarta: Ikon. 2002.

Miller, L. (ed). God and Reason; A Historical Approach to Philosophical Theology. New York: The Macmillan Company. 1972.

Perry, Marvin. Peradaban Barat: Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan. Jogjakarta: Kreasi Wacana. 2012.

Peursen, Cornelis Anthonie van. Strategi Kebudayaan. Jogjakarta: Kanisius.

Syihab, Usman. Membangun Peradaban Dengan Agama. Jakarta: Dian Rakyat. 2010.

Sontag, Frederick. Pengantar Metafisika. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

 

Leave a Comment